KB Bank (BBKP) Ungkap Tantangan Bisnis di Segmen Wholesale Banking
Poin Penting
|
JAKARTA, invesortrust.id - PT Bank KB Indonesia Tbk atau KB Bank (BBKP) mengungkapkan tantangan utama dalam mengembangkan bisnis wholesale banking bukan hanya terkait penyaluran kredit. Namun, membangun pengenalan merek atau brand recognition di tengah persaingan industri perbankan.
Wholesale Banking Director KB Bank Widodo Suryadi mengungkapkan, perubahan nama dari Bank Bukopin menjadi KB Bank membuat perseroan masih perlu terus memperkenalkan identitas dan posisinya kepada nasabah maupun calon nasabah.
“Kalau kita ngomongin mengenai wholesale banking itu kan spektrumnya luas, dari korporat sampai ke UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Tantangan terbesar sebenarnya adalah brand recognition,” ujarnya dalam KB Bank Media Workshop, di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga
KB Bank (BBKP) Bidik Pertumbuhan Kredit Wholesale 15% di 2026
Menurut Widodo, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan identitas KB Bank setelah perubahan nama tersebut. Karena itu, jajaran manajemen dan relationship manager turut berperan sebagai brand ambassador untuk memperkenalkan KB Bank kepada pasar.
Di lain sisi, ia mengatakan, KB Bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengembangkan bisnis wholesale banking. Setiap calon nasabah akan dinilai tidak hanya berdasarkan kebutuhan kredit, tapi juga potensi bisnis secara menyeluruh.
“Tantangannya selain itu memang lebih kepada prinsip kehati-hatian tersebut. Jadi kami selalu melakukan penilaian apakah suatu perusahaan itu kita mau masuk, kita lihat dulu potensi dari cross sell itu sendiri dan apakah kita bisa menjadi salah satu main banker buat mereka,” kata Widodo.
Menurutnya, posisi sebagai main banker tidak semata-mata berarti menjadi bank pemberi kredit. Lebih jauh, bank harus mampu mengelola dan memberikan solusi atas berbagai kebutuhan perusahaan.
Baca Juga
KB Bank Syariah Buka Akses Pendidikan bagi Generasi Muda Prasejahtera
Bangun Ekosistem
Widodo menjelaskan, strategi KB Bank dalam mengembangkan wholesale banking juga diarahkan pada pembangunan ekosistem bisnis. Terdapat dua hal fundamental yang menjadi dasar aktivitas perbankan, yaitu pembayaran dan arus uang.
“Essence dari banking itu adalah payment, pertukaran dana. Mau apapun itu tetap ada pertukaran dana dari A ke B, B ke C, dan sebagainya. Yang kedua adalah follow the money, jadi uang itu pasti mengalir ke manapun kita telusuri,” ucapnya.
Karena itu, lanjut Widodo, KB Bank berupaya menghubungkan nasabah korporasi dengan perusahaan dalam rantai pasoknya, mulai dari pemasok, distributor, hingga pelaku usaha di tingkat yang lebih kecil.
Ia menilai, pendekatan secara terpisah atau silo antara segmen korporasi, komersial, dan usaha kecil membuat peluang membangun ekosistem menjadi kurang optimal.
“Jadi kalau korporatnya masuk sendiri, komersialnya masuk sendiri, SME (small medium and enterprise)-nya masuk sendiri, tetapi enggak connecting the dots. Padahal kalau itu ditelusuri sebenarnya mereka itu dalam satu mata rantai,” katanya.
Widodo mencontohkan, ketika masuk ke perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) besar, KB Bank tidak hanya melihat perusahaan tersebut sebagai satu nasabah. Bank juga dapat memetakan pemasok dan distributor yang berada dalam rantai bisnis perusahaan tersebut.
Pendekatan serupa juga dapat dimulai dari tengah maupun bawah. Misalnya, KB Bank masuk melalui distributor besar, kemudian menelusuri hubungan distributor tersebut dengan perusahaan principal maupun sub-distributor di berbagai daerah.
“Sebenarnya pintunya untuk masuknya bisa macam-macam. Even kadang-kadang kita mulai dari bawah, dari yang perusahaan kecil sub-distributor-nya dulu karena kita kenal mungkin, terus kemudian kita naik ke atas,” ucap Widodo.
Dengan pendekatan tersebut, KB Bank berupaya menghubungkan berbagai pelaku usaha dalam satu rantai bisnis sehingga arus transaksi dan kebutuhan perbankan dapat dikelola dalam ekosistem yang sama.
“Jadi kita ini istilahnya kalau bahasa kerennya itu trap the cash flow. Jadi cash flow-nya tidak ke mana-mana, muternya di kita,” ujar Widodo.
Ia menyadari bahwa sejumlah bank besar telah memiliki ekosistem yang kuat, baik terbentuk secara sengaja maupun melalui perkembangan bisnis selama bertahun-tahun.
“Buat kami yang sebagai challenger brand, di sini kami harus berpikir sesuatu yang sedikit out of the box. Karena kalau kita hanya berdasarkan cara-cara tradisional, jujur saja tidak gampang buat kami untuk memenangkan kompetisi ini,” kata Widodo.
