Serius Respons Tarif Resiprokal, RI - AS Teken MoU Peningkatan Impor 7 Juli 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia sangat serius dalam merespons kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah Indonesia telah membahas tawaran dagang baru yang akan disampaikan dalam negosiasi dengan pemerintah AS.
Airlangga menuturkan, pembahasan dilakukan bersama Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Wakil Menteri Perhubungan, Menteri BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk dan sejumlah pelaku industri serta importir kedelai dan gandum. Adapun salah satu pelaku usaha yang hadir adalah Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franky Welirang.
"Dan siang hari ini kita baru saja membahas terkait dengan apa yang dilakukan Indonesia terkait dengan offer kepada Amerika terkait dengan tarif," ujar Airlangga dalam acara Konferensi Pers terkait Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Perkembangan Perekonomian di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
Airlangga menjelaskan, salah satu poin penting yang dibahas adalah terkait pembelian energi dari AS yang totalnya bisa mencapai US$ 15,5 miliar. Selain itu, turut dibahas pembelian barang agrikultur, permesinan dan juga terkait dengan rencana investasi termasuk di dalamnya oleh BUMN dan Danantara.
Menindaklanjuti rencana ini, Airlangga memastikan akan ada pengesahan perjanjian dengan mitra dari AS mengenai rencana pengadaan bahan bakar dan pembelian barang-barang agrikultur. Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan AS terkait peningkatan impor tersebut pada Senin, (7/7/2025) mendatang.
"Sehingga rencananya akan diadakan perjanjian ataupun Memorandum of Understanding antara Indonesia dengan mitranya di Amerika Serikat pada tanggal 7 Juli nanti, dan dengan demikian menunjukkan bahwa Indonesia incorporated. Jadi antara pemerintah, regulator dan pihak pengusaha, BUMN dan swasta ini bersama-sama untuk merespons terkait dengan adanya pengenaan tarif resiprokal," jelas Airlangga.
"Nah tentu arahan Bapak Presiden dengan adanya komitmen pembelian oleh Indonesia terhadap produk Amerika, ini yang sifatnya tidak short term tetapi bisa long term. Ini akan istilah Bapak Presiden Pak Pok, jadi kita trade defisit Amerika terhadap Indonesia US$ 19 miliar, tapi yang kita offer pembelian kepada mereka itu jumlahnya melebihi, yaitu US$ 34 miliar," sambung Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga menyebut, untuk status saat ini, tim Indonesia sudah berada di Washington, AS bersama dengan negara-negara lainnya yang ada disana, yakni India, Jepang, EU, Vietnam dan juga Malaysia.
"Jadi dengan demikian Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia sangat serius untuk merespons tarif ini," ujar Airlangga.
Airlagga menambahkan, Indonesia secara tertulis pun sudah memasukkan dan sudah dibahas dengan kantor perwakilan dagang AS atau United States Trade Representative (USTR), Secretary of Commerce maupun Secretary of Treasury AS.

