Belasan BPR Tutup di Lima Bulan Pertama 2024, LPS: Tak Mencerminkan Pemburukan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Sejak awal tahun hingga saat ini, setidaknya sudah ada 12 bank perekonomian rakyat (BPR) yang dicabut izin usahanya oleh regulator karena terindikasi fraud dan tidak menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. Namun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut hal ini bukan berarti menjadi pemburukan ekonomi.
“Penutupan bank tidak menggambarkan ekonomi yang memburuk atau tidak akan membuat ekonomi menjadi buruk,” ujar Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/5/2024).
Dengan banyaknya bank ditutup tersebut, lanjut Purbaya, tidak akan berpengaruh karena pihaknya memiliki kemampuan yang tinggi untuk membayar klaim penjaminan. Bahkan lebih dari itu, juga memberikan stimulus ke perekonomian akhir-akhir ini.
“Jadi harusnya kita waspadai, tapi bukan berarti kita sedang memburuk ekonominya,” katanya.
Baca Juga
Sebagai informasi, sebelumnya LPS mengungkapkan jika setiap tahun rata-rata ada tujuh hingga delapan BPR yang ditutup. Namun, dalam lima bulan pertama di tahun ini sudah ada 12 BPR yang dicabut izin usahanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Pada waktu itu (penutupan tujuh hingga delapan BPR) adalah business as usual, dalam arti yang jatuh dibiarkan jatuh dan yang hidup dibiarkan hidup. Tak ada program khusus dari OJK,” jelas Purbaya.
Berbeda dengan sekarang, di mana OJK telah memiliki program khusus yaitu konsolidasi BPR. Menurutnya langkah ini sangat positif, dan tentunya tidak serta merta menggambarkan keadaan yang memburuk dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga
LPS Pertahankan Bunga Penjaminan Periode Juni-September 2024
Sementara itu, Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank LPS Didik Madiyono mengungkapkan, sebagian besar persoalan yang BPR yang tutup ialah terkait tata kelola yang buruk dan adanya indikasi fraud.
Meski begitu, lanjutnya, masyarakat tidak perlu khawatir karena kemampuan LPS untuk membayarkan klaim penjaminan simpanan nasabah sudah lebih dari cukup.
”Dari 12 (BPR ditutup), so far dana yang dipakai untuk rekonsiliasi dan verifikasi serta membayar klaim hanya Rp 300 miliar. Sementara, anggaran klaim simpanan di tahun ini mencapai Rp 1,2 triliun,” ujar Didik.
