Ukir Rekor Baru Sepanjang Sejarah, Net Sell Asing Tembus Rp 78 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan jual asing yang sangat besar. Sepanjang tahun berjalan hingga Senin (28/09/2026), investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp78,65 triliun atau setara US$4,38 miliar. Angka ini menandai gelombang keluarnya dana asing yang sangat besar dan menjadi sinyal penting mengenai tantangan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Berdasarkan laporan resmi IDX Daily Statistics tertanggal 28 September 2026, investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih Rp1,13 triliun pada perdagangan Senin. Aksi jual tersebut berlangsung bersamaan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 94,03 poin atau 1,51%, dari posisi sebelumnya 6.241,89 menjadi 6.147,86.
Dengan demikian, sepanjang 174 hari perdagangan pada 2026, IHSG telah kehilangan 28,90% nilainya dibandingkan posisi akhir 2025. Penurunan hampir 29% dalam sembilan bulan merupakan koreksi yang sangat dalam bagi pasar saham Indonesia, terutama ketika sejumlah bursa utama di Asia justru mencatatkan kenaikan signifikan.
Tekanan jual asing juga berlangsung ketika rupiah berada di dekat batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kombinasi pelemahan pasar saham dan depresiasi mata uang meningkatkan risiko investasi yang diperhitungkan investor global, terutama mereka yang mengukur keuntungan portofolionya dalam dolar AS.
Baca Juga
Net Sell Meningkat Jadi Rp 1,13 Triliun, Saham UNSP hingga ANTM Diobral Pemodal Asing
Bagi investor asing, penurunan harga saham sebesar 28,90% dalam rupiah menjadi lebih besar apabila dikonversi ke dolar AS ketika rupiah juga mengalami depresiasi. Kondisi tersebut dapat mendorong sebagian investor internasional mengurangi eksposurnya terhadap aset Indonesia.
Besarnya penjualan bersih asing Rp78,65 triliun menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar saham tidak hanya berasal dari transaksi jangka pendek. Namun, untuk menetapkan angka tersebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah BEI, diperlukan pembandingan dengan seluruh data historis arus dana asing, termasuk periode krisis sebelumnya.
Kapitalisasi Pasar Tinggal Rp10.759 Triliun
Pelemahan IHSG diikuti penyusutan nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia. Berdasarkan data BEI, kapitalisasi pasar seluruh saham tercatat mencapai Rp10.759 triliun atau sekitar Rp10,76 kuadriliun pada penutupan perdagangan Senin (28/09/2026).
Dengan kurs referensi Rp17.965 per dolar AS yang digunakan BEI, nilai kapitalisasi pasar tersebut setara sekitar US$599 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan saham beredar bebas (free float adjusted market capitalization) mencapai Rp2.678 triliun atau sekitar US$149 miliar.
Perbedaan kedua angka tersebut memperlihatkan bahwa tidak seluruh saham yang tercatat di BEI tersedia secara bebas untuk diperdagangkan oleh publik. Sebagian besar saham masih berada dalam kepemilikan pemegang saham pengendali, pemerintah, maupun investor strategis.
Kondisi ini menjadi penting bagi investor institusi global yang membutuhkan saham dengan likuiditas memadai agar dapat melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa menimbulkan perubahan harga yang berlebihan.
Aktivitas perdagangan Senin juga menunjukkan tekanan terhadap pasar. Total volume transaksi saham mencapai 34,70 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,57 triliun dan frekuensi 1,63 juta kali.
Nilai transaksi tersebut jauh di bawah rata-rata transaksi harian sepanjang 2026 yang mencapai Rp20,93 triliun. Artinya, nilai perdagangan pada Senin sekitar 39,95% lebih rendah dibandingkan rata-rata harian tahun berjalan.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar sedang mengalami tekanan harga ketika aktivitas transaksi relatif terbatas dibandingkan rata-rata tahunannya. Namun, nilai transaksi yang lebih rendah tidak dengan sendirinya membuktikan hilangnya likuiditas karena kondisi tersebut juga dipengaruhi komposisi saham yang diperdagangkan.
Dari sisi valuasi, BEI mencatat price to earnings ratio (PER) pasar sebesar 12,27 kali dan price to book value (PBV) 1,63 kali. Kedua indikator tersebut menunjukkan tingkat valuasi agregat pasar, tetapi belum cukup untuk memastikan apakah seluruh saham Indonesia telah berada pada harga murah. Penilaian lebih lanjut harus mempertimbangkan prospek laba, kualitas aset, risiko bisnis, dan pertumbuhan masing-masing emiten.
IHSG Tertinggal Jauh dari Bursa ASEAN dan Dunia
Kinerja IHSG sepanjang 2026 memperlihatkan kesenjangan yang mencolok dibandingkan bursa saham negara-negara ASEAN. Berdasarkan perbandingan 36 indeks pasar saham dunia dalam IDX Daily Statistics pada 28 September 2026, IHSG menempati peringkat keenam dari enam bursa ASEAN yang dibandingkan, peringkat ke-13 di antara 13 indeks Asia Pasifik, serta peringkat ke-35 dari 36 indeks dunia.
Dengan kata lain, dalam kelompok indeks yang dipantau BEI, kinerja IHSG sepanjang 2026 hanya berada satu tingkat di atas posisi terbawah dunia.
Perbandingan indeks dalam mata uang lokal masing-masing, belum memperhitungkan perubahan kurs atau dividen. Bursa Thailand melalui SET Index mencatatkan kenaikan 27,21% sepanjang tahun berjalan, sedangkan Straits Times Index Singapura meningkat 23,31%. Vietnam relatif stabil dengan kenaikan 0,03%, sementara Malaysia melemah 0,60% dan Filipina turun 4,36%.
Perbedaan paling mencolok terlihat antara Indonesia dan Thailand. Ketika IHSG turun 28,90%, indeks saham Thailand justru meningkat 27,21%. Kesenjangan kinerja kedua pasar mencapai 56,11 poin persentase.
Di kawasan Asia Pasifik, Taiwan mencatatkan kenaikan 65,81%, Korea Selatan 63,49%, dan Jepang 30,87%. Ketiga pasar tersebut menunjukkan perkembangan yang berbeda dari Indonesia, terutama karena komposisi sektor, eksposur terhadap teknologi, dan dinamika arus modal masing-masing.
Bursa India mengalami koreksi 14,62%, Hong Kong turun 3,85%, dan Shanghai melemah 3,66%. Namun, penurunan ketiga indeks tersebut masih lebih kecil dibandingkan IHSG.
Di Amerika Serikat, Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan 7,83% sepanjang 2026. Di Eropa, indeks DAX Jerman naik 3,79%, FTSE 100 Inggris menguat 7,95%, sedangkan indeks IBEX 35 Spanyol meningkat 13,69%.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG tidak dapat dijelaskan hanya melalui ketidakpastian ekonomi global. Faktor internasional memang memengaruhi hampir seluruh pasar, tetapi besarnya penurunan Indonesia mengindikasikan adanya persoalan domestik dan karakteristik pasar yang perlu mendapat perhatian tersendiri.
Namun, perbedaan kinerja indeks tidak otomatis menunjukkan perbedaan kualitas perekonomian secara keseluruhan. Indeks saham dipengaruhi struktur emiten, konsentrasi kapitalisasi pasar, valuasi awal, perubahan laba, serta arus investasi.
Mengapa Investor Asing Terus Menjual Saham Indonesia?
Ada sejumlah faktor yang dapat menjelaskan tekanan jual asing sepanjang 2026. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan, mulai dari persoalan transparansi pasar modal, ketidakpastian kebijakan ekonomi, hingga perubahan preferensi investasi global.
Salah satu perkembangan penting adalah meningkatnya perhatian penyedia indeks global MSCI terhadap struktur pasar saham Indonesia. Dalam laporan Reuters pada 24 Juni 2026, MSCI disebut memberikan tambahan waktu lima bulan kepada Indonesia untuk memperbaiki berbagai persoalan yang berkaitan dengan transparansi dan aksesibilitas pasar. Evaluasi berikutnya dijadwalkan pada November 2026.
Persoalan yang menjadi perhatian mencakup konsentrasi kepemilikan saham, keterbatasan saham beredar bebas, serta kebutuhan memperbaiki keterbukaan informasi. Reuters juga melaporkan bahwa investor menunggu bukti pelaksanaan reformasi, bukan sekadar pengumuman kebijakan.
Masalah tersebut menjadi sangat penting karena Indonesia merupakan bagian dari kelompok pasar berkembang atau emerging markets dalam klasifikasi MSCI.
Apabila standar aksesibilitas pasar tidak terpenuhi, perubahan klasifikasi berpotensi memengaruhi alokasi investasi dari pengelola dana internasional yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Pada 18 Juni 2026, MSCI menurunkan penilaian atas kriteria arus informasi pasar Indonesia menjadi negatif. Channel News Asia melaporkan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan kurangnya transparansi struktur kepemilikan dan aktivitas perdagangan yang dinilai mengganggu kemampuan investor mengidentifikasi jumlah saham yang benar-benar beredar bebas.
Persoalan ini menyangkut fondasi pasar modal. Investor internasional tidak hanya membutuhkan perusahaan yang menghasilkan laba besar, tetapi juga kepastian bahwa harga saham terbentuk melalui mekanisme pasar yang transparan dan likuid.
Ketika kepemilikan saham terlalu terkonsentrasi, pergerakan harga berpotensi menjadi lebih sensitif terhadap transaksi dalam jumlah relatif kecil. Hal itu dapat meningkatkan risiko bagi investor institusi yang mengelola dana dalam skala besar. Tekanan berikutnya berasal dari perubahan komposisi indeks global.
Pada penyesuaian indeks MSCI yang berlaku efektif September 2026, sejumlah saham Indonesia mengalami perubahan keanggotaan. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), misalnya, keluar dari kelompok MSCI Global Standard, dengan CPIN berpindah ke kelompok Small Cap.
Perubahan tersebut dapat mendorong penyesuaian portofolio oleh pengelola dana yang mengikuti indeks global. Namun, tidak seluruh transaksi jual asing dapat diatribusikan kepada MSCI karena investor aktif juga melakukan perubahan portofolio berdasarkan pertimbangan masing-masing.
Faktor lainnya adalah ketidakpastian fiskal dan kebijakan ekonomi Indonesia. Reuters pada 24 Juni 2026 melaporkan bahwa sebagian investor menaruh perhatian terhadap kredibilitas kebijakan fiskal, keberlanjutan pembiayaan belanja pemerintah, dan efektivitas reformasi pasar modal. Kekhawatiran tersebut merupakan pandangan investor yang dilaporkan Reuters, bukan kesimpulan bahwa kondisi fiskal Indonesia telah mengalami krisis.
Bagi investor institusi, kepastian kebijakan sangat penting karena investasi saham merupakan keputusan yang mempertimbangkan prospek keuntungan beberapa tahun mendatang.
Perubahan regulasi yang tidak terduga, ketidakjelasan kebijakan sektoral, serta risiko fiskal dapat meningkatkan tingkat keuntungan yang diminta investor untuk menempatkan dananya di suatu negara.
Ketika persepsi risiko meningkat, investor dapat mengurangi kepemilikan saham meskipun perusahaan yang bersangkutan masih mencatatkan keuntungan.
Pelemahan rupiah juga menambah tekanan. Investor asing yang membeli saham Indonesia harus mempertimbangkan dua sumber risiko sekaligus, yakni penurunan harga saham dan depresiasi mata uang.
Apabila harga saham turun 20% dalam rupiah, sedangkan rupiah melemah 7% terhadap dolar AS, kerugian investor yang menghitung portofolionya dalam dolar dapat menjadi sekitar 25,6%, sebelum memperhitungkan dividen dan biaya transaksi.
Dengan demikian, stabilitas rupiah dan pemulihan kepercayaan pasar modal merupakan dua agenda yang saling berkaitan.
Namun, arus modal asing tidak selalu bergerak dalam satu arah. Reuters pada 10 September 2026 melaporkan bahwa sejumlah pasar saham Asia kembali menarik pembelian asing pada Agustus setelah sembilan bulan mengalami tekanan jual. Indonesia juga sempat mencatatkan arus masuk dalam periode tersebut.
Artinya, angka net sell Rp78,65 triliun sepanjang tahun merupakan hasil akumulasi transaksi beli dan jual, bukan berarti investor asing melakukan penjualan bersih setiap hari perdagangan.
Sektor Teknologi, Infrastruktur, dan Properti Paling Tertekan
Tekanan terhadap IHSG berlangsung hampir di seluruh sektor, tetapi tingkat penurunannya berbeda-beda. Berdasarkan data BEI pada 28 September 2026, sektor infrastruktur mengalami penurunan 35,80% sepanjang tahun berjalan. Sektor properti dan real estat menyusul dengan koreksi 35,66%, sedangkan sektor teknologi turun 34,44%.
Sektor kesehatan melemah 30,91%, energi turun 28,86%, industri turun 25,52%, dan barang konsumen siklikal terkoreksi 25,10%.
Sektor keuangan mengalami penurunan 15,12%, lebih kecil dibandingkan IHSG secara keseluruhan. Kendati demikian, tekanan terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar mempunyai pengaruh signifikan terhadap indeks karena bobotnya yang tinggi.
Pada perdagangan Senin, sektor teknologi mengalami penurunan harian terdalam, yakni 4,46%, disusul material dasar sebesar 3,33% dan barang konsumen siklikal sebesar 3,04%.
Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik masih mampu menguat 0,47%, sedangkan sektor energi naik tipis 0,04%.
Perbedaan kinerja sektoral menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak berlangsung secara merata. Saham-saham dengan prospek laba yang sensitif terhadap suku bunga, biaya modal, dan daya beli masyarakat menghadapi tantangan berbeda dibandingkan perusahaan yang memperoleh pendapatan dari komoditas ekspor.
Saham Berkapitalisasi Besar Menjadi Penekan IHSG
Data BEI memperlihatkan bahwa koreksi IHSG sepanjang 2026 terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat mengalami penurunan harga 73,89% sepanjang tahun berjalan dan memberikan kontribusi negatif sebesar 264,28 poin terhadap IHSG.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengalami penurunan 68,76% dengan kontribusi negatif 246,69 poin. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 22,91% dan mengurangi IHSG sebesar 178,58 poin.
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 31,90% dan memberikan kontribusi negatif 116,41 poin. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melemah 75,36% dengan kontribusi negatif 109,17 poin.
Tekanan juga terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 14,21%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang melemah 21,18%, serta PT Astra International Tbk (ASII) yang terkoreksi 30,30%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan IHSG bukan hanya disebabkan saham berkapitalisasi kecil yang mengalami volatilitas tinggi. Sejumlah perusahaan terbesar di Indonesia juga mengalami koreksi harga yang signifikan.
Meski demikian, penurunan harga saham tidak selalu sejalan dengan penurunan kinerja operasional perusahaan. Harga saham mencerminkan kombinasi ekspektasi laba, valuasi, likuiditas, dan persepsi risiko investor.
Untuk mengetahui apakah penurunan harga telah melampaui perubahan fundamental perusahaan, diperlukan pemeriksaan laporan keuangan dan prospek bisnis masing-masing emiten.
Hilangnya Nilai Investasi
Koreksi IHSG sebesar 28,90% sepanjang tahun berjalan mencerminkan penyusutan yang besar pada nilai investasi saham Indonesia. Namun, persentase penurunan IHSG tidak dapat langsung disamakan dengan persentase penurunan kapitalisasi pasar BEI.
IHSG merupakan indeks yang dihitung menggunakan metodologi tertentu, sedangkan kapitalisasi pasar mencerminkan jumlah saham tercatat dikalikan harga pasarnya. Perubahan jumlah saham beredar, pencatatan saham baru, aksi korporasi, dan perubahan komposisi indeks dapat menyebabkan keduanya bergerak dengan persentase berbeda.
Dengan kapitalisasi pasar pada 28 September sebesar Rp10.759 triliun, besarnya penurunan kapitalisasi pasar sejak awal tahun harus dihitung dengan membandingkan angka tersebut dengan kapitalisasi pasar resmi pada penutupan perdagangan akhir 2025.
Tanpa data pembanding tersebut, tidak tepat menyatakan bahwa kapitalisasi pasar BEI telah turun 28,90% atau menghitung nominal kekayaan pasar yang hilang hanya berdasarkan persentase penurunan IHSG.
Yang sudah dapat dipastikan dari data BEI adalah bahwa IHSG turun 28,90%, LQ45 melemah 27,73%, IDX30 terkoreksi 22,41%, dan IDX80 kehilangan 31,16% nilainya sepanjang 2026.
Penurunan indeks-indeks tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak terbatas pada kelompok saham tertentu. Saham berkapitalisasi besar, saham likuid, dan saham berkapitalisasi menengah sama-sama mengalami koreksi.
Bagi investor domestik, kondisi tersebut berdampak terhadap nilai portofolio saham, reksa dana saham, dana pensiun, dan instrumen investasi lain yang mempunyai eksposur terhadap pasar modal.
Bagi emiten, penurunan valuasi pasar dapat meningkatkan biaya penghimpunan modal melalui penerbitan saham baru. Perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) juga berpotensi menghadapi kondisi pasar yang lebih menantang.
Pemerintah Harus Memulihkan Kepercayaan Investor
Menghadapi arus keluar dana asing dan koreksi IHSG yang dalam, pemerintah perlu menempatkan pemulihan kepercayaan investor sebagai salah satu agenda penting kebijakan ekonomi.
Pertama, pemerintah perlu memperkuat kredibilitas pengelolaan fiskal. Kepastian mengenai disiplin APBN, pembiayaan defisit, keberlanjutan utang, dan efektivitas belanja negara akan membantu investor menilai risiko ekonomi Indonesia secara lebih terukur.
Kedua, pemerintah perlu memastikan konsistensi regulasi dan kepastian hukum. Investor membutuhkan lingkungan usaha yang memungkinkan mereka membuat proyeksi keuntungan jangka panjang tanpa menghadapi perubahan kebijakan yang sulit diperkirakan.
Ketiga, pemerintah perlu memperkuat pertumbuhan ekonomi yang didukung investasi produktif, penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan produktivitas, dan daya beli masyarakat.
Pasar saham yang sehat pada akhirnya memerlukan perusahaan yang mampu meningkatkan pendapatan dan laba secara berkelanjutan. Stimulus jangka pendek mungkin membantu sentimen pasar, tetapi tidak dapat menggantikan perbaikan fundamental ekonomi.
Keempat, pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, tanpa mengurangi independensi Bank Indonesia.
Pelemahan rupiah yang berlangsung bersamaan dengan penurunan harga saham dapat meningkatkan kerugian investor asing dalam dolar AS. Oleh karena itu, stabilitas pasar valuta asing merupakan bagian penting dari upaya menjaga daya tarik investasi Indonesia.
Kelima, pemerintah perlu memastikan bahwa lembaga investasi negara, termasuk Danantara, menjalankan mandat investasinya secara transparan dan berdasarkan pertimbangan komersial.
Dalam laporan Reuters pada 9 Juli 2026, pimpinan investasi publik Danantara menyatakan bahwa lembaga tersebut bukan instrumen penyelamatan pasar saham dan lebih diarahkan untuk memperkuat serta memperdalam pasar modal dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut relevan karena penggunaan dana publik untuk menopang harga saham tertentu berisiko menimbulkan distorsi apabila tidak didasarkan pada analisis investasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
OJK dan BEI Harus Mempercepat Reformasi Pasar Modal
Tanggung jawab besar berikutnya berada pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia. Persoalan transparansi struktur kepemilikan, keterbatasan saham beredar bebas, dan integritas pembentukan harga perlu ditangani melalui reformasi yang dapat diukur hasilnya.
Pertama, OJK dan BEI perlu memperkuat keterbukaan mengenai pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial owner perusahaan tercatat. Informasi mengenai kepemilikan langsung maupun tidak langsung menjadi penting untuk memastikan bahwa pasar mengetahui siapa yang sesungguhnya mengendalikan saham suatu emiten.
Kedua, peningkatan ketentuan free float perlu dijalankan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan perusahaan dan kemampuan pasar menyerap tambahan pasokan saham.
Kenaikan free float dapat memperbaiki likuiditas dalam jangka panjang, tetapi penjualan saham dalam jumlah besar yang dilakukan secara bersamaan juga dapat menimbulkan tekanan harga sementara.
Ketiga, OJK perlu memperkuat pengawasan terhadap transaksi yang berpotensi mengganggu pembentukan harga secara wajar, termasuk manipulasi pasar, transaksi semu, serta praktik yang menyesatkan investor.
Keempat, BEI perlu memperbaiki kualitas keterbukaan informasi dan konsistensi penegakan aturan bagi seluruh emiten tanpa membedakan ukuran perusahaan atau identitas pemegang saham pengendali.
Kelima, otoritas perlu memperluas basis investor institusi domestik, termasuk dana pensiun, perusahaan asuransi, dan pengelola investasi jangka panjang.
Pasar modal yang terlalu bergantung pada perubahan alokasi dana asing akan lebih rentan terhadap gejolak internasional. Namun, penguatan investor domestik harus tetap dilaksanakan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan kesesuaian risiko, bukan melalui kewajiban membeli saham untuk mempertahankan indeks.
Keenam, OJK dan BEI perlu membangun komunikasi yang lebih intensif dengan penyedia indeks global, termasuk MSCI dan FTSE Russell, mengenai pelaksanaan reformasi pasar modal Indonesia.
MSCI telah memberikan tambahan waktu kepada Indonesia hingga November 2026 untuk menunjukkan efektivitas langkah perbaikan. Periode tersebut menjadi kesempatan bagi otoritas untuk memperlihatkan kemajuan yang konkret dan dapat diverifikasi.
Emiten Harus Memperkuat Fundamental dan Tata Kelola
Pemulihan kepercayaan investor juga membutuhkan peran aktif perusahaan tercatat. Emiten perlu meningkatkan kualitas laporan keuangan, memperkuat tata kelola, serta menyampaikan informasi bisnis secara transparan dan tepat waktu.
Perusahaan berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi tujuan investasi asing perlu memastikan bahwa informasi mengenai strategi usaha, prospek laba, kebutuhan pendanaan, dan risiko bisnis dapat diakses dengan mudah oleh investor internasional.
Kebijakan dividen yang konsisten, sepanjang didukung kemampuan keuangan perusahaan, dapat membantu memperkuat daya tarik investasi jangka panjang.
Emiten juga dapat mempertimbangkan pembelian kembali saham atau buyback apabila mempunyai kemampuan keuangan yang memadai dan menilai harga sahamnya tidak mencerminkan nilai fundamental. Namun, keputusan tersebut harus mempertimbangkan kebutuhan investasi, posisi kas, kewajiban utang, serta kepentingan seluruh pemegang saham.
Pembelian kembali saham tidak boleh menjadi pengganti perbaikan kinerja operasional. Perusahaan juga perlu memperhatikan kualitas free float. Semakin banyak saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan, semakin besar kesempatan bagi investor institusi untuk membangun portofolio dengan likuiditas yang memadai.
Bagi perusahaan yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi, peningkatan saham beredar bebas dapat dilakukan melalui penawaran saham kepada publik, penempatan kepada investor institusi, atau mekanisme lain yang sesuai dengan ketentuan pasar modal.
Di samping itu, emiten perlu meningkatkan kualitas komunikasi dengan investor melalui kegiatan investor relations yang berkesinambungan. Kepercayaan pasar tidak hanya dibangun ketika harga saham naik. Justru ketika pasar mengalami koreksi, keterbukaan informasi dan komunikasi yang konsisten menjadi semakin penting.
Net Sell Rp78 Triliun, Alarm bagi Pasar Modal Indonesia
Penjualan bersih asing sebesar Rp78,65 triliun hingga 28 September 2026 merupakan perkembangan yang perlu mendapat perhatian serius. Angka tersebut mencerminkan besarnya ketidakseimbangan antara pembelian dan penjualan investor asing sepanjang tahun berjalan.
Namun, terdapat catatan historis yang penting. Laporan riset KB Valbury bertanggal 23 Juni 2026 mencatat bahwa penjualan bersih asing telah mencapai Rp95,19 triliun hingga 19 Juni 2026. Artinya, angka Rp78,65 triliun pada 28 September justru lebih kecil daripada posisi kumulatif yang pernah tercatat pada Juni.
Dengan demikian, klaim bahwa net sell Rp78 triliun merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah belum dapat dipastikan. Angka Rp78,65 triliun merupakan posisi kumulatif pada 28 September, bukan puncak penjualan bersih sepanjang 2026, apalagi sepanjang sejarah BEI.
Perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa arus dana asing mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada periode tertentu investor asing melakukan penjualan bersih besar, sedangkan pada periode lainnya mereka kembali melakukan pembelian sehingga nilai net sell kumulatif berkurang.
Meski demikian, persoalan yang dihadapi pasar modal Indonesia tetap signifikan. Ketika IHSG turun 28,90%, rupiah melemah terhadap dolar AS, dan sejumlah indeks negara tetangga justru mencatatkan kenaikan, muncul kebutuhan untuk memahami mengapa pasar saham Indonesia mengalami tekanan yang lebih dalam.
Jawabannya tidak cukup dicari melalui satu faktor. Ketidakpastian global, perubahan alokasi portofolio internasional, persoalan transparansi pasar, kebijakan ekonomi, dan prospek laba emiten saling memengaruhi.
Oleh karena itu, upaya pemulihan perlu dilaksanakan secara bersama-sama oleh pemerintah, Bank Indonesia, OJK, BEI, dan perusahaan tercatat sesuai kewenangan masing-masing.
Pemerintah bertanggung jawab menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi dan iklim investasi. Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar. OJK dan BEI memastikan integritas, transparansi, serta kualitas pasar modal. Sementara itu, emiten bertanggung jawab meningkatkan kinerja usaha dan melindungi kepentingan pemegang saham.
Pemulihan kepercayaan tidak dapat diukur hanya dari kenaikan IHSG selama beberapa hari atau kembalinya pembelian asing dalam satu pekan.
Keberhasilan yang lebih berkelanjutan akan terlihat ketika pasar saham Indonesia mampu menarik investasi jangka panjang, mempunyai likuiditas yang dalam, serta didukung perusahaan dengan fundamental dan tata kelola yang kuat.
Penjualan bersih asing Rp78,65 triliun jangan hanya dilihat sebagai angka transaksi. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa modal dapat bergerak melintasi batas negara, tetapi kepercayaan investor hanya dapat dipertahankan melalui kepastian kebijakan, transparansi, dan kinerja ekonomi yang nyata.
