Wamenkomdigi: Peran Sentral AI Pacu Keuangan Syariah Global Menuju US$ 9,7 Triliun
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa kecerdasan buatan (artificialintelligence/AI) memegang peran sentral dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat global. Sektor ini diperkirakan melonjak signifikan dari US$ 5,9 triliun pada 2024 menuju hampir US$ 9,7 triliun pada 2029.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Menara Syariah & INCEIF UniversitySymposium 2026 (MSIUS 3) & MoU antara CFX dan 5 Startup Kripto Syariah di Menara Syariah, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Banten, Rabu (5/8/2026).
"Hadirin sekalian, keuangan syariah global diproyeksikan akan berkembang dari US$ 5,9 triliun pada tahun 2024 menjadi US$ 9,7 triliun pada tahun 2029," ujar Nezar.
Baca Juga
Menteri Agama Tegaskan Potensi Besar Keuangan Syariah: AI Jadi Sarana Optimalisasi Dana Umat
Menurut Nezar, pergerakan industri keuangan syariah kini mengalami transformasi nyata akibat efisiensi AI. Penggunaan teknologi ini mencakup hadirnya asisten virtual cerdas, sistem peringatan dini berbasis machine learning, hingga mekanisme analisis kelayakan kredit melalui pemanfaatan data alternatif.
"AI telah mentransformasi ekosistem ini melalui dukungan lintas generasi, sistem peringatan dini berbasis machinelearning, serta penilaian yang memanfaatkan data alternatif. Namun, potensi terbesar AI bukan sekadar menawarkan kecepatan lebih tinggi dengan biaya lebih rendah," ungkap Nezar.
Lebih lanjut, Nezar menyebut, implementasi teknologi ini terbukti tidak hanya mampu memangkas biaya operasional dan menaikkan efisiensi, melainkan juga efektif memperluas jangkauan inklusi keuangan demi mewujudkan kesejahteraan bersama.
Dalam peta ekonomi syariah dunia, Indonesia mencatatkan posisi yang sangat signifikan. Hingga penutupan tahun 2025, total aset keuangan syariah nasional telah menembus angka sekitar US$180 miliar, mengukuhkan Indonesia dalam jajaran lima kekuatan ekonomi syariah terbesar di dunia.
"Indonesia menutup tahun 2025 dengan aset keuangan syariah senilai sekitar US% 180 miliar, yang memperkuat posisinya di antara lima ekonomi syariah terbesar di dunia," kata Nezar.
Baca Juga
Bangun Ekosistem Aset Digital Syariah, 5 Startup Binaan Menara Syariah Teken MoU dengan CFX
Kendati demikian, Wamenkomdigi mengingatkan bahwa pesatnya integrasi AI wajib berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah sepanjang siklus hidup teknologi tersebut. Pengembangan sistem AI idealnya ditujukan untuk menguatkan maqashid syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, harta, serta kemaslahatan masyarakat secara luas.
Untuk mengawal pengembangan teknologi ini, Nezar menyoroti tiga prinsip utama yang tak boleh diabaikan, yakni transparansi melalui skema explainable AI, keadilan dengan menekan bias algoritma agar tidak mengeliminasi kelompok rentan, dan tata kelola data yang menempatkan data pribadi sebagai amanah yang wajib dijaga.
Ia menekankan bahwa pengambilan keputusan keuangan yang melibatkan AI, seperti penghitungan zakat maupun rekomendasi investasi harus dapat dijelaskan secara terbuka dan transparan kepada masyarakat. Kepercayaan publik terhadap layanan keuangan digital sangat bergantung pada kokohnya tata kelola data ini.
"Kolaborasi antara akademisi, regulator, pengembang teknologi, dan pelaku industri akan memastikan kemajuan teknologi tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang berkelanjutan," tutur Nezar.
