Zurich Syariah Ungkap Penyebab Sulitnya Jualan Produk Asuransi di RI
JAKARTA, investortrust.id - Potensi industri asuransi syariah dinilai masih terbuka lebar. Terlebih, saat ini penetrasi asuransi nasional baru 8%-9%, sedangkan syariah hanya 0,3%. Namun begitu, ada sejumlah tantangan yang juga menghinggapi industri ini.
Menurut Presiden Direktur PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah), Hilman Simanjuntak, selain menjadi peluang, rendahnya penetrasi yang dibarengi dengan rendahnya inklusi dan literasi juga menjadi tantangan bagi industri asuransi syariah nasional.
“Kami cukup kesulitan dalam menawarkan produk asuransi karena banyak yang belum mengetahui. Artinya, belum banyak yang merasa kalau itu salah satu kebutuhan,” ujarnya, belum lama ini.
Tantangan lain, lanjut Hilman, terkait akses distribusi yang juga masih rendah. Belum lagi adanya tren peningkatan pada beberapa lini bisnis seperti pada lini kesehatan dan asuransi kredit.
Baca Juga
Zurich Syariah Beberkan Strategi Kejar Pertumbuhan Premi 25% Tahun 2024
Lalu, berubahnya peraturan yang secara langsung maupun tidak akan berpengaruh pada operasional dan profitabilitas suatu perusahaan.
“Ketersediaan tenaga ahli asuransi umum syariah juga jadi suatu PR, saya rasa bukan tenaga ahli yang kita butuhkan tapi secara umum adalah talent-talent di asuransi umum syariah secara keseluruhan masih terbatas,” katanya.
Meski begitu, ia mengungkapkan masih banyak peluang bagi industri sharia insurance, seperti tren produk dan layanan berbasis syariah yang terus meningkat, termasuk produk asuransi. Di samping itu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh stabil dalam beberapa tahun belakangan juga menjadi stimulusnya.
Baca Juga
IHSG Potensi Menguat, Cek Rekomendasi Saham INKP, ASII, BDMN, dan SMGR
“Asuransi wajib atau compulsory insurance menjadi peluang juga, sesuatu yang saat ini sedang didiskusikan. Di beberapa negara yang sudah maju dalam hal industri asuransinya, asuransi wajib ini menjadi sesuatu yang wajib ada,” jelas Hilman.
Kemudian, peluang selanjutnya adalah bonus demografi. Dikatakan, pada 2030 merupakan puncak dari masyarakat usia produktif. Oleh karena itu perusahaan asuransi syariah harus jeli melihat peluang dan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan generasi milenial, gen Z maupun generasi alpha.
“Kemudian juga tren digitalisasi dan inovasi juga harus perhatikan itu menjadi peluang, dan juga menjadi tantangan karena tidak mudah,” terang Hilman.

