Tokio Marine Indonesia Sebut Efisiensi Anggaran Pemerintah Tak Pengaruhi Bisnis Asuransi
JAKARTA, investortrust.id - PT Asuransi Tokio Marine Indonesia (Tokio Marine) menilai kebijakan efisiensi dan pengalihan anggaran di kementerian/lembaga yang dilakukan pemerintah tidak memberikan dampak signifikan bagi perusahaan asuransi. meski banyak yang berpendapat hal tersebut akan menekan daya beli masyarakat.
Head of Corporate Planning Tokio Marine Indonesia Dita Anggrawati mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya masih terus memantau dampak dari kebijakan tersebut terhadap bisnis asuransi.
”Kita masih terus monitoring apakah itu berdampak terhadap bisnis. For sure, saya kira itu mungkin akan memberikan impact terhadap daya beli masyarakat ya, karena impact-nya mungkin akan seperti bola salju di masyarakat,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam media gathering Tokio Marine Indonesia, di Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Namun, lanjut Dita, dengan insentif yang diberikan oleh pemerintah seperti perpanjangan pajak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga akhir 2025, serta pembatalan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) 12% dapat membantu menjaga ketahanan daya beli masyarakat.
“More or less, harapan kami semua insentif yang diberikan oleh government itu bisa mengimbangi penurunan daya beli masyarakat, sehingga masih ada potensi untuk bertumbuh di tahun ini,” katanya.
Baca Juga
Ia tak menyangkal jika kondisi saat ini menantang bagi semua sektor, termasuk asuransi. Oleh karena itu diperlukan kreativitas oleh para pelaku asuransi untuk mengeruk potensi dengan memberikan produk yang benar-benar diperlukan masyarakat.
“Kami tetap optimis, semoga itu (efisiensi anggaran) tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan terhadap bisnis. Selain itu, bagaimana kami bisa mengembangkan kreativitas kami dalam menjual produk-produk kami, meyakinkan customer bahwa produk kami ini yang lebih baik dibandingkan kompetitor lain,” ucap Dita.
Setali tiga uang, Chief Technology Officer Tokio Marine Indonesia Foster Kurniawan menyatakan, meski ada potensi daya beli masyarakat terdampak, tetap ada pergeseran pola konsumsi yang menciptakan peluang baru.
“Biasanya terjadi shifting dari kebutuhan non primer ke kebutuhan primer. Misalnya, dari membeli mobil dialihkan ke prioritas lain seperti makanan dan bisnis, tak terkecuali segmen SME (small medium enterprise/usaha kecil mikro atau UKM),” ujarnya.
Baca Juga
Tumbuh 22,1%, Tokio Marine Indonesia Cetak Laba Bersih Rp 297 Miliar di 2024
Di lain sisi, Foster melihat bahwa sektor perjalanan atau wisata, serta UKM tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Tercermin dari data di tahun lalu yang menunjukkan bahwa wisatawan domestik perjalanan mencapai 920 juta perjalanan, meningkat 22% dibanding 2023. Lalu perjalanan luar negeri juga meningkat 18% menjadi 8,13 juta perjalanan.
Melihat hal tersebut, Tokio Marine Indonesia akan mendorong penjualan pada produk asuransi perjalanan dan asuransi di segmen UKM sebagai strategi dalam meningkatkan strategi pertumbuhan bisnis.
“Ada beberapa segmen yang menurut kita itu sebetulnya tetap masih potensi tinggi. Disitulah kita masuk, contohnya tahun ini kita benar-benar fokus untuk menjual produk travel kita. Jadi kita perkembangan growth business travel product kita tahun lalu itu cukup menjanjikan, cukup signifikan dibanding produk lainnya,” kata Foster.
“Nah yang kedua adalah produk dari segi SME. Kan banyak sekarang dari segi e-commerce, dari segi Tiktok Shop segala macam, itu SME meningkat gitu. Nah kita coba untuk bikin produk yang advanced ke mereka,” sambung dia.
Jadi, dikatakan Foster, pihaknya mencoba shifting dan tidak hanya berfokus pada satu lini bisnis saja. “Dan efisiensi tadi enggak ya, jadi enggak terlalu berpengaruh (terhadap bisnis asuransi),” ucapnya.

