Rupiah Perkasa Saat Mata Uang di Kawasan Asia Loyo Hadapi Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (7/10/2026). Rupiah menguat 0,07% dan berada di posisi Rp 17.886 per dolar AS.
Rupiah menjadi satu di antara dua mata uang yang menguat menghadapi dolar AS. Selain mata uang Garuda, terdapat yuan China yang menguat terhadap dolar AS. Yuan menguat 0,02%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa terjadi penurunan imbal hasil US Treasury dan harga minyak yang stabil meningkatkan sentimen terhadap aset berisiko, sementara saham-saham teknologi terkait AI tetap menjadi penopang.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Rp 17.910 Per Dolar AS, Imbal Hasil US Treasury 10 Tahun Naik
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 2,5 bps menjadi 5,28% (+111,2 bps ytd), sedangkan imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun turun 5,0 bps menjadi 4,79% (+132,0 bps ytd).
Penurunan imbal hasil tersebut memberikan sedikit kelegaan setelah aksi jual obligasi global baru-baru ini, meskipun imbal hasil jangka panjang masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade akibat kekhawatiran inflasi dan fiskal yang masih berlanjut.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY terdepresiasi 0,33% menjadi 101,83, tetapi masih menguat 3,57% ytd, seiring penurunan imbal hasil obligasi AS. Defisit perdagangan AS melebar 13,7% pada Agustus 2026 karena impor mencapai rekor tertinggi, menunjukkan permintaan domestik yang tetap tangguh.
Pasar akan mencermati risalah FOMC September malam ini untuk mendapatkan sinyal lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap rendah, dengan pasar hanya memperkirakan probabilitas sekitar 19% untuk kenaikan 25 bps pada pertemuan FOMC 27–28 Oktober, turun dari sekitar 51% sepekan sebelumnya.
Ini karena data pasar tenaga kerja yang lebih lemah dan meredanya kekhawatiran terkait pasokan energi telah mengurangi urgensi untuk melakukan pengetatan lebih lanjut, meskipun pasar masih melihat probabilitas yang lebih besar untuk kenaikan suku bunga lainnya pada akhir tahun ini.
Baca Juga
Rupiah Melemah di Awal Pekan, Diproyeksikan Penguatan Terbatas
Harga minyak mentah Brent naik tipis 0,26% menjadi US$ 100,6 per barel, karena risiko keamanan yang masih tinggi di Timur Tengah mengimbangi membaiknya pasokan regional. Ekspor minyak dari kawasan Teluk telah pulih signifikan, sementara rencana G7 untuk melepas 100 juta barel cadangan darurat diesel dan minyak mentah turut membantu meredam tekanan harga. Namun, serangan Houthi yang masih berlanjut membuat risiko gangguan pasokan tetap tinggi.
"Kami memperkirakan USD/IDR akan terapresiasi, didukung oleh pelemahan DXY dan penurunan imbal hasil US Treasury, meskipun harga minyak yang tinggi serta arus keluar dari pasar saham yang masih berlanjut tetap menjadi risiko utama yang dapat menahan penguatan rupiah," kata Andry.
