Bank Mandiri Menilai Ekonomi Indonesia Tetap Resilien
JAKARTA, investortrust.id – Tim ekonom Bank Mandiri menilai bahwa perekonomian Indonesia masih tangguh dan tahan banting (resilien) meski diselimuti dampak terkini dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bank Mandiri memprediksi ekonomi Indonesia tahun ini tumbuh 5,06%, sedikit lebih tinggi dari prediksi terbaru IMF sebesar 5%.
“Kami melihat ada beberapa risiko eksternal yang mungkin memengaruhi ekonomi Indonesia dalam rentang waktu 2024 dan 2025,” kata Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro dalam review-nya, Kamis (18/4/2024).
Andry Asmoro menyebutkan, inflasi global dalam tren menurun tetapi menghadapi risiko naik karena lonjakan harga minyak akibat konflik Iran-Israel. Akibatnya, bank sentral global termasuk Federal Reserve, mungkin akan menghindari pemotongan suku bunga terlalu cepat.
“Ketidakpastian yang meningkat telah menyebabkan volatilitas baru-baru ini di pasar keuangan. Arus modal keluar terutama dari pasar obligasi Indonesia menimbulkan tekanan pada nilai tukar,” ujarnya.
Andry mengingatkan, peningkatan harga minyak yang persisten dapat menimbulkan beban tambahan bagi kondisi fiskal. Dalam konteks ini, pemerintah memiliki beberapa opsi, yaitu memperluas subsidi bahan bakar, memilih skema kompensasi yang berkoordinasi dengan BUMN Energi, atau meneruskan dampaknya ke harga bahan bakar domestik. “Opsi terakhir akan menyebabkan inflasi meningkat,” ucapnya.
Itulah sebabnya, dalam situasi krisis seperti ini, koordinasi kebijakan yang baik sangat penting. Langkah-langkah kebijakan harus berfokus pada stabilitas untuk meminimalkan dampaknya terhadap ekonomi secara keseluruhan.
“Sampai saat ini, kami masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 5,06% untuk tahun 2024 dan 5,16% untuk tahun 2025,” tegas Andry.
Baca Juga
Terbitkan Laporan Surveillance Perbankan, OJK Sebut Ekonomi Indonesia Tumbuh Kuat
Pasar Obligasi
Sementara itu, di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali naik di atas ambang batas 4,6%, mendekati puncak lima bulan sebesar 4,67% pada tanggal 16 April karena serangkaian data ekonomi yang kuat mendukung pandangan hawkish Federal Reserve.
Indikator manufaktur lokal AS tak terduga naik untuk mendukung momentum sektor dari indeks manufaktur (PMI) yang kuat pada bulan Maret. Hal ini menyusul laporan penjualan ritel yang memuaskan, memberikan kelonggaran bagi Fed untuk menahan diri dari kebijakan pelonggaran dalam waktu dekat.
Adapun imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun (denominasi rupiah) turun sebesar 1,10 bps menjadi 6,93% (atau naik 40,6 bps ytd). Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS 10 tahun (INDON) turun sebesar 6,60 bps menjadi 5,41% (tapi naik 59,5 bps ytd).
Kepemilikan asing dalam obligasi pemerintah per tanggal 5 April 2024 mencapai Rp 807,2 triliun atau 14,1% dari total yang beredar. Aliran keluar bersih (outflow) sebesar Rp 3,5 triliun bulan ini, sedangkan aliran keluar bersih ytd sebesar Rp 34,9 triliun.
Rupiah kemarin (18/4/2024) menguat sebesar 0,3% menjadi IDR 16.175/USD (melemah sebesar 5,1% ytd).
Bank Mandiri memprediksi, nilai tukar rupiah hari ini (19/4/2024) kemungkinan akan bergerak di kisaran 16.144 hingga 16.205.
Baca Juga
IMF Revisi Naik Pertumbuhan Ekonomi AS, Euro Turun, Bagaimana Indonesia?

