BTN (BBTN) Bidik Tokenisasi Aset KPR, Dorong Sumber Pendanaan Baru untuk Perumahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) melihat tokenisasi aset sebagai salah satu peluang untuk mengembangkan sumber pendanaan baru sekaligus memperkuat pembiayaan sektor perumahan.
Langkah itu melanjutkan pengalaman bank berkode saham BBTN ini dalam mengembangkan instrumen sekuritisasi aset KPR melalui Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragunan Aset (KIK-EBA) dan Efek Beragunan Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF.
Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan mengungkapkan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan aset KPR tak hanya berkaitan dengan penyelesaian persoalan maturity mismatch, tapi juga dapat membuka ruang pendanaan baru bagi bank.
Persoalan tersebut muncul karena bank menggunakan sumber dana dengan tenor relatif lebih pendek untuk membiayai kredit perumahan yang memiliki jangka waktu panjang, umumnya sekitar 15 hingga 20 tahun.
Menurut Rully, prinsip tersebut masih relevan ketika dikembangkan melalui tokenisasi. Meski menggunakan teknologi digital, fondasi transaksi tetap bergantung pada kualitas aset, transparansi struktur, tata kelola, perlindungan investor, serta kepastian regulasi.
“Kami melihat tokenisasi berpotensi membuka akses terhadap sumber pendanaan yang lebih luas melalui representasi aset secara digital,” ujarnya, dalam keterangan pers, dikutip Senin (28/9/2026).
Namun, Rully menyatakan, tokenisasi tidak semestinya berhenti pada proses mengubah aset menjadi representasi digital. Bagi BTN, manfaat akhirnya harus tetap bermuara pada sektor riil, khususnya peningkatan kapasitas pembiayaan perumahan.
Baca Juga
Bappenas Dorong Tokenisasi Aset Digital Lewat Blockchain untuk Tekan Kesenjangan Ekonomi
“Ke depan, use case-nya juga dapat berkembang, misalnya untuk membantu monetisasi aset tertentu, termasuk aset bermasalah, sepanjang struktur legal, valuasi, perlindungan investor, dan aspek regulasinya telah memadai,” katanya.
Untuk memastikan tokenisasi dapat memberikan manfaat terhadap pembiayaan perumahan, BTN menilai terdapat sejumlah fondasi yang perlu dibangun. Salah satunya adalah infrastruktur dan ekosistem digital yang mampu menjaga keamanan data, pencatatan, serta pengelolaan aset.
Selain itu, struktur transaksi perlu memberikan kejelasan mengenai kepemilikan aset, hak investor, hingga mekanisme pembayaran.
Kualitas underlying asset juga menjadi faktor penting, termasuk kualitas serta standarisasi data KPR yang menjadi dasar transaksi.
BTN juga melihat pengembangan basis investor perlu dilakukan secara bertahap. Transparansi informasi dan edukasi investor menjadi bagian penting agar instrumen berbasis token dapat dipahami dan diterima pasar.
Dari sisi risiko, Rully menyebut sedikitnya empat aspek yang harus menjadi perhatian. Pertama, risiko operasional dan siber. Kedua, risiko yang berasal dari underlying KPR.
Ketiga, risiko likuiditas, mengingat tokenisasi tidak serta-merta menjamin terbentuknya pasar sekunder yang aktif. Keempat, risiko terkait perlindungan investor.
Menurut dia, semakin mudah suatu aset diakses dan diperdagangkan melalui teknologi digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi, tata kelola, dan mekanisme perlindungan investor.
“Keberhasilan tokenisasi bukan diukur dari berapa banyak aset yang berhasil ditokenisasi, melainkan dari seberapa jauh inovasi tersebut mampu memperluas akses investor, menciptakan pendanaan yang lebih efisien,” ucap Rully.
Perluas Bisnis Lewat Beyond Mortgage
Di luar pengembangan sumber pendanaan, BTN juga terus memperluas perannya melalui strategi Beyond Mortgage. Rully mengatakan, strategi tersebut bukan berarti pihaknya meninggalkan bisnis inti sebagai bank yang fokus pada sektor perumahan.
Sebaliknya, Beyond Mortgage diarahkan untuk memperluas hubungan BTN dengan nasabah, termasuk memenuhi kebutuhan finansial di luar pembiayaan KPR.
"Artinya, hubungan BTN dengan nasabah tidak lagi hanya terjadi ketika mereka membeli atau mencicil rumah, tetapi juga dalam berbagai aktivitas dan kebutuhan sehari-hari," ujar Rully.
Strategi tersebut kemudian diarahkan ke ekosistem digital melalui balé by BTN. Platform ini dikembangkan untuk memperluas layanan, mulai dari transaksi, tabungan, payroll, pembayaran, layanan merchant, investasi, dan lainnya.
“Digitalisasi bagi kami bukan sekadar memindahkan layanan ke aplikasi. Lebih dari itu, digitalisasi adalah bagaimana BTN dapat hadir lebih dekat, lebih relevan, dan memberikan nilai dalam keseharian masyarakat," kata Rully.
