Dampingi Airlangga ke Inggris, Wamendag Jerry Beberkan Potensi Kendaraan Listrik RI
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga turut mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat mengunjungi Bloomberg New Energy Finance (Bloomberg NEF) di London, Inggris beberapa hari lalu.
Wamendag Jerry menyatakan, Indonesia berhasil menjaga ketahanan dalam pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politiknya. Indonesia juga memiliki potensi besar pada pengembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
“Indonesia memiliki modal pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik yang baik di tengah kompleksitas lingkungan perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,05% pada 2023,” ucap Jerry dalam keterangannya, Senin (6/5/2024).
Baca Juga
Multifinance Sulit Menyalurkan Pembiayaan Mobil Listrik, Ternyata Ini Penyebabnya
“Indonesia juga berhasil melangsungkan pemilihan umum dan melakukan proses transisi pemerintahan yang berkesinambungan tanpa gejolak berarti. Kondisi ini merupakan momentum yang tepat bagi perusahaan EV untuk mengembangkan bisnis mereka di Indonesia,” tambahnya.
Jerry mengungkapkan, Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 4,47 miliar pada Maret 2024. Surplus tersebut telah bertahan selama 47 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menurut Jerry, pemerintah Indonesia memiliki beberapa kebijakan strategis. Salah satunya, kebijakan hilirisasi nikel. Kebijakan ini telah memberikan peningkatan nilai tambah perekonomian, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Pemerintah Indonesia juga mendorong pengembangan teknologi untuk mengurangi polusi dan ketergantungan bahan bakar fosil. Hal ini didukung dengan besarnya sumber daya alam nikel Indonesia yang berpotensi untuk menjadi basis produksi EV di Asia,” imbuh Jerry.
Berdasarkan penilaian Bloomberg NEF, Indonesia berada di peringkat 22 dari 30 negara yang dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasinya pada ekosistem rantai pasok baterai listrik. Penilaian tersebut berdasarkan beberapa aspek, antara lain industri, inovasi, dan infrastruktur.
“Selain itu, ketersediaan bahan baku, manufaktur baterai, permintaan di sektor hilir, dan kebijakan terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola juga merupakan aspek penilaian Bloomberg NEF. Indonesia diharapkan dapat segera menarik investor pada ekosistem rantai pasok baterai listrik,” tandasnya.

