Komentar Trump soal Iran Jadi Sorotan, Bitcoin Bertahan di Posisi US$ 86.000-an
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$86.000-an pada Rabu (23/9/2026) pagi waktu Asia, setelah sempat menyentuh US$87.350 sehari sebelumnya. Level tersebut menjadi harga tertinggi Bitcoin sejak 29 Januari 2026.
Pergerakan Bitcoin berlangsung di tengah penurunan harga minyak mentah dan perkembangan geopolitik terkait Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat turun ke US$89,16 per barel sebelum kembali mendekati US$92 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Reuters melaporkan Arab Saudi telah membuka kembali East-West Pipeline, jalur utama ekspor minyak. Berdasarkan sumber Reuters, diperlukan waktu sekitar enam hingga delapan minggu agar aliran minyak mencapai kapasitas penuh.
Harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran kemungkinan tercapai setelah pemilihan umum sela AS pada November.
Pernyataan tersebut membuat ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Namun, pergerakan pasar saham AS yang relatif datar saat pidato Trump menunjukkan pelaku pasar masih mencermati perkembangan tersebut tanpa terjadi perubahan sentimen yang signifikan.
Baca Juga
Dana Institusional Mengalir Deras, ETF Bitcoin Spot AS Cetak Rekor 11 Bulan
Sinyal Data On-Chain
Selain faktor makroekonomi dan geopolitik, perkembangan indikator on-chain Bitcoin turut menjadi perhatian. Perusahaan analitik Glassnode mencatat rasio market value to realized value (MVRV) Bitcoin telah berada di atas rata-rata pergerakan 365 hari.
MVRV merupakan metrik yang membandingkan kapitalisasi pasar Bitcoin dengan nilai terealisasi berdasarkan harga saat koin terakhir berpindah di jaringan. Rasio tersebut tercatat 1,62, naik dari 1,19 pada 16 Agustus 2026.
Glassnode mencatat pola persilangan MVRV dengan rata-rata pergerakan 365 hari tersebut pernah terjadi pada 2019 dan 2023. Kedua periode tersebut kemudian diikuti fase penguatan pasar, meski indikator tersebut bukan merupakan jaminan terjadinya reli harga.
Sementara itu, CryptoQuant mencatat rata-rata pergerakan 30 hari MVRV telah menembus level 1,5. Level tersebut sebelumnya belum berhasil dipertahankan sejak Januari 2026.
Baca Juga
Bitcoin Tembus US$ 87.200, Investor Diingatkan Tak Terjebak FOMO
Menurut CryptoQuant, apabila penembusan tersebut bertahan, kondisi itu dapat menjadi indikasi berakhirnya fase akumulasi Bitcoin yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, Bitcoin masih menghadapi sejumlah risiko. Penyelesaian konflik AS-Iran belum tercapai, sementara harga minyak kembali naik setelah sempat turun akibat kabar pembukaan kembali jalur pipa Saudi.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar masih mencermati kemampuan Bitcoin untuk bertahan di kisaran US$86.000 serta perkembangan harga minyak dan indikator on-chain dalam beberapa pekan mendatang.
