Tenang! Inflasi Medis Tak Bikin Biaya Premi di Asuransi Sinar Mas Naik
JAKARTA, investortrust.id - Biaya medis di Indonesia mencatatkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Bahkan, pada 2023 diprediksi akan semakin meningkat. Sejumlah perusahaan asuransi menanggapi hal tersebut dengan penyesuaian tarif premi, namun tidak dengan Asuransi Sinar Mas.
Menurut Direktur Asuransi Sinar Mas, Dumasi MM Samosir, sejauh ini perhitungan biaya premi di lini asuransi kesehatan Asuransi Sinar Mas masih menggunakan metode experience rating. Untuk produk korporasi misalnya, akan dilihat kembali rekam jejak klaim dari perusahaan yang menjadi nasabah itu seperti apa.
“Kalau perusahaan lain mungkin membuat rating sendiri, sudah ada di paket. Kalau di ASM (Asuransi Sinar Mas) tidak, kita experience rating,” ujarnya, kepada Investortrust.id, belum lama ini.
Menurutnya, lini asuransi kesehatan di Asuransi Sinar Mas memang agak berbeda perhitungannya, dan perusahaan tak langsung menerapkan besaran tarif premi begitu saja. Perusahaan akan melakukan penghitungan tarif dengan menggunakan data historis sang nasabah.
Baca Juga
Asuransi Sinar Mas Bidik Premi Lini Kesehatan Rp 900 Miliar di Tahun 2024
“Berdasarkan experience rating dari seluruh portofolio ASM plus performance dari account itu sendiri,” kata Dumasi.
Di tengah inflasi medis yang terus meningkat, Dumasi beranggapan lini asuransi kesehatan masih tetap prospektif, seiring meningkatnya kesadaran tentanng kebutuhan proteksi di masyarakat. Bahkan Dumasi menargetkan pendapatan premi dari lini tersebut meningkat menjadi Rp 900 miliar di tahun ini.
“Tahun lalu Rp 650 miliar GWP (gross written premium). Jadi kita mau mudah-mudahan (tahun ini) bisa mendekatilah Rp 800-900 miliar dapat lah,” terang Dumasi.
Sebagai informasi, dalam Survey Medical Trend Summary Mercer Marsh Benefits (MMB) bertema Health Trends 2023 menunjukan, medical trend rate atau biaya kesehatan di Indonesia terus naik, misalnya di 2021 sebesar 7,7%, kemudian pada 2022 meningkat menjadi 12,3%, dan diproyeksikan terus melonjak hingga 13,6% di 2023.
Prediksi ini juga lebih tinggi ketimbang biaya kesehatan di Asia yang secara rata-rata meningkat 11,5% di 2023. Bahkan, angka ini juga melebihi inflasi keuangan di Indonesia pada 2022 sebesar 5,5%.

