BI Pastikan Intervensi di Pasar Spot Tetap Berjalan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) memastikan tetap beroperasi di pasar spot. Meski operasi moneter di pasar ini tinggal 30% dari total intervensi.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea mengatakan bahwa untuk mendorong pendalaman pasar uang dan mengatur agar supply dan demand itu sesuai kebutuhan, BI terus mendorong agar transaksi valas di pasar domestik tak semuanya langsung.
“Tidak semua itu di-cash, tidak semuanya itu today, tomorrow, spot [TTS] itu cash market.Today itu settlement-nya hari ini, tomorrow settlement-nya besok, spot itu settlement-nya spot,” kata Erwin, saat taklimat media, Rabu (30/9/2026).
Erwin mengatakan bahwa BI memahami kebutuhan mendesak untuk menukar valas. Akan tetapi, jika sifat pemenuhan kebutuhan valas tersebut belum mendesak, misalnya seperti pembayaran impor dan utang luar negeri, BI mendorong pemenuhannya menggunakan mekanisme hedging.
“Agar kebutuhan valas di domestic market kita itu tertata,” kata dia.
Baca Juga
Bank Indonesia to Shield the Rupiah as the Rp 18,000 Threshold Looms
Erwin mengatakan, komposisi intervensi valas yang dilakukan bank sentral sudah mulai berimbang. Tetapi, langkah itu tidak dapat diartikan bahwa komitmen BI untuk mengintervensi pasar spot untuk menjaga stabilitas berkurang.
“Bukan berarti dulu Bank Indonesia itu intervensinya 100% di spot. Enggak juga,” kata dia.
Baca Juga
Seperti diketahui BI memiliki tiga mekanisme intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain melalui pasar spot, BI juga melakukan intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).
Komposisi tentang intervensi di pasar spot terungkap ketika Gubernur BI, Destry Damayanti ditanyai Komisi XI DPR, pada Senin (28/9/2026). Destry menyebut intervensi melalui pasar spot tinggal 30% dari total intervensi nilai tukar.
“Jadi kalau dulu dominannya spot, karena kita langsung jual dolar, itu langsung menggerus cadangan devisa kita,” kata Destry.
Akan tetapi, dengan pengembangan intervensi NDF dan DNDF operasi moneter lebih efektif dan murah dibandingkan melalui operasi pasar spot.
