Reli Ethereum Berlanjut, Investor Masih Menanti Katalis Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Ethereum (ETH) kembali menguat dan sempat menyentuh level US$ 1.950, tertinggi dalam sekitar tujuh pekan, didorong oleh membaiknya sentimen pasar aset berisiko. Namun, sejumlah indikator fundamental menunjukkan reli tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh peningkatan aktivitas di jaringan Ethereum.
Kenaikan harga ETH sekitar 29% dari level terendah 26 Juni di kisaran US$1.500 memicu likuidasi posisi short senilai sekitar US$62 juta, menandakan banyak pelaku pasar sebelumnya bertaruh pada pelemahan harga.
Penguatan ETH terjadi seiring reli yang lebih luas di pasar keuangan. Menilik data Coinmarketcap, Rabu (22/7/2026) pukul 07.20 WIB Bitcoin kembali diperdagangkan di level 66.620 dan Ethereum ada di US$ 1.942, sementara pasar saham Amerika Serikat menguat setelah investor kembali meningkatkan selera terhadap aset berisiko.
Baca Juga
Inflasi AS Melandai, INDODAX: Sentimen Positif bagi Bitcoin dan Ethereum
Meski demikian, data on chain menunjukkan aktivitas ekonomi di jaringan Ethereum masih relatif lemah. Berdasarkan data DefiLlama, pendapatan mingguan aplikasi terdesentralisasi (DApps) di Ethereum turun menjadi sekitar US$9,8 juta, level terendah sejak September 2024. Sementara itu, volume perdagangan di bursa terdesentralisasi (DEX) juga menyusut menjadi sekitar US$7,2 miliar per pekan.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan harga ETH saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan perdagangan derivatif dibandingkan peningkatan penggunaan jaringan secara organik.
Di pasar derivatif, sentimen memang mulai membaik dibandingkan akhir Juni ketika tingkat pendanaan (funding rate) kontrak perpetual sempat berada di wilayah negatif. Namun, data Laevitas menunjukkan funding rate ETH masih kesulitan bertahan pada kisaran netral 6%–12%, yang menandakan keyakinan pelaku pasar terhadap reli belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, faktor pendukung utama Ethereum berasal dari meningkatnya aktivitas staking. Data StakingRewards menunjukkan sekitar 34% dari total pasokan ETH kini telah di-staking, tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi jumlah ETH yang beredar di pasar sehingga dapat menekan tekanan jual.
Baca Juga
Profit Taking Tekan Ethereum, Tapi Target US$ 2.000 Masih Terbuka
Minat investor institusi juga masih terlihat. Salah satu perusahaan yang disebut terus menambah kepemilikan ETH adalah Bitmine Immersion, yang dilaporkan mengakumulasi lebih dari 156.000 ETH dalam sebulan terakhir.
Meski demikian, analis menilai peningkatan staking dan akumulasi institusi belum cukup menjadi katalis utama jika aktivitas on-chain tetap lemah. Pasar kini menantikan sejumlah katalis baru, termasuk musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, yang diperkirakan akan memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
ETH sendiri masih diperdagangkan sekitar 61% di bawah rekor harga tertingginya yang dicapai pada Agustus 2025, sehingga ruang pemulihan dinilai masih bergantung pada membaiknya permintaan di jaringan Ethereum dan kondisi makroekonomi global.
