Keren! BNI Targetkan Kurangi Emisi Karbon Operasional Lebih Cepat di 2028
JAKARTA, Investortrust.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk punya kinerja apik dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Tengok Kapitalisasi Pasar emiten berkode BBNI ini yang meningkat dari sekitar Rp 70 triliun tahun 2020, melesat menjadi Rp 199 triliun di tahun 2023.
Setidaknya dari peningkatan kapitalisasi pasar ini kita bisa menilai pertumbuhan nilai yang dialami bank yang berdiri pada 5 Juli 1946 ini. BNI yang sejatinya sempat menjalankan peran sebagai bank sentral di era awal-awal kemerdekaan ini juga dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor, sekaligus meningkatkan likuiditasnya di bursa saham, dan bisa diartikan bahwa BNI mampu memperoleh peluang lebih besar untuk pembiayaan dan pertumbuhan melalui investasi atau akuisisi.
Sedikit soal kinerja keuangannya, BNI juga tercatat sebagai salah satu bank yang mampu mencetak pertumbuhan laba double digit di kuartal III-2023. Disampaikan Direktur Utama BBNI Royke Tumilaar, laba bersih perseroan tercatat Rp 15,75 triliun, melonjak 15,05% dibanding kuartal III-2022 yang sebesar Rp 13,69 triliun.
Namun ada capaian dari Perseroan yang juga cukup mentereng, yakni dalam upaya Perseroan mengejar target pencapaian pengurangan emisi karbon operasional yang lebih cepat dari yang ditargetkan pemerintah. BBNI mematok pengurangan emisi karbon sebesar 29% di operasional bisa dicapai tahun 2028, dibandingkan target yang ditetapkan pemerintah paling lambat tahun 2030.
Disampaikan Direktur Risk Management BNI David Pirzada, Perusahaan telah menyusun framework dan juga roadmap pelaksanaan Environmental, Social and Governance (ESG) yang di dalamnya dicanangkan target pengurangan emisi karbon operasional sebesar 29% pada tahun 2028.
Tekan Emisi Operasional
“Net Zero Emission Roadmap ini sesuai dengan target pemerintahan juga. Untuk yang operasional itu kita targetkan di tahun 2028, lebih cepat dibandingkan target pemerintah di 2030,” ujar David dalam kesempatan BNIYear End Executive Chief Editor Gathering 2023,di Jakarta, Rabu (20/12/2023).
Untuk mempertegas komitmen dan menjamin pelaksanaan ESG secara komprehensif, BNI, lanjut David membentuk tim tersendiri, berupa subkomite ESG. Selain BBNI juga membentuk departemen manajemen ESG, yang kemudian membawahi sejumlah unit khusus yang salah satunya bertugas mencari peluang pendanaan untuk sektor energi baru dan terbarukan.
“Sebenarnya perjalanan ESG ini sudah cukup lama sekali, Sejak 2016-2017. BNI itu salah satu pionir dalam perpelaksanaan ESG di Indonesia,” tuturnya.
Salah satu upaya menekan emisi karbon dalam operasional Perusahaan, dengan mengurangi penggunaan solar dan menghitung ulang penggunaan listrik di seluruh kantor BNI. Salah satu langkah pengurangan emisi lainnya yang dimasukkan dalam peta jalan net zero emission BNI, dengan mencoba mengkalkulasi emisi karbon yang dihasilkan dari perjalanan dinas para karyawan, yang nantinya akan didapatkan tolok ukur dan milestone bagi Perusahaan agar dapat mencapat target pengurangan emisi karbon lebih cepat.
“Kita bisa melihat berapa total emisi yang dikeluarkan oleh aktivitasnya BNI secara operasional dan ini yang nanti kita secara roadmap itu akan kita targetkan di tahun 2028. Jadi net zero untuk yang operasional,” tuturnya.
Tak cuma menekan emisi dari operasional, BNI juga melakukan sejumlah langkah terukur dalam menekan emisi dari sisi pembiayaan. Disampaikan David, BNI telah melakukan banyak upaya dalam mengurangi emisi dari sisi pembiayaan yang masuk dalam portofolio kredit Perseroan.
Diakui David, emisi tertinggi memang berasal dari sisi pembiayaan, dengan porsi sebesar 98% dari total emisi BNI bersumber dari emisi pembiayaan. Pasalnya sejumlah sektor industri yang dianggap sebagai penyumbang emisi terbesar masih masuk dalam portofolio pembiayaan atau kredit dari BNI. Sebut saja industri pertambangan batu bara, sektor transportasi, serta perkebunan kelapa sawit.
Namun demikian, kata David, Perseroan tak lantas bisa serta merta menurunkan porsi kreditnya ke sektor-sektor tersebut secara signifikan.
“Memang nanti secara portfolio kredit atau pembiayaan ini kita akan coba atur, ditambah dengan mendorong peningkatan ekspansi green bond. Sehingga (emisi) secara portofolio pembiayaan kita harapkan bisa berkurang,” ujarnya.
Aktif lansir pembiayaan berkelanjutan
Berikutnya untuk mengkompensasi masih tingginya emisi dari sisi pembiayaan, BNI juga aktif melansir pembiayaan berkelanjutan. Salah satunya tentu penerbitan green bond yang sebesar Rp 5 triliun pada tahun 2022 lalu.
Dari hasil penerbitan green bond tersebut, David menyebut sebesar 78% dana hasil emisi telah disalurkan sesuai dengan aturan Otoritas Jasa Keuangan, yang menyebut bahwa minimal 70% dari green bond harus dialokasikan ke sektor-sektor yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
“Kita sudah salurkan ke proyek renewable energyseperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kemudian ke pembangkit mini hydro, biogas, dan kita juga menyalurkan ke sustainable transportation yaitu LRT,”ujar David. Di luar itu, dana hasil penerbitan green bond juga disalurkan ke sejumlah proyek waste to energy hingga sustainable natural resources.
Dari pendanaan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan tadi, BNI telah mampu menurunkan sekitar 235.000 ton CO2, dari total angka emisi karbon secara operasional yang sekitar 310.000 ton.
“Dengan kita menyalurkan green bond ini ke beberapa sektor tersebut, itu sudah bisa menurunkan 235.000 ton. Sangat signifikan sekali apabila kita meningkatkan transaksi-transaksi yang seperti ini,” tuturnya.
Sekadar catatan saja, pembiayaan hijau yang berkelanjutan di BNI telah mencapai Rp 180,5 triliun, atau sekitar 27,1% dari porsi total kredit yang dikucurkan BNI. Dari kucuran pembiayaan sebesar Rp 180,5 triliun tersebut, sebesar Rp 112 triliun di antaranya dialokasikan kepada sektor UMKM.
Sedangkan kucuran kredit berupa green financing hingga Kuartal III-2023 tercatat sebesar Rp 62,6 triliun atau sekitar 9,4% dari total kucuran kredit.
Di luar itu, BNI juga menginisiasi kredit berwawasan lingkungan berupa sustainable linked loan sebesar Rp 4,5 triliun. Sustainable link loan itu adalah pembiayaan yang diberikan kepada debitur untuk mendorong mereka mencapai level penerapan ESG yang lebih baik dengan disertai insentif.
Artinya, BNI sebagai lender akan memberikan target ESG bagi debiturnya, yang jika target itu tercapai maka debitur akan menikmati insentif berupa penurunan bunga.
Adapun sustainable linked loan yang dikucurkan BNI dialokasikan ke tiga sektor, yakni produsen makanan , gas dan pertanian, serta industri dasar seperti semen dan industri besi. “Jadi BNI menetapkan target-target tertentu yang spesifik. Kalau target tersebut tercapai mereka akan mendapat insentif bunga,” kata David.
Pelaksanaan ESG juga diimplementasikan oleh BNI lewat pemberdayaan UMKM. Salah satunya lewat program Perhutanan Sosial, semacam program yang ditujukan kepada masyarakat desa yang memanfaatkan lahan hutan lindung atau hutan adat. Tercatat sebanyak 10.000 petani telah mendapatkan kucuran pendanaan sebesar Rp381 miliaryang akan membantu mereka memanfaatkan lahan-lahan tersebut secara proper.
Pemberdayaan UMKM lainnya yang dilakukan BNI adalah program Jejak Kopi Khatulistiwa, yang merupakan bagian dari program Perhutanan Sosial, namun dikhususkan untuk petani kopi. Program ini membantu para petani kopi mengembangkan kualitas produk kopisekaligus mencarikan pasar ekspor buat mereka.
Sejauh ini, sebanyak 35 telah menikmati program tersebut, dengan harapan ke depan BNI bisa memperluas cakupan pemberdayaan tadi kepada 850 petani.
