Konflik Geopolitik Jadi Tantangan Penjaminan dan Pembiayaan Proyek Berkelanjutan
BOGOR, investortrust.id - Direktur Bisnis PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) Andre Permana mengatakan, konflik geopolitik yang belum mereda antara Rusia dan Ukraina serta di Timur Tengah dapat memengaruhi pembiayaan dan penjaminan proyek berkelanjutan.
Andre mengatakan beberapa pembiayaan konvensional akan berpengaruh kepada sumber yang dipengaruhi asumsi makro. “Misalnya suku bunga, inflasi di Amerika Serikat yang tinggi, nilai tukar rupiah, itu yang akan berpengaruh,” kata Andre, di Bogor, Rabu (30/5/2024).
Meski begitu, di sisi lain, Andre mengatakan pembiayaan inisiatif seperti green financing juga dihadapkan pada kebutuhan insentif. Salah satu yang saat ini diperlukan dalam pembiayaan hijau yaitu pencarian terhadap skema pembiayaan kreatif.
Andre menyebut beberapa kombinasi yang bisa digunakan dalam pembiayaan hijau yaitu model hibah sebagian dan pembiayaan multilateral bunga rendah, serta kombinasi keduanya dengan pendanaan komersial.
Baca Juga
“Cara itu harapannya bisa membantu untuk memitigasi risiko pembayarannya,” ujar dia.
Dari penjaminan, Andre mengatakan PT PII sebetulnya lebih terjamin dari risiko konflik geopolitik global. Tapi, konstelasi politik di level nasional dan daerah akan menjadi tantangan jika perubahan peraturan terjadi.
“Kita mau minimalkan itu, sehingga bisa di-maintenance dampaknya dari sesuatu yang nggak bisa kita kontrol,” kata dia.
Andre mengatakan PT PII memberikan penjaminan ke 52 proyek penyediaan infrastruktur di Indonesia. Proyek-proyek tersebut terdiri dari proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), proyek pinjaman langsung BUMN, dan BUMN dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Nilai investasi dari 52 proyek yang dijamin oleh PII sebesar Rp 503 triliun.
“Kami ini diminta untuk bisa me-leverage. Kami diberikan modal Rp 15 triliun sampai saat ini, dan kami berhasil menjamin proyek dengan nilai investasi sebesar Rp 503 triliun,” kata dia.
Andre mengatakan dari 52 proyek tersebut, 34 proyek di antaranya, merupakan proyek dengan skema KPBU bernilai Rp301 triliun. Dia mengatakan, dari proyek-proyek yang dijamin oleh PII, beberapa di antaranya juga merupakan proyek yang berkaitan dengan agenda perubahan iklim.
Baca Juga
Cek Rekening! ASII dan TLKM Cairkan Dividen Triliunan Rupiah Hari Ini
Proyek untuk agenda perubahan iklim tersebut di antaranya ialah proyek SPAM di Pekanbaru bernilai Rp 800 miliar, Pegadaian Bus Listrik KTT G-20 dan BTS Bandung dan Surabaya bernilai Rp 150 miliar, SPAM Bandar Lampung bernilai Rp 800 miliar, SPAM Regional Jatiluhur 1 bernilai Rp 1,7 triliun, PLTP Dieng dan Patuha II bernilai Rp 6,9 triliun.
Selain itu, kata Andre, PT PII Sustainable and reliable energy access program bernilai Rp 41,4 triliun, SPAM Umbulan bernilai Rp 2,1 triliun, Hydropower Programme bernilai Rp 6,6 triliun, SPAM Semarang Barat bernilai Rp 400 miliar, Kereta Api Makassar – Parepare bernilai Rp 1 triliun, alat penerangan jalan Kabupaten Madiun bernilai Rp 101 miliar, dan penerangan jalan umum Lombok Barat bernilai Rp 95 miliar.
Andre mengatakan proyek alat penerangan jalan di Kabupaten Madiun senilai Rp 101 miliar dikembangkan untuk meningkatkan dampak ekonomi. “Jadi jam ekonomi yang terhenti ketika waktu maghrib tiba, bisa bergerak setelah ada penerangan jalan di 7.459 titik sepanjang 299,6 kilometer,” ujar dia.
Secara total, Andre mengatakan proyek-proyek yang telah dijamin oleh PII berpotensi berperan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,59 juta ton CO2e.

