Ini Jurus Prudential Indonesia Tekan Klaim Kesehatan yang Meningkat 19%
JAKARTA, investortrust.id - Biaya medis di Indonesia mencatatkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Secara langsung maupun tidak, hal ini berdampak terhadap industri asuransi yang memasarkan produk kesehatan, salah satunya di Prudential Indonesia yang mencatatkan kenaikan klaim kesehatan 19% secara tahunan menjadi diatas Rp 5 triliun di tahun lalu.
Presiden Direktur Prudential Indonesia Tony Benitez mengungkapkan, ada sejumlah upaya yang dilakukan pihaknya untuk menekan angka klaim kesehatan, utamanya dengan mengendalikan biaya-biaya. Misalkan, menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik rumah sakit, regulator, pemerintah, dan lainnya. Dengan biaya-biaya yang terkendali, maka akan mengendalikan pula angka klaim kesehatan yang sangat tinggi.
“Jadi lebih clear di awal tentang biaya-biaya perawatannya yang sesuai dengan perawatan medis yang berlaku di Indonesia, sesuai dengan buku perawatan di Indonesia. Kita minta transparansi dari rumah sakit dan biaya medis,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (25/4/2024).
Strategi berikutnya, lanjut Tony, ialah dengan melakukan inovasi produk asuransi kesehatan. Contohnya, dengan salah satu produk yang baru diluncurkannya bernama PRUWell yang memberikan manfaat premi yang lebih adil.
Baca Juga
Tony Benitez Bakal Pimpin Prudential Indonesia, Gantikan Michellina Laksmi Triwardhany
Produk ini menawarkan keringanan premi atau diskon hingga 20%. Walaupun kepemilikan asuransi adalah sebuah keharusan untuk menjaga dari berbagai risiko, namun jika nasabah bisa mampu menjaga kesehatannya, maka diskon tersebut akan diberikan.
“Sehingga ini lebih adil, kita merasa salah satu cara juga untuk merubah mindset masyarakat untuk terus hidup sehat sehingga jangan sering ke rumah sakit,” kata Toni.
Dikatakan, strategi yang tak kalah penting dari Prudential Indonesia adalah data analytics. Dalam menerapkan pola treatment dari rumah sakit atau clinical pathway yang telah disepakati dengan rumah sakit, elemen data menjadi sangat penting. Jika tidak begitu, maka perusahaan asuransi tidak akan pernah tahu harga yang wajar itu berapa.
“Prudential memiliki data analytics, kita bisa menganalisa harga kamar berbagai rumah sakit, harga obat-obatan dan sebagainya, sehingga kami bisa menganalisa untuk perawatan diagnosa yang sama,” jelas Toni.
Menurutnya, ini juga menjadi topik diskusi yang dilakukan Prudential Indonesia dengan masing-masing rumah sakit rekanan agar bagaimana bisa menurunkan biaya perawatan tersebut.
“Jadi negosiasinya bukan tanpa dasar, tapi berdasarkan pengalaman dan data analytics. Jadi begitu cara kita menerapkan agar tidak terjadi overtreatment dan overcharge,” terangnya.
Baca Juga
Prudential Sebut Pilihan Produk Asuransi Bergeser Pasca Aturan Baru Unit-Linked
Lebih lanjut, Toni menjelaskan alasan kenaikan klaim kesehatan yang tinggi di Prudential Indonesia. Selain karena teknologi yang terus berkembang sehingga mendongkrak biaya medis, adapula perawatan secara berlebihan yang diberikan rumah sakit kepada pasien atau overtreatment.
“Untuk itu, kerjasama yang dilakukan Prudential dengan berbagai pihak bertujuan untuk membuat standar biaya medis dari berbagai penyakit. Sehingga dapat mengontrol angka klaim medis yang cukup tinggi di tengah tren inflasi medis yag juga meningkat,” ucapnya.
Terkait peningkatan biaya medis, dalam Survey Medical Trend Summary Mercer Marsh Benefits (MMB) bertema Health Trends 2023 menunjukan, medical trend rate atau biaya kesehatan di Indonesia terus naik, misalnya di 2021 sebesar 7,7%, kemudian pada 2022 meningkat menjadi 12,3%, dan diproyeksikan terus melonjak hingga 13,6% di 2023.
Prediksi ini juga lebih tinggi ketimbang biaya kesehatan di Asia yang secara rata-rata meningkat 11,5% di 2023. Bahkan, angka ini juga melebihi inflasi keuangan di Indonesia pada 2022 sebesar 5,5%.

