Permata Bank (BNLI) Cetak Laba Rp 1,72 Triliun di Semester I 2026, Tumbuh 4,48%
Poin Penting
|
JAKARTA. investortrust.id - PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencetak laba bersih Rp 1,72 triliun pada semester I 2026, tumbuh 4,48% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 1,65 triliun. Pertumbuhan tersebut salah satunya didorong oleh pendapatan operasional yang naik 3,3% secara year on year (yoy).
Direktur Utama Permata Bank Meliza M Rusli mengungkapkan, dengan mengoptimalkan dukungan dari Bangkok Bank Group sebagai controlling shareholder, pihaknya terus meningkatkan sinergi dengan menghadirkan peluang nasabah baru, rekomendasi bisnis strategis, serta dukungan layanan yang terintegrasi.
“Kinerja semester I 2026 bukan hanya mencerminkan hasil kinerja yang sehat, tetapi juga menunjukkan kepercayaan dari nasabah, serta kemampuan untuk terus beradaptasi di tengah perubahan yang berlangsung cepat,” ujarnya, dalam jawaban tertulis, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Meliza juga mengklaim, salah satu pendorong pertumbuhan laba bersih Permata Bank juga ditopang oleh kenaikan kredit sebesar 5,3% (yoy) menjadi Rp 171,2 triliun pada semester I 2026. Pencapaian ini mencerminkan konsistensi bank dalam menjalankan strategi bisnis yang berfokus pada pertumbuhan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Di tengah semakin kompleksnya kebutuhan individu maupun pelaku usaha, kami hadir lebih dari sekadar memberikan layanan perbankan,” katanya.
Naiknya kredit, lanjut Meliza, didorong pertumbuhan kredit korporasi sebesar 9,7% (yoy) menjadi Rp 106,4 triliun, serta segmen komersial yang meningkat 5,7% (yoy) menjadi Rp 21,9 triliun pada semester I 2026. Di segmen konsumer, Permata Bank mendukung pembiayaan inklusif dan berdampak sosial, tercermin dari penyaluran kredit usaha kecil menengah (UKM) mencapai Rp 7 triliun, tumbuh 11,8% (yoy).
Baca Juga
Ekonom Bank Permata: Saat Ini Fase Penyesuaian, Bukan Sinyal Krisis
Sejalan dengan itu, rasio kredit macet juga terjaga dengan baik, tercermin dari non performing loan (NPL) gross berada di level 2,1%. Kemudian, loan at risk (LAR) 5,9%. Permata Bank juga mempertahankan NPL coverage dan rasio LAR coverage masing-masing 367,5% dan 128,8%, sebagai langkah konservatif dalam menjaga kecukupan pencadangan terhadap potensi risiko kredit.
Dari sisi penghimpunan dana, Permata Bank menghadapi tantangan yang tercermin dari dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh negatif 0,01%, dari Rp 189,26 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp 189,24 triliun di periode yang sama tahun ini. Bank berkode saham BNLI ini, kata Meliza, juga terus mendorong dana murah, terefleksi dari kontribusi current account and saving account (CASA) sebesar 57,9% dari total DPK.
“Permata Bank secara konsisten menerapkan strategi optimalisasi neraca untuk menjaga posisi likuiditas yang memadai dan optimal. Loan to deposit ratio (LDR) berada pada level yag optimal di 90,3% per akhir Juni 2026, dengan tren yang meningkat dibanding akhir semester I 2025 yang berada di level 85,6%,” ucap Meliza.

