Bos BTN (BBTN) Ungkap Transformasi Menyeluruh Sejak 2019, Tata Kelola dan Digitalisasi Jadi Kunci Perbaikan
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) mengungkapkan transformasi besar-besaran yang dilakukan sejak 2019 berhasil mengubah tata kelola, proses bisnis, hingga layanan digital. Transformasi tersebut difokuskan pada penguatan manajemen risiko, perbaikan kualitas kredit, serta peningkatan efisiensi kepada nasabah.
Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu mengungkapkan, sejak awal proses transformasi, pihaknya menempatkan aspek manajemen risiko sebagai fondasi utama agar perubahan berjalan dengan tata kelola yang baik.
“Apa yang kami lakukan sejak tahun 2019 hingga sekarang, pertama prinsip yang kita pegang adalah proses transformasi di BTN yang kita lakukan adalah perubahan transformasi juga dikawal oleh direktur risk. Kekhawatiran kita tata kelola, karena BTN itu bermasalah tahun 2019, dan kita benahinya benar-benar serius,” ujarnya, dalam acara Risk and Governance Summit (RGS) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga
BTN (BBTN) Catat Lonjakan Nilai Transaksi QRIS 170% Jadi Rp 9,52 Triliun di Semester I 2026
Menurut Nixon, persoalan yang dihadapi BTN pada 2019 terutama bersumber dari lemahnya tata kelola di sektor perkreditan. Karena itu, manajemen melakukan program turnaround secara menyeluruh untuk memperbaiki fundamental secara keseluruhan.
Sebagai bagian dari perubahan tersebut, lanjutnya, BTN menetapkan visi menjadi ‘Best Mortgage Bank in Southeast Asia’, sejalan dengan fokus perseroan sebagai bank yang memiliki bisnis utama pembiayaan rumah atau kredit pemilikan rumah (KPR).
Untuk mendukung target tersebut, bank berkode saham BBTN ini melakukan restrukturisasi organisasi, mulai dari kantor cabang, kantor cabang pembantu (KCP), hingga pembentukan commercial business center (CBC) yang dipisahkan dari kantor cabang. Selain itu, berbagai fungsi bisnis dibentuk menjadi strategic business unit (SBU) agar proses pengambilan keputusan tidak lagi terpusat di cabang yang sebelumnya menjadi sumber berbagai permasalahan.
Baca Juga
BTN (BBTN) Gandeng BPS Perkuat Program 3 Juta Rumah Lewat Pemanfaatan Data BNBA
Di sisi operasional, fokusnya memusatkan proses persetujuan kredit melalui regional loan processing center (RLPC) yang kemudian berkembang menjadi national loan processing center (NPLC).
“Jadi tiga pilarnya jalan, pembentukan sales center. Jadi kekuasaan di cabang itu benar-benar kita pangkas,” kata Nixon.
BTN juga mengubah strategi ekspansi kredit dengan lebih berfokus pada pembiayaan yang memiliki profil risiko lebih rendah, seperti kredit beragunan rumah, kredit ringan, dan kredit usaha rakyat (KUR) yang dijamin pemerintah.
Selain memperkuat tata kelola, perseroan juga mulai mengakselerasi transformasi digital sejak akhir 2023. Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah digitalisasi pembukaan rekening, baik melalui layanan online maupun di kantor cabang.
Nixon menjelaskan, kini pembukaan rekening di kantor cabang hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit karena seluruh proses dilakukan secara mandiri oleh nasabah melalui sistem digital.
“Jadi bisa sangat cepat dan itu lebih baik. Kenapa? Karena yang melakukannya langsung konsumen, colok KTP, baca Dukcapil, langsung kelihatan terbuka opening account dan dia bisa customize kartu debitnya sendiri. Proses ini memang butuh proses yang panjang, satu tahun lebih kita design untuk mengerjakan ini,” ucapnya.
