LPS: Fungsi Intermediasi Perbankan Berjalan Baik, Kredit Tumbuh ‘Double Digit’
.
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan fakta bahwa domestic demand tetap bertumbuh, yang salah satunya bisa diukur dari pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai double digit sebesar 10,30% pada Februari 2025 secara tahunan (year on year). Bahkan kredit investasi naik ke tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di angka 14,62% pada periode yang sama.
“Pak Gubernur BI berperan besar, OJK, Menteri Keuangan, untuk menjaga stabilitas sektor keuangan sehingga fungsi intermediasi kita bisa berjalan terus. Kita lihat pertumbuhan kredit tadi dibilang double digit. Tapi yang paling penting saya lihat itu kredit investasi naik ke level sekarang 14,62%. Itu level yang tertinggi selama beberapa tahun terakhir,” kata Purbaya dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Dalam paparannya Purbaya menyampaikan, intermediasi perbankan terus tumbuh positif, per Februari 2025 kredit tumbuh 10,30% YoY sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 5,75% YoY. Sementara itu permodalan bank tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 27,05% 2024 dan rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada pada level yang terkendali sebesar 2,18% pada Januari 2025.
Baca Juga
Bos LPS Sebut Tarif Trump Bantu Daya Saing Produk Indonesia ke AS, Kok Bisa?
Sekadar informasi, kredit perbankan bisa dianggap mencerminkan domestic demand. Semisal peningkatan terjadi pada kredit konsumsi (misalnya kartu kredit, KPR, KKB), kondisi ini bisa menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat, yang artinya permintaan domestik termasuk dari sisi konsumsi rumah tangga juga meningkat. Sementara kredit Investasi dan Modal Kerja yang meningkat diartikan pelaku usaha meminjam lebih banyak untuk modal kerja atau investasi, dus bisa mengindikasikan ekspektasi positif terhadap permintaan barang dan jasa di dalam negeri. Artinya, pelaku usaha percaya bahwa domestic demand akan tumbuh, sehingga mereka butuh modal tambahan.
“Kalau investasi kan pasti ngelihatnya ke depan, beberapa bulan ke depan. Jadi iya, para pelaku bisnis kita sebetulnya sedang ekspansi, cuman mereka jarang ngomong di TikTok. Yang di TikTok kan yang nggak ada kerjaan, tapi yang kerja kan pasti yang ini,” seloroh Purbaya menunjuk data.
Ia pun menyampaikan bahwa sejatinya perekonomian Indonesia sedang ekspansif. Sementara global turbulensi yang diakibatkan oleh masalah perang tarif bisa dipandang sebagai hal yang menguntungkan bagi perdagangan Indonesia dibanding para kompetitornya di Regional.
Sebelumnya pada kesempatan yang sama ia mengemukakan, penerapan tarif impor terhadap sejumlah negara penikmat surplus perdagangan oleh Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal April ini bisa dianggap sebagai langkah Trump untuk membantu perdagangan Indonesia.
Baca Juga
LPS Sebut Langkah Pemerintah Jaga Permintaan Domestik Sangat Tepat
“Trump membantu daya saing produk kita di Amerika. Itu first impact. Kalau itu diketahui pasar, investor-investor di pasar, nggak akan panik,” ujar Purbaya.
Purbaya memaparkan argumentasinya bahwa sejatinya Trump lewat penetapan tarif telah meningkatkan daya saing produk domestik yang diekspor ke Indonesia, dengan mengambil empat produk Indonesia yang memiliki porsi ekspor terbesar ke Amerika Serikat. Keempatnya adalah golongan Harmonized System (HS) 85 berupa produk electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and television; lalu HS 61 berupa produk apparel and clothing accessories, knitted or crocheted; HS 64 berupa produk footwear, gaiters; dan HS 64 berupa apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted.
Diketahui untuk keempat golongan tarif tersebut, kompetitor Indonesia untuk ekspor ke Amerika Serikat adalah China, Mexico, Vietnam, Kamboja, Italia, dan Bangladesh. “Jadi di daerah kita ini di Asia, musuh kita China, Vietnam, Kamboja, Bangladesh… Kita lihat, negara itu dikenakan tarif lebih tinggi dari Indonesia,” kata Purbaya.
Sebagaimana diberitakan, dalam konferensi pers di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, Donald Trump pada 2 April 2025 lalu menetapkan tarif impor lebih tinggi terhadap Kamboja sebesar 49%, dan Vietnam sebesar 46%. Sedangkan Bangladesh dikenakan tarif 37%, masih lebih tinggi dari tarif yang dikenakan AS terhadap Indonesia sebesar 32%. Sementara itu China setelah jatuh tenggat 9 April 2025 justru dikenakan tarif sebesar 84%.
“Apa kita rugi, apa untung? Kalau saya lihat itu, saya (katakan) untung,” ujarnya. “Ini bantuan tersembunyi Trump untuk Indonesia sebetulnya. Kalau kita melihat dari sisi positifnya. Jadi kita nggak usah takut,” imbuhnya.

