Bagikan

Nasabah Bank Lebih Pilih Digital, Tren Kantor Cabang Sepi Bakal Berlanjut?

Poin Penting

Penutupan cabang bank didorong digitalisasi layanan keuangan.
Bank digital tumbuh, ROA 1,48% masih di bawah rata-rata industri.
OJK tekankan keamanan siber sebagai prioritas utama digitalisasi.

JAKARTA, Investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penurunan jumlah kantor cabang bank umum yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir merupakan keputusan strategis masing-masing bank, seiring pesatnya adopsi teknologi digital di sektor jasa keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, tren penurunan jumlah cabang akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi informasi di bidang keuangan yang semakin masif. "Digitalisasi telah mengubah perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbankan," kata dia dalam jawaban tertulis konferensi pers "Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2025", Rabu (20/8/2025).

 

Menurutnya, akses layanan yang semakin mudah melalui platform digital membuat bank melakukan efisiensi dengan menutup cabang yang tidak produktif atau memiliki volume transaksi rendah.

Baca Juga

BRI Resmikan Kantor Cabang di Taipei, Sediakan Layanan Keuangan Bagi 360 Ribu PMI di Taiwan

"Adopsi teknologi digital dalam layanan perbankan memungkinkan nasabah mengakses layanan kapan saja dan di mana saja, sehingga meminimalisir pemanfaatan layanan kantor bank yang tidak produktif dan memiliki volume transaksi rendah," ujar Dian.

Dian menegaskan, digitalisasi memberi ruang lebih besar bagi bank untuk meningkatkan efisiensi operasional. Meski demikian, penutupan cabang kerap berdampak pada tenaga kerja. OJK mencatat bank telah mengantisipasi hal tersebut melalui program pelatihan ulang atau retraining, serta realokasi pegawai ke unit bisnis lain.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. (Hari Gunarto)
Source: investortrust

"Hingga saat ini, potensi pemutusan hubungan kerja massal tidak menimbulkan persoalan besar karena bank-bank terus didorong mematuhi aturan ketenagakerjaan, termasuk dalam hal pemberian kompensasi yang layak bagi pegawai terdampak," ungkapnya.

Kinerja bank digital 

Tren digitalisasi juga mendorong lahirnya bank digital dengan kinerja yang terus membaik. OJK mencatat, return on assets (ROA) bank digital mencapai 1,48% per Juni 2025. Meski masih di bawah ROA industri sebesar 2,58%, pertumbuhan bank digital dipandang positif karena memiliki model bisnis dan segmen pasar berbeda dibandingkan bank konvensional.

Baca Juga

Bank Digital Indonesia Dinilai Sudah ‘Matang’

"OJK melihat bahwa pertumbuhan kinerja bank digital yang cukup pesat didukung pemanfaatan teknologi informatika (TI) yang canggih dalam menyediakan produk dan layanan retail banking sesuai segmen nasabah yang cakap teknologi," jelas Dian.

Lebih lanjut, OJK menekankan bahwa akselerasi digitalisasi perbankan harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, terutama terkait risiko keamanan siber. "Untuk meningkatkan kualitas sistem keamanan siber bank, OJK juga telah meminta bank untuk kembali meningkatkan dan memperkuat kapabilitas deteksi insiden siber dengan melakukan pemantauan setiap saat terhadap anomali transaksi keuangan," pungkasnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024