Begini Jurus BCA Jaga Kepercayaan Nasabah di Era Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah masifnya digitalisasi yang terjadi di sektor keuangan, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA terus berupaya menjaga kepercayaan (trust) nasabah. Tiga aspek penting seperti keandalan (reliability), keamanan (security), dan ketersediaan (availability) jadi fokus bank berkode saham BBCA ini untuk mendorong trust.
“Mungkin di awal-awal tahun 90-an, digital tidak se-heavy hari ini, trust itu sangat didasari oleh relationship. Karena banking saat itu lebih ke arah person in person,” ujar Direktur BCA Hendra Tanumihardja, dalam Acara Paper UNFOLD 2025, di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Namun di era digital yang serba seamless ini, lanjut dia, kepercayaan harus dibangun lewat faktor lain, terutama reliability, security, dan availability. Untuk faktor reliability, menjadi dasar utama bagi nasabah untuk mempercayakan transaksi mereka kepada bank.
Artinya, setiap kali nasabah melakukan transaksi, semuanya harus berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Di BCA, kata Hendra, memproses sekitar 250 juta transaksi per hari, sementara kapasitas sistem mencapai 350 juta transaksi per hari.
Baca Juga
Gelar Runvestasi 2025, BCA Dorong Gaya Hidup Sehat dan Investasi Berhadiah Jutaan Rupiah
“Jadi masih ada cukup ruang, BCA ini secara sistem sudah reliability. Secara kapasitas kita terus ngembangin data center kita, data management kita sehingga memastikan bahwa transaksi yang masuk ke BCA itu bisa diproses dengan baik dan cepat,” katanya.
Hendra melanjutkan, selain reliability, aspek security juga menjadi perhatian utama BCA. Di tengah serangan siber terhadap sistem perbankan yang terus meningkat, namun pihaknya berhasil menjaga integritas sistemnya.
Di awal tahun lalu, ia mengungkapkan, sekitar empat miliar percobaan serangan (attempt) dilakukan ke sistem MyBCA. Namun per Agustus 2025 jumlahnya melonjak menjadi 8 miliar attempt dan tetap zero breach.
“Sampai hari ini kita tidak ada satupun yang bisa penetrasi ke sistem MyBCA. Karena kita selalu konsentrasi menjaga security kita,” ucap Hendra.
Baca Juga
Runvestasi 2025, BCA Tekankan Pentingnya Investasi Aman dan Terukur
Ia juga menyoroti pentingnya aspek ketersediaan layanan (availability). Sebab, layanan perbankan tidak bisa berhenti hanya karena dipengaruhi libur akhir pekan ataupun jam operasional kantor.
“BCA itu menjaga bahwa sistem kita harus up, harus always on. Dan menjadi KPI itu 99,7%, jadi hanya 0,3% saja kita kasih toleransi. Pencapaian kita sampai kemarin ini terakhir, saya lihat kemarin sudah 99,965%. Dan itu kita capai karena memang kita terus menjaga maintenance dan sebagainya,” ujar Hendra.
Ia menambahkan, meski kepercayaan nasabah kini lebih banyak dibangun lewat teknologi, tapi faktor manusia masih tetap punya peranan yang sangat penting.
“Ketika memang terjadi down, sistemnya down, kita punya affordability di relationship dari orang. Ada orang yang bisa dihubungi, yang bisa menindaklanjuti, yang bisa me-recover sehingga sistemnya bisa up kembali,” kata Hendra.

