Rupiah Alami Tekanan dari Dolar AS di Hari Pertama RDG BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengawali perdagangan Rabu (18/2/2026) dengan terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,19% dan berada di posisi Rp 16.869 per US$.
Pelemahan rupiah terjadi di hari pertama Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Rencananya RDG BI untuk Februari 2026 digelar 18-19 Februari 2026.
Hampir seluruh mata uang bergerak melemah terhadap dolar AS. Mata uang dua negara mitra dagang Indonesia, China dan India terdepresiasi terhadap dolar AS. Yuan China melemah -0,05% dan rupee India melemah -0,03%.
Baca Juga
Selain itu, yen Jepang juga melemah sebesar -0,16%. Pelemahan juga diikuti euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya. Euro dan poundsterling masing-masing melemah -0,08%. Di kawasan Asia Tenggara, dolar Singapura dan peso Filipina juga melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah -0,01% dan peso Filipina melemah -0,11%. Sementara itu, ringgit Malaysia dan baht Thailand menguat terhadap dolar AS. Ringgit menguat 0,23% dan baht menguat 0,08%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tetap berada di bawah ambang 4,05%, level terendah dalam lebih dari dua bulan. Kondisi ini di tengah prospek yang tidak pasti untuk aset berisiko dan ekspektasi yang semakin menguat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini.
Data inflasi terbaru menunjukkan pertumbuhan harga utama sedikit di bawah ekspektasi, membuka peluang bagi bank sentral AS untuk kembali melonggarkan kebijakan moneter pada paruh kedua tahun ini. Permintaan obligasi juga didukung oleh aksi jual di sektor saham berisiko dengan valuasi tinggi, seiring ketidakpastian terkait disrupsi AI dalam perekonomian AS yang mendorong pasar beralih ke posisi yang lebih spekulatif.
Baca Juga
Selain itu, ketidakpastian masih membayangi potensi perubahan pada neraca The Fed menjelang kepemimpinan Kevin Warsh sebagai Ketua pada bulan Mei. Ketua yang akan datang tersebut sebelumnya dikenal menentang pembelian aset, namun baru-baru ini mengisyaratkan kesediaannya untuk berkoordinasi dengan Departemen Keuangan guna menekan imbal hasil.
The Federal Reserve akan merilis risalah rapat terakhirnya, yang menunjukkan jeda dalam siklus penurunan suku bunga. AS juga akan merilis data PDB kuartal IV serta laporan terbaru mengenai pendapatan dan pengeluaran. Sementara itu, Purchasing Manager Index (PMI) Eropa akan memberikan gambaran mengenai indikator awal bagi ekonomi terbesar di kawasan tersebut.

