Bank Mandiri: Ketidakpastian Global Tinggi, Ekonomi Indonesia Tetap Resilien
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perekonomian global pada semester II-2026 masih menghadapi tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi seiring berlanjutnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan volatilitas harga energi dan pasar keuangan dunia.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi mengatakan, tekanan tersebut tercermin dari harga minyak Brent yang pada akhir Agustus 2026 kembali bergerak di sekitar US$ 90 per barel.
Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,7%, sehingga tekanan inflasi masih membayangi perekonomian global.
Kondisi tersebut turut meningkatkan kembali ekspektasi terhadap kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global tetap tinggi.
“Namun demikian, satu hal yang juga penting untuk kita lihat bahwa perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang baik di tengah tantangan global tersebut,” ujar Ari dalam Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Kamis (3/9/2026).
Ekonomi nasional pada kuartal II/2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy), sehingga secara kumulatif pertumbuhan pada semester I/2026 mencapai 5,45%.
Baca Juga
Bank Mandiri Perluas Akses Kerja Inklusif bagi Generasi Difabel
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang permintaan domestik, termasuk investasi dan konsumsi pemerintah. Konsumsi pemerintah bahkan tumbuh 15,97% (yoy) pada kuartal II-2026, sejalan dengan implementasi berbagai program pembangunan dan belanja prioritas.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga mulai mengalami moderasi setelah mencatatkan pertumbuhan tinggi pada kuartal sebelumnya. Berdasarkan Mandiri Spending Index, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 6,1% (yoy) pada kuartal II-2026 dan sekitar 5,8% (yoy) pada periode Juli-Agustus 2026.
Dari sisi harga, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% (yoy) atau sejalan sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%. “Kondisi ini tentunya memberikan fondasi yang cukup positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan,” sambung Ari.
Meski dinamika global masih memberikan tantangan, dia menilai masih terdapat sejumlah perkembangan yang sangat konstruktif di Indonesia. Menurut Ari, tekanan terhadap neraca pembayaran mulai mereda, dengan defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sekitar US$ 900 juta pada kuartal II-2026, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$ 9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.
Namun dia tak memungkiri bahwa transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, terutama dipengaruhi peningkatan impor migas akibat kenaikan harga energi, serta impor nonmigas untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Tekanan tersebut kemudian tertahan oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar US$ 12 miliar yang ditopang masuknya investasi langsung maupun investasi portofolio.
Dari sisi pasar valuta asing, Rupiah juga dianggap mulai menunjukkan perbaikan setelah sebelumnya mengalami tekanan. Nilai tukar Rupiah pada akhir Agustus 2026 ditutup menguat 1,56% dibandingkan bulan sebelumnya.
Perkembangan tersebut turut memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga kebijakan. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026, BI mempertahankan BI Rate pada level 5,75%.
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Salurkan KUR Rp 25,63 Triliun, 56.043 Debitur Naik Kelas
Ari pun menilai, koordinasi kebijakan menjadi semakin penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi, kecukupan likuiditas, dan keberlanjutan fungsi intermediasi perbankan.
“Kami melihat memang koordinasi kebijakan menjadi semakin penting dalam kondisi saat ini. Sinergi antarpemerintah, kemudian Bank Indonesia, OJK, LPS, serta industri keuangan diperlukan,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, fundamental industri perbankan juga diklaim masih terjaga. Pertumbuhan kredit perbankan pada Juli 2026 mencapai 13,58% (yoy), melanjutkan akselerasi dari 12,67% (yoy) pada Juni 2026. Pertumbuhan terutama didorong oleh pembiayaan ke sektor produktif, khususnya kredit investasi.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) pada Juni 2026 tumbuh lebih cepat yakni 10,21% (yoy) dan mendorong loan to deposit ratio (LDR) industri meningkat menjadi 88%.
Kinerja Bank Mandiri
Pada saat yang sama, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan intermediasi yang lebih tinggi dibandingkan industri. Penyaluran kredit bank only per Juni 2026 mencapai Rp 1.592 triliun atau tumbuh 19,9% (yoy) melampaui industri.
Pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh peningkatan DPK bank only yang mencapai Rp 1.710 triliun atau tumbuh 17,1% (yoy), yang juga atas industri.
Kinerja intermediasi tersebut turut menopang profitabilitas Bank Mandiri. Sepanjang semester I-2026, perseroan mencatatkan pendapatan Rp 60,7 triliun atau tumbuh 10,3% (yoy) dengan laba bersih konsolidasi mencapai Rp 30,4 triliun yang meningkat 24,4% (yoy).
Melihat keseluruhan perkembangan tersebut, Ari menyimpulkan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap konstruktif meski kondisi global masih menuntut kewaspadaan. Pasalnya, permintaan domestik, investasi, program pembangunan, dan intermediasi perbankan dipercaya masih mendukung aktivitas ekonomi.
“Dengan kekuatan wholesale banking, jaringan ekosistem yang luas, kapabilitas digital, serta komitmen terhadap sustainable finance, kami akan terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi nasabah, masyarakat, dan perekonomian Indonesia,” tutupnya.
