Baru 9% Anak Muda Punya Asuransi, IFG Life Dorong Proteksi Sejak Dini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kesadaran anak muda terhadap pentingnya perlindungan finansial masih perlu ditingkatkan. Survei literasi keuangan IFG Progress terhadap responden berusia 18-25 tahun, yang mayoritas merupakan mahasiswa, menunjukkan hanya 9% responden yang memiliki asuransi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri untuk mendorong kesadaran proteksi sejak dini.
Sebagai perbandingan, sebanyak 96% responden mengetahui produk tabungan dan 94% di antaranya telah memiliki tabungan. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman dan pemanfaatan produk perlindungan masih perlu ditingkatkan.
Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi mengungkapkan, inklusi keuangan tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap produk, tapi juga pemahaman masyarakat mengenai manfaat dan kesesuaian produk dengan kebutuhan mereka.
“Proteksi bukan pengganti tabungan atau investasi. Perannya adalah membantu menghadapi dampak finansial saat risiko terjadi, sehingga masyarakat tidak harus menguras tabungan, menjual aset, atau mengorbankan tujuan hidup yang direncanakan,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga
Performa Cemerlang, IFG Life Raih Penghargaan Best Insurance 2026 dari Investortrust
Sementara, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi perasuransian tercatat 42,84%, sedangkan indeks inklusinya mencapai 29,55%.
Menurut Gatot, perlindungan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan sejak dini untuk membantu masyarakat mengantisipasi risiko kesehatan, kecelakaan, hingga kehilangan penghasilan yang dapat mengganggu stabilitas keuangan keluarga.
Baca Juga
IFG Life Permudah Layanan Asuransi Secara Digital Lewat One by IFG
Untuk itu, kata dia, IFG Life terus mendorong literasi keuangan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi melalui pilihan perlindungan, termasuk santunan penyakit kritis dan solusi perencanaan pensiun.
“Untuk membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi risiko kesehatan sekaligus menjaga kesiapan finansial di masa depan,” kata Gatot.
