Kredivo Catat Porsi Kredit Produktif Tembus 54,3%, Kontribusi ke PDB Capai Rp 33 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Kredivo Finance Indonesia (Kredivo) mencatat, kenaikan kredit untuk kebutuhan produktif sepanjang 2025. Tercermin dari porsi kredit produktif yang disalurkan mencapai 54,3% pada 2025, naik 52,3% pada 2019.
Head of Marketing Kredivo Indina Andamari mengungkapkan, paylater menjadi titik awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansialnya.
“Fokus kami adalah memastikan akses tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui edukasi, inovasi produk, dan praktik penyaluran kredit yang prudent,” ujarnya, dalam Konferensi Pers Peluncuran Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo 2026, di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Sejalan dengan peningkatan kredit produktif, jumlah pengguna yang memanfaatkan pembiayaan sebagai modal usaha juga melonjak. Dalam periode 2019 hingga 2025, jumlah pengguna Kredivo yang menggunakan kredit untuk kebutuhan modal usaha tercatat meningkat 15 kali lipat.
Di kesempatan yang sama, Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) Paksi Walandouw menilai, perkembangan itu menunjukkan kredit digital mulai bergeser dari sekadar instrumen untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.
“Hal ini didukung oleh meningkatnya literasi keuangan dan praktik manajemen risiko yang prudent. Dengan pondasi tersebut, kontribusi kredit digital terhadap perekonomian nasional memiliki ruang tumbuh lebih luas, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal,” katanya.
Baca Juga
Kredivo Catat 54% Pembiayaan Disalurkan untuk Kebutuhan Produktif
Selain mendorong pembiayaan produktif, Kredivo juga sukses berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, aktivitas Kredivo berkontribusi sekitar Rp 33 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Nilai tersebut hampir 10 kali lipat dibandingkan kontribusi pada 2019. Dampak ekonomi juga terlihat pada sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Sebanyak 96,9% peminjam modal usaha melalui Kredivo merupakan pelaku usaha mikro. Dari kelompok tersebut, sekitar 34% tercatat mengalami peningkatan omzet antara 10% hingga 40%.
Paksi mengatakan, akses pembiayaan bagi pelaku UMKM tak hanya membantu memenuhi kebutuhan modal, tapi juga berpotensi mendorong ekspansi usaha dan peningkatan aktivitas ekonomi.
Di lain sisi, perluasan akses kredit melalui Kredivo juga menjangkau kelompok yang selama ini relatif sulit memperoleh pembiayaan formal. Pada 2025, jumlah pengguna yang mendapatkan akses kredit pertamanya melalui Kredivo meningkat 10 kali lipat dibanding 2019.
Dari pengguna yang memperoleh akses pertama tersebut, 48% merupakan perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun. Sebanyak 23% pengguna juga menyatakan Kredivo membantu mereka mendapatkan akses ke layanan kredit formal lainnya.
Untuk segmen UMKM, sekitar 40,6% peminjam modal usaha memperoleh akses kredit usaha pertamanya melalui Kredivo.
Baca Juga
Kredivo Soroti Pergeseran Pola Penggunaan Pay Later Kini untuk Belanja Harian
Dari sisi perilaku peminjam, kata Indina, mencatat rata-rata debt to income ratio (DTI) pengguna Kredivo berada di kisaran 10%-19% dari total pendapatan.
Jaringan merchant Kredivo terus berkembang. Jumlah merchant tercatat naik 16 kali lipat sejak 2019 dan kini menjangkau 446 kabupaten/kota, termasuk wilayah tier 2 dan tier 3.
Indina mengatakan, dampak ekonomi menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan bisnis kredit digital. Manfaat layanan tak hanya tercermin dari pertumbuhan penyaluran pembiayaan, tapi juga dari kemampuan pembiayaan yang menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas.
“Mulai dari membantu masyarakat membangun rekam jejak keuangan, mendukung kebutuhan produktif, hingga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah,” ucapnya.
“Ke depan, kami akan terus berupaya memperluas dampak tersebut secara bertanggung jawab, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ekosistem keuangan Indonesia,” sambung Indina.
