Pengamat Beberkan Sejumlah Tantangan Utama Perbankan Nasional di Tahun 2024
Reporter | Taufiq Al Hakim
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda membeberkan sejumlah tantangan utama perbankan nasional pada tahun 2024. Menurut dia, tantangan ke depan paling berpotensi menghambat kinerja perbankan adalah kondisi ekonomi global yang sangat tidak menentu.
Lebih lanjut, Huda menyebut tantangan lain bagi perbankan Tanah Air ke depan adalah ketidakpastian suku bunga The Fed. Huda mengungkapkan, hal ini masih menjadi ancaman bagi keuangan global, termasuk Indonesia.
"Kita tahu beberapa negara mengalami krisis ekonomi, seperti Jepang, Inggris, dan Jerman. Bahkan, Cina pun prediksi pertumbuhan ekonominya terpangkas 50%. Artinya, perputaran uang secara global akan melambat," ujar Huda saat dihubungi Investortrust.id pada Rabu (10/7/2024).
Baca Juga
Meleset dari Ekspektasi, Inflasi IHK China Juni Naik 0,2% YoY
Lebih lanjut, Huda menyebut tantangan lain bagi perbankan Tanah Air ke depan adalah ketidakpastian suku bunga The Fed. Huda mengungkapkan, hal ini masih menjadi ancaman bagi keuangan global, termasuk Indonesia.
Bank Sentral AS atau Federal Reserve pada 12 Juni 2024 mempertahankan suku bunga utamanya. The Fed sempat mengisyaratkan bahwa hanya satu pemotongan diperkirakan terjadi sebelum akhir tahun ini.
Perkiraan itu menunjukkan sedikit optimisme bahwa inflasi masih berada pada jalur untuk kembali ke sasaran The Fed sebesar 2%. Dengan demikian, memungkinkan beberapa pelonggaran kebijakan oleh otoritas moneter di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu pada akhir tahun ini.
Tren Kinerja Perusahaan Bagus
Sehubungan dengan berbagai tantangan perbankan tersebut, Huda mengungkapkan, penguatan ekonomi domestik menjadi langkah pasti yang harus dilakukan agar dapat mengurangi keterkaitan dengan perekonomian global yang bergejolak. "Ekonomi domestik yang semakin kuat, maka penyaluran kredit akan tetap terjaga," ungkapnya.
Solusi selanjutnya dalam menghadapi berbagai tantangan perbankan nasional ke depan adalah dengan menjaga nilai tukar rupiah. Harus diupayakan agar rupiah tidak tertekan terlalu dalam.
"Hal itu untuk memengaruhi sektor moneter kita agar lebih kuat," kata Huda.
Di sisi lain, Huda menilai sektor keuangan membaik. Bila melihat harga saham dan analisis kinerja perusahaan sedang menunjukkan tren yang cukup bagus.
Hal itu, menurut Huda, terdorong oleh beberapa hal. Pertama, peningkatan penyaluran kredit, meski suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) naik 25 bps ke angka 6,25% pada April 2024. Apalagi, ada peluang untuk menurunkan suku bunga acuan di kemudian hari, seiring dengan inflasi yang relatif terjaga.
"Kedua, ekonomi domestik yang masih kuat bisa menjadi pendorong pertumbuhan kredit nasional. Bahkan, tahun 2024, pertumbuhan kredit bisa ke angka dua digit. Kehadiran digital bank juga membuat bank lainnya berinovasi, sehingga memberikan masyarakat produk yang kompetitif," ujar Huda.
