Sun Life Ungkap Ancaman Terbesar Warisan Bukan Pasar, tapi Kesiapan Ahli Waris
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menjaga kekayaan agar tetap bertahan hingga generasi berikutnya tak hanya bergantung pada kondisi pasar atau potensi konflik dalam keluarga. Kesiapan ahli waris dalam mengelola aset justru menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi keluarga di Asia.
Temuan tersebut tercermin dalam riset teranyar Sun Life Asia bertajuk Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money. Studi itu menunjukkan hanya 20% responden merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini. Di lain sisi, 70% masih mencemaskan apakah kekayaan yang dimiliki dapat bertahan hingga generasi berikutnya.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengungkapkan, rencana warisan tak cukup hanya dibuat dalam bentuk dokumen. Keluarga juga perlu memastikan generasi penerus memahami tujuan, prinsip, serta tanggung jawab dalam mengelola kekayaan yang diterima.
“Dengan begitu, rencana yang tertulis dapat benar-benar diterapkan dan bertahan dari generasi ke generasi,” ujarnya, dalam keterangan pers, Senin (28/9/2026).
Baca Juga
Riset tersebut juga memperlihatkan pemaknaan terhadap warisan mulai bergeser. Sebanyak 74% responden tak hanya ingin meninggalkan aset finansial, tapi juga nilai keluarga, pengetahuan, serta pengalaman hidup kepada generasi penerus.
Perencanaan warisan juga semakin banyak dilakukan. Responden yang telah memiliki rencana warisan secara lengkap, tertulis, dan telah dikomunikasikan kepada keluarga meningkat dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026. Sebaliknya, proporsi responden yang belum memiliki rencana sama sekali turun dari 31% menjadi 15%.
Di Indonesia, hanya 9% responden yang belum memiliki rencana warisan, turun dari 20% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, 30% telah memiliki rencana warisan tertulis, meski belum menyampaikannya kepada ahli waris.
Baca Juga
Survei Sun Life: 77% Orang Indonesia Masih Bekerja di Masa Pensiun
Warisan Tak Lagi Sekadar Aset
Riset Sun Life juga menunjukkan bahwa keluarga semakin melihat warisan sebagai sesuatu yang lebih luas daripada uang dan properti. Keterampilan dan pendidikan menjadi hal yang paling banyak ingin diteruskan, dengan 33% rersponden memilihnya, disusul nilai-nilai keluarga sebesar 32% dan pelajaran hidup 31%.
Pendidikan juga menjadi salah satu tujuan utama dalam penggunaan kekayaan. Sebanyak 48% responden ingin memberikan kesempatan pendidikan kepada generasi muda berikutnya. Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 65%.
Dari responden Indonesia yang berencana mewariskan aset finansial, 61% ingin mengalokasikannya untuk pendidikan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia.
Secara umum, 61% responden berharap kekayaan yang diwariskan dapat membuka peluang jangka panjang bagi keluarga, sementara 52% ingin memastikan kebutuhan mendasar seperti tempat tinggal dan layanan kesehatan tetap terpenuhi.
Kesiapan Ahli Waris Jadi Perhatian
Meski perencanaan warisan meningkat, tingkat kesiapan belum menunjukkan perkembangan serupa. Proporsi responden yang merasa benar-benar siap hanya naik tipis dari 19% pada 2025 menjadi 20% pada 2026.
Kekhawatiran mengenai kemampuan generasi penerus juga cukup besar. Di antara responden yang mencemaskan keberlangsungan kekayaannya, 52% menyebut kesiapan penerima warisan dalam mengelola aset sebagai salah satu kekhawatiran utama. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kekhawatiran terhadap perubahan kondisi pasar sebesar 49% dan konflik keluarga terkait aset sebesar 44%.
Sebanyak 27% responden juga menyoroti rendahnya pemahaman finansial generasi penerus, sedangkan 25% mengkhawatirkan kurangnya kepercayaan diri mereka dalam mengelola aset.
Di Indonesia, urutan kekhawatirannya sedikit berbeda. Konflik keluarga menjadi perhatian terbesar dengan 58%, diikuti kesiapan ahli waris mengelola aset sebesar 53%, perubahan hukum, regulasi atau perpajakan 46%, serta kondisi pasar 43%.
Albertus menilai, proses menyiapkan ahli waris membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan sekadar memindahkan kepemilikan aset. Karena itu, generasi penerus perlu dilibatkan sejak awal agar memiliki pemahaman mengenai pengambilan keputusan finansial dan tanggung jawab atas kekayaan yang akan diterima.
“Peran penasihat yang tepercaya menjadi sangat penting. Keluarga semakin membutuhkan penasihat yang dapat menghadirkan keahlian yang tepat, membantu menghadapi berbagai kompleksitas, serta mendukung mereka dalam mengambil keputusan yang tepat, baik lintas negara maupun lintas generasi,” katanya.
