BTN Gandeng Kampus, Bidik Terobosan Baru di Sektor Perumahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) menggandeng perguruan tinggi untuk mendorong inovasi di sektor perumahan melalui program BTN Housingpreneur Batch 3.
Inisiatif ini membuka peluang bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk mengembangkan hasil riset menjadi solusi hunian yang lebih terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan.
Regional Office Head BTN Kantor Wilayah Jawa Barat Asvianti Handaru mengungkapkan, ekosistem perumahan mencakup sekitar 130 industri turunan, mulai dari arsitektur, material bangunan, teknologi digital, hingga pembiayaan. Karena itu, pengembangan sektor ini membutuhkan kolaborasi.
“Pengembangan sektor perumahan membutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang keahlian. Inilah yang menjadi salah satu landasan pengembangan BTN Housingpreneur yang kami perkenalkan di ITB (Institut Teknologi Bandung),” ujarnya, dalam keterangan pers, dikutip Kamis (15/10/2026).
Baca Juga
Pengguna Balé by BTN Tembus 5 Juta, Nilai Transaksi Capai Rp 103,53 Triliun
Menurut Asvianti, BTN Housingpreneur menjadi wadah untuk menghimpun gagasan inovatif yang dapat mendukung pengembangan sektor perumahan, termasuk program pembangunan 3 juta rumah.
“Tantangannya bukan sekadar membangun lebih banyak rumah, tetapi juga memastikan hunian tetap terjangkau dan berkualitas,” katanya.
Salah satu inovasi yang lahir dari BTN Housingpreneur 2025 adalah Proteka, teknologi pelapis yang diperkuat serat untuk meningkatkan ketahanan dinding bangunan terhadap guncangan gempa. Solusi ini dikembangkan sebagai alternatif penguatan bangunan eksisting tanpa selalu memerlukan pembongkaran besar.
BTN, kata Asvianti, juga mendorong pengembangan hunian ramah lingkungan melalui Program Rumah Rendah Emisi yang diluncurkan pada kuartal IV 2024 bersama sejumlah pengembang. Program ini melibatkan startup seperti Rebrick, Plustik, dan Green Brick yang mengolah sampah plastik rumah tangga menjadi material bahan bangunan.
Baca Juga
BTN Minta Klaim Dana Nasabah Rp17 Miliar Dibuktikan di Pengadilan
Direktur Kemahasiswaan ITB Muhamad Insanu menilai, kolaborasi dengan industri penting agar penelitian perguruan tinggi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar publikasi akademik.
“Sudah saatnya hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai data atau publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Program Master dan Doktor Arsitektur M Donny Koerniawan menyoroti tantangan death valley, yaitu kesenjangan antara hasil penelitian dan penerapannya di industri.
"BTN berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan mempertemukan akademisi, pelaku bisnis, dan produsen," ujarnya.
