BPJS Kesehatan Gandeng Lazismu, Bantu Lunasi Tunggakan Iuran Anggota Muhammadiyah
JAKARTA, Investortrust.id - Sebanyak 67 anggota Muhammadiyah yang memiliki tunggakan iuran BPJS Kesehatan di wilayah Jakarta mendapatkan donasi dari Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), melalui program USAID Catalyze. Donasi tersebut diberikan kepada BPJS Kesehatan melalui kegiatan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama pada Senin, (13/05).
Ruang lingkup kerja sama tersebut antara lain penggalangan dana zakat, infak dan sedekah, serta penyaluran sedekah kepada anggota Muhammadiyah untuk pendaftaran peserta baru, hingga peserta yang menunggak iuran. Kerja sama juga dijalin dalam rangka pelaksanaan Training of Trainer (ToT) kepada anggota Muhammadiyah, serta sosialisasi Program Jaminan Sosial dan JKN.
Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan, Arief Witjaksono Juwono Putro mengatakan, kolaborasi antara BPJS Kesehatan dengan Muhammadiyah bukan kali pertama dilakukan. Hingga saat ini, sebanyak 115 jejaring Rumah Sakit PKU Muhammadiyah telah melayani peserta JKN di seluruh Indonesia. Kerja sama yang digalang dengan Lazismu ini juga makin melengkapi manfaat Program JKN yang bisa dinikmati kepada seluruh masyarakat Indonesia.
"Kami menyadari bahwa tidak semua penduduk Indonesia memiliki kemampuan membayar yang baik untuk mengikuti program JKN, namun tidak mendapatkan program subsidi dari pemerintah (pusat maupun daerah). Akibatnya kepesertaan jaminan kesehatan mereka menjadi non aktif karena memiliki tunggakan iuran yang cukup siginifikan," kata Arief dalam pernyataan yang diterima redaksi.
Di tengah situasi tersebut, BPJS Kesehatan memberikan solusi melalui inovasi program Pendanaan Masyarakat Peduli JKN (PIPMPJ). Program tersebut merupakan sebuah katalisator dan akuntabel bagi para donatur baik dari sektor individu, badan usaha, maupun badan amal zakat.
"Kami mengapresiasi langkah yang ditunjukkan Lazismu yang telah berkontribusi memberi bantuan membayarkan tunggakan kepesertaan. Harapannya ini dapat menjadi contoh bagi lembaga lainnya untuk berperan serta dalam pendanaan Program JKN. Melalui kerja sama yang dilakukan kami juga berharap peserta yang menunggak Program JKN, khususnya yang berasal dari anggota Muhammadiyah dapat terbantu sehingga mereka terbebas dari risiko biaya kesehatan apabila jatuh sakit," imbuh Arief.
Dalam kesempatan serupa, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PMK, Nunung Nuryartono mengatakan, masyarakat harus berbangga Indonesia termasuk negara yang sangat cepat dalam mencapai Universal Health Coverage (UHC). UHC merupakan sistem penjaminan kesehatan yang memastikan setiap warga dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, bermutu dengan biaya terjangkau.
Baca Juga
Sebanyak 15,3 Juta Peserta Tunggak Iuran, BPJS Ungkap 2 Faktor Utama Ini
“Upaya ini merupakan langkah yang tidak mudah tanpa adanya upaya inovasi dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder,” kata Nunung.
Menurutnya, Kemenko PMK telah lebih dulu bersinergi dengan USAID dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang status kepesertaannya tidak aktif melalui kick off project USAID Catalyze. USAID Indonesia melalui Catalyze mendukung peningkatan jumlah peserta baru atau reaktivasi peserta JKN melalui pendekatan blended finance (pembiayaan campuran) yang diwujudkan salah satunya melalui perjanjian kerja sama.
“Perjanjian kerja sama ini merupakan langkah awal yang didorong Kemenko PMK karena keberlanjutan JKN dipengaruhi dari peserta aktif yang membayar iuran secara tepat waktu dan tepat jumlah. Kemenko PMK terus mendorong agar BPJS Kesehatan terus bekerja sama tidak hanya dengan Lazismu, namun juga dengan perusahaan swasta melalui CSR dan lembaga filantropi lainnya untuk membantu membayarkan tunggakan bagi peserta JKN yang terkendala biaya," imbuh Nunung.
Sedangnkan Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia, Enilda Martin mengatakan sinergi lintas lembaga yang dilakukan sangat penting untuk memberikan akses terhadap sistem layanan kesehatan di Indonesia. Menurutnya, sinergi yang dibangun bukan hanya untuk memastikan seluruh masyarakat memiliki akses layanan kesehatan yang berkualitas, namun juga sebagai langkah bersama dalam mempercepat capaian UHC.
"Sinergi ini merupakan langkah awal perjalanan bersama yang dilakukan. Kami terus berpegang teguh pada komitmen untuk mencapai target UHC dan memberikan akses layanan yang luas. Dengan adanya kolaborasi dan inovasi yang dihadirkan atas kebutuhan masaralat yang berkembang, mari kita bangun Indonesia lebih sehat dengan akses layanan kesehatan yang mudah," jelas Enilda.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan kolaborasi Lazismu bersama BPJS Kesehatan melalui program USAID Catalyze berupaya menyelesaikan satu permasalahan yang dialami oleh para anggota Muhammadiyah yang diimpit masalah akses kesehatan di sektor pendidikan.
Rais menilai pentingnya jaminan kesehatan yang berkesinambungan bagi anggota Muhammadiyah, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang perlu mendapat perhatian serius. Dengan begitu, diperlukan adanya gerakan bersama untuk memberikan perlindungan secara menyeluruh kepada seluruh masyarakat Indonesia.

