Salurkan Rp 214 Triliun, PNM Jadi Lending Group Terbesar di Dunia
JAKARTA, investortrust.id - PT Permodalan Nasional Madani (Persero)/PNM mencatatkan kinerja yang mengesankan. Dalam 7,5 tahun terakhir, BUMN itu berhasil menyalurkan total pinjaman Rp 214 triliun kepada 14,8 juta pengusaha mikro dan ultramikro. Alhasil, PNM kini tercatat sebagai lembaga pembiayaan kelompok (lending group) ultramikro perempuan terbesar di dunia.
Jumlah nasabah PNM sudah menyalip Grameen Bank, lembaga pembiayaan serupa yang didirikan ekonom Muhammad Yunus di Bangladesh. Grameen Bank, yang menjadi model pembiayaan ultramikro di seluruh dunia, menyabet Hadiah Nobel Perdamaian pada 2006. Jumlah nasabah Grameen Bank mencapai 9 juta pada 2020.
PNM didirikan Presiden ke-3, BJ Habibie, pada 1 Juni 1999 secara khusus untuk memberdayakan para pelaku UMKM dankoperasi. PNM tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga melakukan pembinaan dan pendampingan, dengan misi meningkatkan inklusi dan literasi keuangan, sekaligus memberikan pendidikan karakter serta mengupayakan pengusaha ultramikro dan mikro naik kelas.
Berikut wawancara Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu dengan Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi di Menara PNM, kawasan Kuningan, Jakarta, baru-baru ini:
Bisa cerita mengenai sejarah PNM?
PNM didirikan pada periode presiden ke-3 RI, mendiang Bapak BJ Habibie. Yang memberi nama pun Pak Habibie. Jadi, beliau memberikan langsung nama Permodalan Nasional Madani atau PNM, sebagai BUMN yang khusus didirikan untuk mendukung pembiayaan dan pemberdayaan UMKM.
Ada pesan khusus Pak Habibie saat PNM didirikan?
Pesan beliau mengenai permodalan ada tiga. Pertama, PNM harus memberikan modal finansial. Kedua, PNM harus memberikan modal intelektual. Ketiga, PNM harus memberikan modal sosial.
Baca Juga
Siapa penerima manfaatnya?
Tentu permodalan ini harus mendatangkan manfaat secara nasional, segenap lapisan masyarakat. Jadi, semua masyarakat harus punya kesempatan untuk mendapatkan tiga modal tadi.
Apa tujuan esensialnya?
Menurut almarhum Pak Habibie, permodalan ini harus disebarkan secara nasional untuk membentuk masyarakat madani. Masyarakat madani itu, menurut beliau, bisa terbentuk kalau jumlah yang diberdayakan banyak. Juga harus heterogen, tidak memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), termasuk budaya. Selain itu harus tersebar luas areanya.
PNM tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga melakukan berbagai pembinaan dan pendampingan. Jadi, kami tidak sekadar menyalurkan pinjaman. Tujuannya bukan hanya meningkatkan inklusi dan literasi keuangan, tetapi juga memberikan pendidikan karakter atau mental, serta mengupayakan nasabah naik kelas.
Pesan-pesan itu sudah direalisasikan?
Alhamdulillah, kami bisa memenuhi harapan beliau, karena per hari ini kami memiliki 14,8 juta nasabah aktif di 6.018 kecamatan, 432 kabupaten/kota, dan 35 provinsi, dengan total penyaluran dalam waktu 7,5 tahun ini sekitar Rp 214 triliun.
Baca Juga
Berarti PNM sudah mengalahkan Grameen Bank?
PNM insyaallah sudah menjadi lembaga penyaluran umi terbesar di dunia bagi kelompok perempuan. Grameen Bank sudah kami lampaui sejak 2020 (nasabah Grameen Bank saat itu berjumlah sekitar 9 juta, Red).
Reaksi Pak Habibie saat melihat perkembangan PNM saat itu?
Beliau kan wafat pada 19 September 2019. Saya terakhir bertemu beliau dalam rangka HUT PNM pada Juni 2019. Itu menjelang ulang tahun beliau pada 25 Juni 2019. PNM didirikan pada 1 Juni 1999. Waktu itu beliau kelihatan happy. Pak Habibie menyampaikan, “Mas, inilah basis untuk pembentukan masyarakat madani di Indonesia.”
Kredo Pak Habibie yang paling inspiratif?
Banyak, beberapa di antaranya kami catat dan kami abadikan, salah satunya, “Kita adalah keturunan pejuang yang tidak mengenal lelah dan kalah, UMK (usaha menengah kecil, istilah sebelum diganti UMKM) adalah ujung tombak perjuangan menuju masyarakat sejahtera, tenteram, dan madani." Itu disampaikan beliau pada 14 April 2015.
Baca Juga
BJ Habibie Sangat Peduli kepada Pengusaha Umi, Ini Buktinya!
Bisa Anda rinci kinerja bisnis dan kinerja program PNM?
Kami punya program PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), yang kemudian berlanjut ke pembiayaan segmen mikro, yaitu PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro). Setelah itu, baru kami masukkan mereka ke BRI atau layanan perbankan lainnya.
PNM Mekaar adalah layanan pembiayaan berbasis kelompok bagi perempuan prasejahtera. Nasabah Mekaar kini berjumlah 14,7 juta. Tahun ini, dari Januari sampai Juli, penyaluran Mekaar mencapai Rp 38,8 triliun, sedangkan total penyaluran Mekaar sejak 2016 sampai Juli 2023 mencapai Rp 207,8 triliun. Adapun outstanding Mekaar per Juli 2023 mencapai Rp 39,2 triliun.
Nah, untuk ULaMM, penyalurannya sejak Januari hingga Juli 2023 mencapai Rp 998 miliar, dengan nasabah aktif per Juli 2023 berjumlah 135 ribu. Outstanding ULaMM per Juli 2023 mencapai Rp 4,8 triliun.
Perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya?
Jumlah nasabah Mekaar terus bertambah dalam lima tahun terakhir. Pada 2018, jumlahnya baru sekitar 4,06 juta, lalu meningkat menjadi 6,04 juta pada 2019, selanjutnya naik menjadi 7,80 juta pada 2020, kemudian naik lagi menjadi 11,01 juta pada 2021, lalu menjadi 13,82 juta pada 2022.
Tahun ini, per Juni saja, nasabah Mekaar sudah berjumlah 14,67 juta. Itu nasabah aktif. Tapi total akumulasi jumlah nasabah sekitar 19 juta. Kami menargetkan 16 juta nasabah aktif. Insyaallah target itu bisa dicapai.
Begitu pun pembiayaan yang disalurkan. Pada 2018, outstanding loan mencapai Rp 13,46 triliun, meningkat menjadi 19,32 triliun pada 2019, lalu naik menjadi Rp 23,72 triliun pada 2020, melonjak menjadi Rp 34,52 triliun pada 2021, dan naik lagi menjadi Rp 42,59 triliun pada 2022. Tahun ini, per Juni, total outstanding loan-nya mencapai Rp 45,44 triliun.
Berdasarkan data September 2023, total penyaluran tahun ini mencapai Rp 48,3 triliun. Kalau dihitung sejak berdiri, PNM sudah menyalurkan Rp 214 triliun. Target best effort tahun ini di Rp 70 triliun. Moga-moga tercapai.
Periode pembayarannya macam-macam, ada yang mengangsur 2 tahun, 1 tahun, dan sebagainya. Untuk pelaku umi plafonnya Rp 20 juta, tapi kami belum buru-buru masuk ke situ, karena yang kami sasar adalah para keluarga prasejahtera dan rentan sejahtera. Maksimal baru Rp 15 juta.
Adapun pinjaman untuk pelaku mikro biasanya sampai Rp 50 juta. Nasabah mikro-kecil ada 78 ribu, plafonnya Rp 50 juta sampai yang tertinggi Rp 400 juta. Tapi kalau awal maksimal Rp 200 juta. Bunga pinjamannya 22%. Kalau mereka disiplin, usahanya jalan terus, bunganya bisa turun, terendah 17%.
Baca Juga
PNM Optimistis Capai Target Penyaluran Pinjaman Rp 70 Triliun
Sektor mana yang paling banyak?
Nabahan yang paling banyak mendapat pembiayaan dari PNM ada di sektor perdagangan. Mohon maaf, kalau lembaga pembiayaan lain pasti akan memberikan pinjaman kepada orang yang sudah berusaha.
Tetapi kami, selain kepada yang sudah berusaha, juga memberikan pinjaman kepada yang belum pernah berusaha. Ada 40-42% yang baru mulai berusaha. Program kami ini juga meningkatkan confidence mereka untuk berinteraksi, untuk berusaha.
Ini kan ekonomi sirkular yang berlaku dalam komunitas-komunitas kecil. Yang paling bisa dilakukan dan dimulai ya makanan. Saya yakin dalam satu area, nasabah kami di 6.018 kecamatan akan bertukar produk. Yang satu memasak nasinya, yang lain memasak lauk, yang jual nasi membeli lauk kepada temannya.
Di luar itu, saya sangat bangga. Akhir tahun lalu saya dipanggil langsung Pak Presiden untuk lapor posisi program PNM. Saya ingat, itu tanggal 16 Desember 2022. Beliau sampaikan, PNM Mekaar banyak membantu menjaga pertumbuhan ekonomi selama pandemi. Kenapa? Karena program pembiayaan PNM ikut menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat. Karena itu tadi, ekonomi sirkularnya terus berjalan di antara mereka.
Seberapa penting rasa percaya diri nasabah umi bagi kesinambungan program Mekaar dan ULaMM?
Mohon maaf. Masih banyak saudara-saudara kita di bawah yang punya stigma, “Sudahlah, Nak. Kita memang sudah lahir miskin. Mbah buyutmu miskin, kakekmu miskin, orang tua miskin, kamu tidak usah mimpi tinggi-tinggi.” Alhamdulillah, sekarang merekabangkit. Ini dampak grouping. Merekapede karena pasti teman-temannya akan membantu.
Mereka dijamin naik kelas?
Kami sudah lakukan beberapa survei. Kami coba melihat dampak terhadap pembiayaan dan pembinaan yang kami lakukan. Contoh gampang. Dari testimoni yang saya dengar, yang semula anaknya tidak sekolah menjadi bersekolah.
Kenapa? Sekolah gratis, ada program pemerintah, ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Tapi kan anaknya perlu seragam, uangnya tidak ada. Bagi teman-teman yang prasejahtera, mereka tidak mengutamakan membeli seragam, karena urusan makan belum selesai.
Dengan adanya pendapatan tambahan, urusan makannya sudah diselesaikan bapaknya, entah yang menjadi buruh lepas, menjadi kuli angkut, kernet truk, atau tukang becak, dan lain sebagainya. Nah, setelah ibunya mendapatkan pendapatan tambahan, mereka bisa membeli seragam.
Ada pula yang anaknya sudah punya seragam tetapi tidak mau ke sekolah karena tidak punya sepatu. Kalau tidak ada pendapatan tambahan, mereka tidak bisa belikan sepatu. Lalu sudah punya sepatu dan seragam, anaknya masih tidak mau ke sekolah karena tidak punya uang jajan. Begitu seterusnya. Itu sudah sekian ribu testimoni yang kami dengar.
Ada kendala?
Kami harus siap lelah untuk menjemput bola dan hadir di pintu mereka. Kami butuh SDM yang punya militansi dan feel the passion untuk melayani.
Kedua, handling cost. Itu yang tidak bisa kami hindari karena kami harus melayani daerah-daerah timur. Per hari ini kami memiliki 4.600 kantor unit di seluruh Indonesia. Tapi dari kantor unit ke titik layanan bisa membutuhkan waktu tempuh dua jam.
Padahal, account officer (AO), istilah karyawan kami yang langsung melayani, harus melayani 5-7 kelompok per hari. Kalau satu titik saja butuh waktu dua jam, itu akan sangat melelahkan bagi mereka untuk pindah ke kelompok lain dan seterusnya. Di Jawa, apalagi di Jakarta, 5 kelompok bisa disapu dalam setengah jam. Tetapi bagaimana di Bengkulu, Sulawesi Barat, atau Maluku?
Sumber dana PNM dari mana?
Saat ini hampir 48% dari pasar modal. Kami terbitkan bond melalui produk-produk investasi pasar modal. Ada reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) dan lain-lain. Kemudian kami juga punya fasilitas dari banyak bank. Kalau tidak salah per hari ini ada 60 bank yang memberikan fasilitas pinjaman kepada kami. Kami pun dapat pinjaman program dari pemerintah.
Dari sisi NPL bagaimana?
Non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah masih di bawah 1%, yaitu 0,57%, malah pernah 0,089% pada 2018-2019. Jadi, NPL-nya kecil sekali. NPL yang sangat rendah ini tidak diikuti jaminan sebagai asset, kan menarik sekali.
Baca Juga
Erick Thohir Minta PNM Tambah Nasabah Mekaar hingga Lima Juta
Apa rahasianya?
Kuncinya adalah melakukan pertemuan kelompok secara mingguan, rutin dan konsisten. Kami bertemu face to face. Satu kelompok terdiri atas 10 sampai 30 orang. Semuanya perempuan. Ini juga dampak grouping. Bentuk pembiayaannya kan kelompok.
Bisa jadi kalau kami berikan per individu, dampaknya secara sosial tidak akan terlalu besar. Ada semacam satu paksaan yang kami desain bahwa jika temanmu tidak bisa membayar kewajibannya, kamu wajib nalangin ke PNM. Dengan begitu, ada effort temannya untuk membantu, minimal transfer knowledge.
Nasabah PNM juga didominasi usia muda, yaitu 21-25 tahun dengan porsi 49,54%, kemudian usia 17-20 tahun (34,56%), usia 26-30 tahun (7,83%), dan usia 31-40 tahun (5,54%). Selebihnya usia lebih dari 40 tahun dan di bawah 17 tahun masing-masing 2,53% dan 0,00%. Sebaran jumlah nasabah berdasarkan provinsi paling tinggi di wilayah Jawa Barat dengan jumlah 3,1 juta.
Dalam hal usia, tenaga kerja dari PNM pun didominasi usia muda, di bawah 25 tahun. Total karyawan PNM berjumlah 71.260 orang. Dari jumlah itu, kaum pria minoritas, hanya 11 ribu. Sekitar 59 ribu adalah pegawai perempuan. Dari segi pendidikan, sebagian besar lulusan SLTA. Kami merekrut tenaga lokal.
Itu semua tercermin pada perolehan laba?
Sejak pandemi Covid-19 hingga sekarang, laba PNM terus bertumbuh, dari Rp 358,2 miliar pada 2020 menjadi Rp 845,1 miliar pada 2021, lalu naik lagi menjadi Rp 992,3 miliar pada 2022.
Laba tahun berjalan PNM pada 2022 sudah lebih tinggi dari masa sebelum pandemi. Pada 2019, laba PNM mencapai Rp 973,2 miliar. Per Juni 2023, laba tahun berjalan PNM mencapai Rp 753,7 miliar. Berkaca pada kinerja ini, kami optimistis laba tahun ini akan lebih baik. (tim investortrust)

