Jaga Kualitas Pembiayaan, UKU Ungkap Jurus Seleksi Ketat Borrower
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU) menilai, tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) industri pinjaman daring (pindar) masih berada dalam level yang terkendali. Untuk menjaga kualitas pembiayaan, UKU mengandalkan seleksi ketat terhadap penerima dana (borrower) serta pemutakhiran sistem credit scoring secara berkala.
Direktur Utama UKU Tony Jackson mengungkapkan, capaian TWP90 industri pindar yang mencapai 4,32% pada Juli 2026 masih berada di bawah ambang 5%. Pergerakan tersebut merupakan hal yang wajar seiring proses penagihan (collection), restrukturisasi, maupun perbedaan karakteristik produk pembiayaan di industri.
“Kalau saya memandangnya, sepanjang masih belum melebihi dari 5% itu masih cukup memadai. Yang penting risikonya terukur, masih bisa kita absorb sesuai dengan risk appetite kita, should be no problem kalau itu,” ujarnya, dalam wawancara eksklusif dengan Investortrust, di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Tony menambahkan, kenaikan TWP90 industri tidak serta-merta menunjukkan adanya pelemahan daya beli di masyarakat. Pasalnya, ia menyebut aktivitas penyaluran pembiayaan masih tumbuh double digit.
“Sejauh ini tidak (terpengaruh pelemahan daya beli). Karena kan secara agregat (TWP90), saya kurang tahu persis datanya, tapi disbusrsement pencairan masih cukup tinggi. Harusnya (pelemahan daya beli) tidak berpengaruh ke situ (TWP90),” katanya.
Baca Juga
Bos AFPI Sebut Pelemahan Daya Beli Jadi Salah Satu Penyebab TWP90 Pindar Tembus 4,32%
Di UKU sendiri, Tony menyebut TWP90 berada di level 3,1%, sehingga tingkat keberhasilan bayar (TKB90) mencapai 96,9%. Angka tersebut dijaga melalui langkah mitigasi sejak tahap awal penyaluran.
Menurutnya, UKU memilih memperketat proses akuisisi borrower dibandingkan mengandalkan penanganan kredit bermasalah setelah pembiayaan disalurkan. Sistem penilaian atau scoring juga terus diperbarui agar mampu mengidentifikasi calon borrower berkualitas.
“Kalau misalnya akuisisi borrower let's say 100 masuk, paling yang saya approve satu sampai dua orang doang. Itu maksudnya secara perbandingan. Karena kalau mau mencari yang berkualitas memang seperti itu,” ucap Tony.
Ia menjelaskan, proses mitigasi di sisi hulu dilakukan melalui penguatan scoring, seleksi borrower, hingga pemeriksaan sumber data. UKU antara lain juga melakukan pengecekan data kependudukan dan catatan sipil (dukcapil) dan inquiry ke fintech data center (FDC) sebagai bagian dari beberapa lapisan verifikasi.
Pendekatan tersebut, lanjut Tony, penting agar persoalan pembiayaan bermasalah tidak menumpuk di sisi penagihan (collection). Namun, apabila borrower telah menunjukkan indikasi kesulitan membayar, UKU dapat menawarkan restrukturisasi untuk mencegah pembiayaan masuk ke kondisi yang lebih buruk.
“Ketika kita sudah tahu ini berpotensi susah untuk collect, biasanya kita langsung restru, kita tawarkan untuk ada restrukturisasi. Jangan sampai itu macet tidak ter-collect, kan itu nanti jadi kerugian buat si lender (pemberi dana), buat kita juga karena platform fee-nya kita jadi tidak dapat juga,” ujarnya.
Implementasi AI
Saat ini, kata Tony, UKU sudah menerapkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang lebih banyak dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan operasional, seperti menghasilkan laporan dan mengolah data secara lebih efisien. Namun penerapan AI tidak dilakukan untuk menentukan credit scoring.
“Kita tidak menerapkan AI untuk scoring, dan sistem scoring kita itu justru memitigasi AI,” katanya.
Pasalnya, menurut Tony, perkembangan AI justru menghadirkan tantangan baru dalam proses verifikasi borrower. Salah satunya adalah potensi penyalahgunaan teknologi untuk memalsukan identitas atau membuat gambar yang menyerupai seseorang saat mengajukan pinjaman.
Karena itu, UKU terus memperbarui sistem scoring dan menambahkan algoritma untuk membantu mengidentifikasi indikasi penggunaan AI secara negatif dalam proses akuisisi borrower.
Tony menilai, pemanfaatan AI pada akhirnya bergantung pada tujuan penggunaannya. Bagi UKU, teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional, sementara sistem scoring tetap menjadi salah satu lapisan utama dalam menjaga kualitas pembiayaan.
