Kenyamanan Nasabah Jadi Jurus BCA Pertebal Laba
JAKARTA, investortrust.id - Pada kuartal pertama 2024 PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sukses mencetak laba Rp 12,9 triliun atau tumbuh 11,7% secara tahunan. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyebut, peningkatan ini merupakan buah dari kerja keras pihaknya dalam memberikan kenyamanan dan pelayanan yang optimal kepada nasabah.
Ia mengungkapkan, ketika tahun 1992-1995, bank dengan kode emiten BBCA itu merupakan bank pertama yang secara cepat mengembankan anjungan tunai mandiri (ATM) yang dapat digunakan masyarakat selama 24 jam. Ta heran jumlah nasabah dan saldo yang ditempatkan di BCA mengalami peningkatan pesat.
“Setelah itu kita terus kembangkan dengan debit card, credit card, internet banking. Ternyata benar, orang mulai addicted dengan BCA,” ujar Jahja, di Jakarta, Jumat (3/5/2024).
Baca Juga
Namun, lanjutnya, ketika awal penerapan internet banking menjadi tantangan tersendiri bagi BCA, karena pada saat itu belum ada smartphone dan layanan internet juga masih sangat terbatas. Jika ingin menikmati internet banking, mau tidak mau harus melalui komputer yang memiliki akses internet. Di sisi bersamaan, tidak semua masyarakat Indonesia memiliki keduanya pada saat itu.
“Namun begitu smartphone ada, ini semua menjadi mudah. Plus kita kembangkan aplikasi M-banking dan myBCA sehingga orang mendapatkan kenyamanan bertransaksi,” kata Jahja.
Oleh karena itu, menyebabkan biaya bunga atau cost of fund BCA menurun yang akhirnya mempertebal laba. Di lain sisi, sambung Jahja, dari total dana pihak ketiga (DPK) BCA sebesar Rp 1.121 triliun pada kuartal satu 2024. 82% diantaranya berasal dari dana murah atau current account saving account (CASA).
Baca Juga
Buah dari Transformasi, Bos BCA Sebut Transaksi Digital Capai 140 Juta per Hari
”Jadi itu biaya murah. Kalau biaya murah kan untuk lending kita bersaing. Oleh karena itu kalau dilihat, KPR (kredit pemilikan rumah), KKB (kredit kendaraan bermotor) BCA itu relatif harganya murah,” jelasnya.
Jahja mengatakan, meski bunga kredit tergolong murah, namun untuk mendapatkan fasilitas tersebut pembiayaan di BCA tidak mudah. Pihaknya terus menjaga agar kualitas kredit terjaga dengan baik dan nasabah bisa membayarkan kewajibannya.
“Karena kita tidak mau kalau dia (nasabah) pinjam tapi baru sebulan atau dua bulan langsung macet. Itu ruginya lebih besar bagi bank,” ungkapnya.
Belum lagi ada pendapatan non bunga atau fee based income yang semakin mempertebal laba di BCA. “Ada fee based dari VA (virtual account), top fee, API (application processing interface) fee, dan lainnya yang menambah income kita. Cuannya nambah terus kalau begitu,” kata Jahja.

