Ditopang SBN, Hasil Investasi Asuransi Jiwa Melesat 46,2%
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat lonjakan hasil investasi industri life insurance sebanyak 46,2% menjadi Rp 32,03 triliun pada 2023, dibandingkan raihan tahun 2022 Rp 21,91 triliun. Lonjakan tersebut didukung iklim investasi yang terjaga stabil terlebih kinerja investasi di instrumen surat berharga negara (SBN) yang positif.
Kepala Departemen Investasi AAJI Rahmat Syukri mengungkapkan, dari total investasi yang disalurkan industri asuransi jiwa sebesar Rp 541,17 triliun tahun lalu, mayoritasnya disalurkan ke instrumen SBN sebesar Rp 183,23 triliun. Penempatan pada instrumen SBN ini juga meningkat 28,2% dibanding 2022 yang sebesar Rp 142,94 triliun.
Baca Juga
“Nilai ini mencatatkan porsi investasi di SBN menjadi 33,85%, mendominasi penempatan investasi industri asuransi jiwa secara keseluruhan,” ujarnya, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (27/2/2024).
Menurut Syukri, terjadi peningkatan yang sangat signifikan di SBN sebagai bentuk kepatuhan industri terhadap aturan yang berlaku. Juga dalam rangka mendukung program pembangunan janga panjang pemerintah melalui penempatan dana investasi.
“Industri asuransi jiwa secara konsisten meningkatkan penempatan dana pada instrumen surat berharga negara,” katanya.
Penempatan investasi terbesar selanjutnya yang dilakukan industri asuransi jiwa adalah pada instrumen saham dengan pangsa 27,78% daro total investasi. Tahun lalu, para pelaku asuransi jiwa menempatkan investasinya di saham sebesar Rp 150,36 triliun atau menurun 5,1% (year on year/yoy).
Baca Juga
Selanjutnya, ada instrumen reksa dana yang mengkontribusi 14,45% dari total investasi asuransi jiwa. Nilainya mencapai Rp 78,20 triliun, menurun 25,8%. Penurunan ini menurut Syukri disebabkan oleh peralihan investasi yang dilakukan industri ke instrumen SBN.
Sementara itu, penempatan investasi pada instrumen lainnya secara berurutan antara lain pada sukuk korporasi sebesar Rp 44,08 triliun, deposito Rp 40,05 triliun, penyertaan langsung Rp 24,98 triliun, bangunan & tanah Rp 15,71 triliun, dan instrumen lain-lain sebesar Rp 4,56 triliun.
“Kami senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian dan melakukan penyesuaian penempatan investasi dengan karakteristik bisnis perusahaan,” pungkas Syukri. (CR-13)
