Bisnis Butuh Dana Instan? Bisa Utang ‘Venture Debt’ Tanpa Takut Terdilusi
JAKARTA, Investortrust.id - Aksesibilitas pendanaan kerap menjadi kendala bagi usaha kecil menengah untuk meningkatkan skala usaha, hingga melakukan diversifikasi. Kendala pendanaan masih berkutat pada persoalan klasik, yakni ketiadaan serta minimnya kolateral atau jaminan yang menjadi persayaratan utama perbankan dalam mengucurkan kredit.
Belakangan muncul sebuah alternatif pendanaan, yang dikeluarkan oleh perusahaan penyedia dana yang hampir serupa model kerjanya dengan modal ventura. Namun bedanya produk yang mereka keluarkan bukanlah venture equity, namun venture debt.
Disampaikan Gena Bijaksana, CEO Qverse, berbeda dengan pendanaan dari modal ventura yang akan mendilusi kepemilikan saham dari pemilik usaha, maka venture debt adalah semata pendanaan yang sifatnya utang, dan akan dikembalikan dalam waktu yang disepakati.
Kehadiran alternatif funding melalui Venture Debt dinilai para pelaku industri menjadi salah satu pilihan strategis untuk ekspansi dan menumbuhkan bisnis. Hal ini disampaikan oleh Yukka Herlanda, CEO dan Founder Brodo, Leonard Utomo, CEO Endorphins, dan Gion Darwis, CEO MB Truss Co, dalam diskusi bersama media yang diselenggarakan oleh Qverse. Mereka menilai Venture Debt memberikan opsi yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan masing - masing profil dan risiko bisnis tanpa mengalami dilusi kepemilikan.
Baca Juga
Utang Pemerintah Jatuh Tempo Rp 800 Triliun, Pasokan Surat Utang Meningkat
“Dengan pendanaan venture debt, pemilik atau pendiri perusahaan yang membutuhkan dana bisa mendapatkan dana segar, tanpa harus khawatir kepemilikan sahamnya akan terdilusi,” kata Gena di Jakarta, Rabu (12/2/2025).
Qverse sendiri merupakan perusahaan penyedia dana yang siap mengucurkan pinjaman venture debt. Disampaikan Gena kehadiran Qverse sebagai growth partner bagi perusahaan kelas UKM, memang fokus untuk menjadi mitra pertumbuhan berkelanjutan bagi para founders dan bisnis di Indonesia.
Gena menekankan pentingnya untuk para founders dan bisnis untuk mencapai responsible growth dalam mengejar pertumbuhan. Mindset “growth at all cost” sudah tidak lagi relevan di masa sekarang, kini founders dan bisnis harus memiliki strategi untuk mencapai pertumbuhan dengan profit yang sehat, pengeluaran yang rasional dan tepat dengan kebutuhan, dan penggunaan pendanaan dengan basis fundamental bisnis yang kuat.
Menavigasikan kompleksitas bisnis terkait dengan pendanaan, Yukka Herlanda, Leonard Utomo, dan Gion Darwis menyetujui bahwa sebelum mengambil pendanaan, founders harus terlebih dahulu memiliki fundamental bisnis yang solid. Dengan adanya fundamental bisnis yang sehat, pendanaan akan digunakan untuk hal - hal yang bersifat ekspansi pertumbuhan bisnis sehingga dengan sendirinya akan mengurangi risiko kegagalan bisnis atau pembayaran itu sendiri.
Anggara Pradipta, Head of Investor Relations Qverse menyampaikan bahwa Qverse menjunjung prinsip Profit, Prudence, and Promising fundamentals (3P) dalam prosesnya.
Dalam praktiknya, Qverse menerapkan sistem monitoring pertumbuhan bisnis yang menyeluruh dan berkala untuk memitigasi risiko dan memproyeksi tantangan bisnis kedepannya sehingga risiko dapat diantisipasi bersama - sama.
Dalam konteks peran alternatif funding melalui Venture Debt, Yukka Herlanda, Leonard Utomo dan Gion Darwis, sepakat bahwa kehadiran Qverse berdampak positif terhadap pertumbuhan bisnis. Dengan bisnis yang harus memanfaatkan momentum dan merespon cepat terhadap pasar, pendanaan berupa Venture Debt yang diberikan Qverse membuat bisnis dapat bergerak lebih lincah.

