Ini Enam Jurus Bank Saqu Hadapi Persaingan di Era Digital
JAKARTA, investortrust.id - Sejak diakuisisi oleh Astra Financial dan WeLab pada medio 2022, PT Bank Jasa Jakarta bertransformasi menjadi bank digital. Dalam menghadapi persaingan di industri perbankan digital, Bank Saqu memiliki enam strategi.
“Jadi kami dalam men-develop digital banking roadmap, roadmap bukan dari sisi komersial tapi dari sisi digitalisasinya. Kami memiliki framework yang dinamakan SPACES,” ujar Presiden Direktur Bank Saqu Leo Koesmanto, dalam acara Investortrust Power Talk, bertema "Big Data & AI: Era Baru Membangun Ekosistem Perbankan Digital", yang digelar di Financial Hall Graha CIMB Niaga, Kamis (25/7/2024).
Framework tersebut, lanjutnya, terdiri dari enam pilar, antara lain scalable banking, personalized banking, automation/technology banking, collaborative/embedded banking, experience banking, dan secure banking.
Strategi pertama, perbankan harus mengukur berbagai hal, termasuk risiko dan persiapan untuk ekspansi. Oleh karena itu jika tidak menerapkan teknologi seperti cloud, mungkin tidak akan bisa melayani banyak customer.
"Karena tadi targetnya saya berpikir satu juta (nasabah) itu akhir tahun dapet, ternyata half the time (di semester satu) sudah dapat,” katanya.
Sebagai informasi, sebelum akuisisi, Bank Saqu hanya memiliki 17.000 nasabah. Namun jumlahnya meningkat drastis usai akuisisi, di mana saat ini jumlah nasabah Bank Saqu mencapai satu juta nasabah.
“Kemudian, personalized banking. Dengan hal ini, ke depannya perbankan harus pintar dan bisa memenuhi kebutuhan customer,” ucap Leo Koesmanto.
“Customer perlu uang, jangan ditawarin investasi. Customer mau produk investasi, jangan ditawarin loan,” katanya.
Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta, Leo Koesmanto memberikan presentasi yang komprehensif dengan dukungan data dan infografis pada acara Investortrust Power Talk Financial Series dengan tema "Big Data & AI Era Baru Membangun Ekosistem Perbankan Digital" di Jakarta, Kamis, (25/7/2024). Foto: Investortrust/Defrizal Mohammad.
Selanjutnya, automation atau technology banking. Dengan adanya data transaksi yang digabungkan dengan machine learning hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan berguna untuk menganalisa berbagai hal. Pada akhirnya akan memberikan layanan yang personal kepada nasabah.
Yang tak kalah penting, penerapan secure banking. “Karena ini bisnis trust, kita perlu make sure dan mengembangkan diri kita untuk memastikan teknologi yang kita gunakan membantu mengamankan data dan dana nasabah, maupun dalam transaksi,” ujar Leo.
“Lalu kemudian kolaboratif atau embedded banking, bagaimana kita membuat banking ini menjadi mungkin istilah yang sudah familiar adalah embedded financial,” katanya.
Kemudian terakhir, kata Leo, yaitu experience banking. Bagaimana meningkatkan pengalaman nasabah terhadap layanan digital banking Bank Saqu, mulai dari proses onboarding, transaksi sehari-hari, dan lainnya.
Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta, Leo Koesmanto (kanan) berjabat tangan denagn Chief Executive Officer Investortrust, Primus Dorimulu saat menerima cinderamata dari pada acara Investortrust Power Talk Financial Series dengan tema "Big Data & AI Era Baru Membangun Ekosistem Perbankan Digital" di Jakarta, Kamis, (25/7/2024). Foto: Investortrust/Defrizal Mohammad

