Inflasi Terkendali dan Dorongan Permintaan di Tengah Situasi Geopolitik Picu Harga Emas Makin Berkilau
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas melesat naik setelah rilisnya Consumer Price Index (CPI) dan data ritel penjualan Amerika Serikat (AS) pada Rabu (15/5/2024).
Adapun saat ini harga emas berada di level US$ 2.390, melanjutkan rally setelah naik dua hari berturut-turut. Di mana, harga ini pun menyentuh level tertinggi dalam tiga minggu terakhir.
Melansir dari laman resmi ICDX Group pada Kamis (16/5/2024), kenaikan harga emas pun masih berpotensi untuk tetap naik di tengah ekspektasi akan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan juga keadaan geopolitik dunia saat ini.
Pada Rabu (15/5/2024), Federal Reserve (Fed) merilis index CPI dan Retail Sales, di mana kedua data tersebut menunjukkan data dibawah ekspektasi. CPI bertumbuh sebesar 0,3% di bulan April, angka ini menurun di mana pertumbuhan pada bulan lalu berada di angka 0,4%.
Sementara itu, data US CPI selain makanan dan energi rilis sesuai dengan ekspektasi, bertumbuh 0,3% secara bulanan pada bulan April, namun angka ini pun masih lebih rendah dari pertumbuhan pada bulan lalu.
Berdampingan dengan data CPI, angka penjualan retail AS menunjukan tidak adanya pertumbuhan dengan indeks pertumbuhan sebesar 0% pada bulan April, di mana sebelumnya angka ini berada di level 0,6%.
Stagnannya angka pertumbuhan penjualan tersebut menambah catatan akan indikasi keadaan ekonomi AS yang melemah. Di mana hal tersebut mungkin dapat meningkatkan kemungkinan The Fed untuk memangkas suku bunganya dan menjadi sentimen postif pendorong emas.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang tengah terjadi di Timur Tengah dan antara Russia dan Ukraina juga meningkatkan kilauan harga emas sebagai safe-haven asset.
Keadaan geopolitik saat ini meningkatkan permintaan emas oleh bank sentral, seperti yang disampaikan oleh World Gold Council (WGC). Selain untuk melindungi aset mereka, peningkatan permintaan ini juga terjadi akibat adanya sanksi ekonomi yang dilakukan oleh negara barat kebeberapa negara.
Ditambah lagi adanya ketegangan antara negara-negara BRICS dan Persekutuan AS, di mana negara-negara BRICS mengurangi penggunaan US dolar dalam perdagangan internasional dan menggantinya dengan emas.
"Menilai dari sisi teknis, harga emas berpotensi menemui resistance terdekat pada level US$ 2.431, namun apabila menemui katalis negatf, maka harga emas berpotensi menemui support terdekat pada level US$ 2.305," tulis riset.

