Bursa Aset Kripto Bybit Terkena Peretasan, Kerugiannya Hampir Tembus US$ 1,5 Miliar
BANDUNG, investortrust.id - Bursa aset kripto Bybit mengalami peretasan yang mengakibatkan kerugian token mencapai hampir US$ 1,46 miliar atau setara Rp 23,81 triliun. Para analis memperkirakan kerugian ini menjadi yang paling besar terjadi di industri kripto.
Melansir Bloomberg, Sabtu (22/2/2025), Kepala Eksekutif Bursa Ben Zhou yakin peretas asal Korea Utara yang bertanggung jawab atas hal ini. Seorang peretas menguasai salah satu dompet Ethereum offline milik Bybit,
Baca Juga
Trump Serius Jadikan Amerika Sebagai Ibu Kota Kripto, CEO Binance: Zaman Keemasan
Sementara, menurut postingan analis on-chain ZachXBT di Telegram, diperkirakan aset senilai US$ 1,46 miliar mengalir keluar dari dompet tersebut dalam serangkaian transaksi mencurigakan.
Lalu, perusahaan riset Arkham Intelligence mengkonfirmasi sekitar US$ 1,4 miliar dalam aliran keluar dari bursa tersebut. "Dana tersebut telah mulai dipindahkan ke alamat baru tempat dana tersebut dijual,” dalam postingannya di platform X.
Zhou mengatakan, telah mengambil pinjaman jembatan dengan mitra dan telah mengamankan selitar 80% pendanaan yang dibutuhkan untuk menutupi kerugian tersebut. Di saat yang bersamaan, Bybit Kan mencoba memulihkan dana dan mengambil tindakan hukum yang diperlukan terhadap para peretas.
“Uang Anda aman dan penarikan kami masih terbuka,” kata Zhou.
Ia menjelaskan bahwa bursa telah memproses lebih dari 70% dari semua permintaan penarikan setelah peretasan. Bursa saat ini tidak membeli Ether apapun untuk menutupi aset yang dicuri di platform tersebut.
Didirikan pada tahun 2018, Bybit adalah salah satu bursa kripto terbesar di dunia, yang memproses lebih dari US$ 36 miliar dalam volume perdagangan rata-rata harian. Platform yang berkantor pusat di Dubai, memiliki aset sekitar US$ 16,2 miliar di bursanya sebelum diretas
Baca Juga
Pengamat Dorong OJK Edukasi Kripto ke Segmen Gen Z dan Alpha
Dana yang dicuri dari Bybit terdiri dari sekitar US$ 1,12 miliar dalam bentuk Ether, dan sisanya adalah derivatif Ether seperti yang dikenal sebagai stETH. Token tersebut pertama-tama ditransfer ke satu dompet, dan kemudian disebarkan ke lebih dari 40 dompet.
Penyerang mengubah semua derivatif Ether menjadi Ether, lalu mentransfer Ether dalam kelipatan US$ 27 juta ke lebih dari 10 dompet tambahan. Dana masih tersimpan di banyak dompet yang menerima token.
Peretasan itu dikaitkan dengan kelompok Korea Utara Lazarus oleh Arkham Intelligence. Serangan itu tampaknya mirip dengan yang dilakukan terhadap bursa kripto WazirX dan protokol peminjaman Radiant Capital.

