Begini Respons Wamendag Jerry Terkait Munculnya Aplikasi E-commerce Asal China
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menanggapi terkait munculnya aplikasi belanja online yang diduga berasal dari China bernama “Temu.” Terkait itu, ia mengatakan bahwa seluruh penjualan online harus taat peraturan yang berlaku.
Beleid yang dimaksud oleh Jerry tersebut adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2023 tentang perizinan berusaha, periklanan, pembinaan, dan pengawasan pelaku usaha dalam perdagangan melalui sistem elektronik.
“Prinsipnya selama dia tidak punya izin untuk jualan, ya tidak boleh, simpel saja mengacu pada peraturan,” ucap Jerry saat ditemui di Gedung Kemendag, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2024).
Baca Juga
Wamendag Jerry Ungkap Alasan Aturan Barang Impor Terus Direvisi
"Pokoknya selama ada aplikasi atau apupun yang mengatasnamakan aplikasi, apapun bentuknya, ketika itu tidak comply tidak mengikuti peraturan dari kemendag dalam hal jualan transaksi dan sebagainya, tidak boleh kan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Jerry pun mencontohkan permasalahan TikTok Shop yang sebelumnya tidak menaati peraturan. Namun dikarenakan bergabung dengan Tokopedia, maka aplikasi tersebut kini telah mengikuti regulasi yang berlaku.
“Tapi sekarang sudah sama Tokopedia, sekarang sudah mengcomply itu mangkanya sedang dalam proses untuk. Bisa beraktifitas kembali, tetapi ketika tidak ada ya tidak bisa dilakukan, simpel saja sih,” ungkap Jerry.
Adapun mengenai aplikasi bernama Temu ini, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki sempat mengkhawatirkan jika aplikasi tersebut masuk ke Indonesia, karena dapat menggerus pasar dalam negeri, khususnya UMKM.
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Batas Produksi Batu Bara RI Hanya 325 Juta Ton Tahun 2055
“Kami ya (Kemendag), Kementerian Koperasi itu menguatirkan masuknya platform global cross-border yang direct, factory direct to consumer,” ungkap Teten.
“Jadi yang kalau ini masuk ke Indonesia, wah kita kira ini akan punya dampak besar kepada pelaku UMKM. Ya aplikasi dari China lah. Karenasudah masuk ke 58 negara. Jadi kita kuatir kalau itu masuk ke kita, wah ini berat,” tambahnya.

