Kantongi Pangsa 52%, Produk Tradisional Kini Dominasi Premi Asuransi Jiwa
JAKARTA, Investortrust.id - Produk proteksi murni atau yang biasa disebut produk asuransi tradisional mulai menunjukkan tajinya, setidaknya hingga penghujung 2023. Hal ini tecermin dari dominasinya terhadap total premi secara industri.
Merujuk data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total premi life insurance di 2023 tercatat Rp 177,66 triliun atau tumbuh negatif 7,1% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, premi produk tradisional menyumbang pangsa sekitar 52% atau dengan nilai Rp 92,33 triliun. Angka tersebut meningkat 14,1% dibandingkan periode yang sama 2022 yaitu Rp 80,95 triliun.
“Sepanjang 2023 ini kami melihat adanya pertumbuhan yang konsisten dari produk asuransi jiwa tradisional,” ujar Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon, dalam konferensi pers Paparan Kinerja Industri Asuransi Jiwa 2023, di Jakarta, Selasa (27/2/2024).
Baca Juga
Pertumbuhan premi produk tradisional tersebut sudah terlihat paling tidak sejak 2021. Di tahun itu, premi yang berhasil didapatkan sebesar Rp 74,21 triliun. Tren positif premi produk tradisional terus meningkat pada 2022 yang tumbuh 9,1% menjadi Rp 80,95 triliun.
Sementara itu, untuk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link, premi yang dicatat di tahun lalu sebesar Rp 85,33 triliun atau terkontraksi 22,6% secara tahunan. Dengan torehan premi tersebut, unit link menggengam pangsa sekitar 48% dari total premi secara industri di tahun lalu.
Penurunan ini, lanjut Budi, merupakan dampak dari penerapan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) tentang produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI). Meski begitu, pada kenyataannya nominal premi unit link tidak bisa dibilang kecil. Oleh karena itu, secara langsung maupun tidak, ini menandakan unit link masih mempunyai daya tarik di masyarakat.
Ia yakin, seiring berjalannya waktu, ketika seluruh perusahaan asuransi jiwa telah sempurna dalam melakukan penyesuaian terhadap peraturan tersebut, maka penjualan unit link akan kembali prospektif ke depannya.
“Maka akan semakin meningkat juga minat masyarakat terhadap produk tersebut khususnya di kalangan masyarakat yang membutuhkan fitur proteksi sekaligus investasi,” kata Budi. (CR-13)

