Taspen Beberkan Strategi Jaga Hasil Investasi di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk menjaga pertumbuhan hasil investasi pada 2026, PT Taspen (Persero) bakal fokus pada penempatan di instrumen Surat Berharga Negara (SBN), serta deposito.
Strategi tersebut ditempuh untuk menjaga keamanan dana peserta sekaligus memastikan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran klaim.
Corporate Secretary Taspen Henra mengungkapkan, pengelolaan investasi memiliki peran penting dalam menopang pembayaran klaim, terutama pada program Tabungan Hari Tua (THT). Pasalnya, terdapat selisih antara premi yang diterima dengan klaim yang harus dibayarkan setiap tahun.
”Sekarang pembayaran klaim untuk THT saja setahun sekitar Rp 15 triliun, sedangkan premi yang kita terima sekitar Rp 8 triliun. Berarti ada gap Rp 7 triliun yang harus kita tutup, dan didapatnya dari hasil investasi,” ujarnya, dalam diskusi terbatas dengan sejumlah media, di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Henra, kondisi tersebut membuat pengelolaan dana THT harus dilakukan secara hati-hati. Pasalnya, jika hasil investasi tak optimal, kemampuan untuk menutup selisih antara premi dan klaim juga akan ikut terpengaruh.
Saat ini Taspen menerapkan strategi investasi yang cenderung konservatif. Porsi terbesar investasi ditempatkan pada obligasi termasuk SBN, dan deposito. Sementara itu, investasi pada saham dijaga dalam porsi yang relatif kecil.
“Memang boleh dbilang konvensional untuk pengelolaan sekarang, karena kita juga mesti hati-hati. Ini kan dana peserta, kasihan kalau misalnya kita sampai salah pengelolaan,” kata Henra.
Ia menyebut, sekitar 60% dari total investasi Taspen ditempatkan pada SBN. Setelah itu, porsi investasi ditempatkan pada deposito, sedangkan saham hanya sekitar 2,9%.
Strategi tersebut, lanjut Henra, membuat portofolio Taspen relatif terlindungi dari volatilitas pasar saham. Ia menyatakan, hasil investasi Taspen pada 2025 tumbuh 7,38% secara year on year (yoy).
“Pertumbuhan yoy kita itu tertinggi diantara pengelola dana pensiun. Karena kan kita juga ada KPI (key performance indicator), komparasi yoy dengan sejumlah dana pensiun seperti BPJS TK dan Asabri. Jadi secara yoy kita masih di atas,” ucapnya, menjawab pertanyaan Investortrust.
Baca Juga
Meski Fokus Genjot Digitalisasi, Taspen Sebut Peran Kantor Cabang Masih Penting
Fokus SBN dan Deposito
Memasuki 2026, Henra memastikan Taspen masih mempertahankan fokus investasi pada SBN dan instrumen pendapatan tetap lainnya. Kebijakan tersebut juga disesuaikan dengan ketentuan investasi yang ditetapkan pemerintah.
“Kita masih tetap di SBN. Karena memang kita kan udah diatur di Peraturan Menteri Keuangan, kalau tidak salah 80% itu maksimal di obligasi, kemudian 20% itu di saham, terus deposito 50% kalau tidak salah,” ujarnya.
Henra mengatakan, kepatuhan terhadap batasan investasi menjadi perhatian utama Taspen. Oleh karena itu, porsi saham dijaga pada level minimum, yakni di bawah 3%.
“Kalau misalnya kita melebihi itu kita sudah pasti kena audit atau teguran. Makanya untuk saham pun kita ambilnya minimum, under 3%,” katanya.
Selain obligasi dan deposito, Taspen juga melakukan penempatan investasi pada sejumlah instrumen lainnya, antara lain melalui Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap), dan penyaluran langsung pada Waskita Toll Road.
“Tapi tidak banyak. Banyaknya tetap di obligasi dan deposito. Dan alhamdulillah sampai sekarang masih terjaga, masih aman,” ucap Henra.
