World Bank: Inovasi Asuransi Banjir Perlu Disesuaikan dengan Karakter Risiko, Jangan Sekadar Tiru Negara Lain
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengembangan asuransi banjir tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Setiap negara perlu merancang solusi berdasarkan karakteristik risiko banjir, kondisi pasar, serta tujuan perlindungan yang ingin dicapai.
Senior Financial Sector Specialist in Crisis & DRF World Bank Sumati Rajput mengungkapkan, banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling kompleks untuk dimodelkan karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keterbatasan data historis, kualitas data, hingga dampak perubahan iklim.
Menurutnya, tantangan tersebut membuat pemerintah maupun pelaku industri harus memahami secara tepat jenis banjir yang ingin ditangani sebelum merancang produk perlindungan. Misalnya saja terjadi banjir di perkotaan akibat buruknya sistem drainase, banjir sungai, maupun banjir pesisir.
“Banjir yang berbeda ini seringkali membutuhkan pendekatan pemodelan yang berbeda, itulah mengapa kemampuan di tingkat teknis sangat penting untuk memahami jenis peristiwa banjir sebenarnya yang sedang kita bicarakan,” ujar Sumati, dalam webinar bertajuk Beyond Disaster Response: Leverage the Role of Disaster Risk Financing and Insurance, yang digelar Indonesia Re, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga
Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko, IFG Pangkas 12 Entitas Asuransi dan Penjaminan
Ia menjelaskan, sebelum membangun produk asuransi banjir, pemerintah perlu menjawab beberapa pertanyaan mendasar, seperti siapa sasaran perlindungan yang ingin dicapai, apakah petani, pemilik rumah, aset tertentu atau bahkan untuk memperkuat kapasitas fiskal pemerintah.
Selain itu, perlu dipastikan apakah persoalan yang dihadapi merupakan market gap yakni belum tersedianya produk asuransi banjir, atau market failure yaitu ketika produk sebenarnya sudah tersedia namun tidak mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
“Untuk merancang solusi yang kemudian memberikan insentif pengurangan risiko banjir jangka panjang. Karena pada akhirnya, itulah yang akan membuat banjir dan risiko lainnya lebih mudah dikelola sebagai biaya bagi pemerintah,” kata Sumati.
Baca Juga
Belajar dari Negara Lain
Sebagai contoh, Sumati mengungkapkan Bangladesh baru saja meluncurkan program perlindungan banjir tingkat nasional pertama yang mengkombinasikan dua instrumen, yaitu asuransi banjir pada tingkat pemerintah (sovereign insurance dan community protection fund.
Kedua instrumen itu menggunakan pemicu parametrik berbasis data ketinggian air, genangan, maupun curah hujan, sehingga pembayaran bantuan dapat dilakukan secara otomatis ketika ambang batas tertentu terlampaui. Program tersebut dirancang melindungi lebih dari 100.000 rumah tangga yang tinggal di sepanjang Sungai Jamuna. Dana bantuan bahkan disalurkan langsung kepada masyarakat melalui layanan pembayaran digital.
Menurut Sumati, salah satu kekuatan program Bangladesh adalah memanfaatkan infrastruktur perlindungan sosial yang sudah ada. Daftar penerima manfaat dari Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) digunakan sebagai basis penyaluran bantuan sehingga proses distribusi menjadi lebih cepat dan efisien.
Di lain sisi, ia juga mencontohkan skema Flood Re di Inggris sebagai solusi untuk mengatasi kegagalan pasar asuransi banjir. Dalam skema itu, seluruh perusahaan asuransi berkontribusi melalui pungutan khusus untuk membentuk mekanisme reasuransi yang memungkinkan rumah tangga di kawasan berisiko tinggi tetap memperoleh perlindungan dengan premi yang terjangkau.
Selain menyediakan perlindungan, skema tersebut juga memberikan dana hibah hingga 10.000 pound sterling kepada pemilik rumah untuk meningkatkan ketahanan bangunan terhadap banjir sehingga risiko dapat berkurang dalam jangka panjang
Peluang Indonesia Kembangkan Inovasi Asuransi Banjir
Berkaca dari berbagai pengalaman di beberapa negara, Sumati menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan inovasi asuransi banjir. Namun, ia mengingatkan bahwa desain kebijakan harus diawali dengan pemahaman yang jelas mengenai masalah yang ingin diselesaikan dan karakteristik risiko yang dihadapi.
Yang paling penting, kata dia, adalah memahami apakah kita sedang mengatasi kesenjangan pasar atau kegagalan pasar, menentukan tujuan produk secara jelas, serta melibatkan keahlian teknis yang tepat agar solusi yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, Sumati menjelaskan, risiko dasar tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dalam skema asuransi parametrik. “Yang penting adalah merencanakan bagaimana mengantisipasi hal itu dalam desain solusi anda dan membangun mekanisme pelengkap untuk mengatasinya, daripada mengkhawatirkan hal itu terjadi,” ucapnya.
