Kredit Korporasi Menguat, Prospek Bisnis Wholesale Banking Dinilai Cerah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Prospek bisnis wholesale banking di Indonesia dinilai masih positif hingga akhir 2026. Meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap pembiayaan, layanan transaksi, serta pengelolaan keuangan menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis.
Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai, kenaikan penyaluran kredit, khususnya kredit korporasi, menunjukkan masih terbukanya ruang pertumbuhan bagi bisnis wholesale banking.
“Hal tersebut menunjukkan prospek wholesale banking yang positif. Kebutuhan perusahaan terhadap pembiayaan investasi, modal kerja dan layanan transaksi terus berkembang,” ujarnya, kepada Investortrust, Selasa (29/9/2026).
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, segmen wholesale banking mencatat kinerja positif. Hal itu tercermin salah satunya dari kredit korporasi yang naik 22,10% pada Juli 2026.
“Namun, peluang ini perlu diimbangi dengan seleksi debitur yang cermat dan pengelolaan risiko yang disiplin,” kata Arianto.
Ia menilai, prospek bisnis wholesale banking hingga akhir 2026 cenderung positif, khususnya ditopang kebutuhan pembiayaan dunia usaha dan berbagai proyek strategis.
“Peluang juga terbuka pada layanan transaksi, pengelolaan kas, dan pembiayaan rantai pasok (supply chain),” kata Arianto.
Namun, perbankan tetap menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakpastian ekonomi global, dinamika nilai tukar dan suku bunga, hingga persaingan dalam memperoleh dana dapat mempengaruhi ekspansi bisnis wholesale banking.
Baca Juga
KB Bank (BBKP) Ungkap Tantangan Bisnis di Segmen Wholesale Banking
Fokus Bergeser dari Sekadar Kredit ke Ekosistem
Menurut Arianto, perkembangan wholesale banking di Indonesia juga semakin mengarah pada pendekatan berbasis ekosistem. Perusahaan kini tak hanya membutuhkan pinjaman dari bank, tapi juga layanan yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis sehari-hari
“Mulai dari pembayaran dan pengelolaan kas hingga pembiayaan perdagangan dan rantai pasok (supply chain),” ucap Arianto.
Ia menilai, pendekatan ekosistem penting untuk memperkuat hubungan bank dengan perusahaan, dan menjangkau para mitra bisnisnya.
“Sekaligus menghadirkan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan transaksi mereka,” ujar Arianto.
Meski potensinya besar, membangun ekosistem wholesale banking bukan perkara sederhana. Bank harus mampu menghubungkan sistem, data, dan proses bisnis dari berbagai pihak dengan karakteristik yang berbeda.
“Bank juga perlu memastikan keamanan data, kesiapan teknologi, kejelasan pembagian manfaat, dan pengelolaan risiko mitra. Keberhasilan ekosistem bergantung pada kolaborasi yang memberi nilai nyata bagi setiap peserta,” kata Arianto.
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Optimistis Prospek Bisnis Wholesale Banking Cerah
Makin Digital dan Terintegrasi
Dalam beberapa tahun ke depan, ia memperkirakan arah perkembangan wholesale banking akan semakin digital dan terintegrasi. Pemanfaatan data juga akan semakin penting untuk memahami kebutuhan sekaligus mengukur risiko nasabah.
“Layanan akan makin terhubung dengan proses bisnis perusahaan, termasuk pembayaran dan rantai pasok,” ucapnya.
Meski teknologi menjadi faktor penting, Arianto menilai pemahaman terhadap karakteristik, sektor usaha, pengelolaan risiko, serta kemampuan bank menyediakan solusi yang relevan tetap menjadi pembeda dalam persaingan wholesale banking.
