Bonus Demografi Menyempit, Tekanan Sandwich Generation di Indonesia Berpotensi Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Perubahan demografi yang sedang berlangsung saat ini kian mempersempit jendela bonus demografi Indonesia. Meskipun Indonesia masih memiliki 69 persen populasi usia produktif berkisar 15 hingga 65 tahun pada tahun 2025, proporsi ini terus menurun akibat penurunan fertilitas dan peningkatan angka harapan hidup.
Disampaikan VP Impact Beyond Banking DBS Foundation Nazla Mariza, Total Fertility Rate (TFR) pun mengalami penurunan dari 3,11 pada awal 1990-an menjadi 2,13 anak per perempuan pada 2024, serta diproyeksikan turun kembali menjadi 1,97 pada 2045.
Penurunan fertilitas ini, menurut Nazla berjalan sejajar dengan penurunan jumlah pernikahan dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025. Terbentuknya ukuran keluarga yang semakin kecil menyebabkan berkurangnya jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua, sehingga tekanan pada sandwich generation berpotensi mengalami peningkatan secara signifikan.
Mengacu hasil riset DBS Foundation berjudul “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” yang diluncurkan Kamis (17/9/2026), Nazla menyebut kondisi ekonomi lansia saat ini menunjukkan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap generasi bekerja.
Sebanyak 82,96% rumah tangga lansia bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja, dan kurang dari 1% yang kehidupan ekonominya bersumber dari tabungan atau investasi.
Tingginya ketergantungan ini memaksa 55,32% lansia untuk tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan pokok, dengan 84,75% di antaranya terserap di sektor informal.
Di tingkat nasional, 59,42% tenaga kerja berada di sektor informal yang ditandai dengan tingkat pendapatan rendah, tidak pasti, dan minim akses tunjangan ketenagakerjaan, sehingga membatasi akses masyarakat terhadap pekerjaan berproduktivitas tinggi serta skema pensiun formal.
Tingkat pendidikan turut memengaruhi peluang ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Rata-rata tingkat pendidikan generasi saat ini berada di kisaran 9 tahun atau setara lulusan SMP, sedangkan rata-rata pendidikan lansia saat ini berada di angka 6 tahun atau setara lulusan SD.
Baca Juga
DBS Foundation dan Cinta Laura Ajak Generasi Muda Siapkan Finansial dan Keterampilan Hadapi Masa Tua
Peningkatan partisipasi pendidikan hingga minimal 12 tahun menjadi krusial untuk membuka peluang kerja yang lebih baik di masa depan. Di sisi lain, tingginya inklusi keuangan pada kelompok usia 18 hingga 50 tahun yang mencapai 93,5% hingga 95,1% serta literasi keuangan di angka 72,1% hingga 74,1% belum menjamin kesiapan pensiun.
Akses layanan keuangan masih didominasi oleh sektor perbankan sebesar 65,5%, sementara kepemilikan tabungan atau dana pensiun baru mencapai 5,37 % meskipun pemahaman tentang pentingnya dana pensiun sudah mencapai 27,79%. "Kesenjangan ini menunjukkan perlunya skema dana pensiun yang lebih fleksibel bagi sektor informal dan wiraswasta," kata Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.
Membangun ketahanan sosial dan finansial harus disesuaikan dengan realitas masyarakat, termasuk tingkat pendapatan, pola pekerjaan, dan kapasitas finansial individu. Kesiapan masa pensiun membutuhkan upaya terpadu sepanjang siklus kehidupan yang melibatkan peningkatan akses pendidikan, pekerjaan layak, penguatan kapasitas finansial, perluasan cakupan pensiun, serta pengintegrasian perlindungan sosial. Pemerintah berperan menyiapkan kebijakan terintegrasi, sektor swasta dapat mengembangkan layanan inovatif untuk kebutuhan lansia, dan individu bertugas mengembangkan kapasitas, menerapkan gaya hidup sehat, serta mengelola perencanaan keuangan. Melalui kolaborasi lintas pihak, transisi menuju masyarakat menua dapat menjadi momentum untuk membangun Indonesia yang lebih sehat, produktif, mandiri, dan sejahtera.
"Sebagai langkah konkret, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation menghadirkan Retirement Goal Calculator dalam rangkaian kampanye “Pensiun Gak Susah” untuk membantu masyarakat memproyeksikan kebutuhan finansial masa depan berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, serta asumsi inflasi dan imbal hasil investasi," kata Mona.
Selain persiapan dana, kualitas hidup masa tua juga ditentukan oleh kesehatan, pendidikan, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi. Generasi produktif dianjurkan melakukan investasi pada kesehatan dan lifelong learning guna mengurangi ketergantungan di masa depan. Perubahan demografi ini turut membuka peluang bagi dunia usaha dan Businesses for Impact untuk menghadirkan solusi inklusif di bidang kesehatan, perawatan, keamanan finansial, dan pembelajaran sepanjang hayat.
