Marak Pinjol dan Paylater, Perbankan Perlu Ubah Strategi Dorong Kredit
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan kredit perbankan di awal tahun ini menunjukan tren yang yang menggembirakan. Di sisi bersamaan, semakin banyak perusahaan pinjaman online (pinjol) dan paylater yang secara masif menyalurkan pinjaman ke masyarakat. Oleh karena itu, perbankan disebut perlu merubah strategi untuk mendorong ekspansi kreditnya.
Salah satu biro kredit swasta di Indonesia, PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) menilai langkah strategis guna mendorong penyaluran kredit perbankan ialah dengan menyarankan para pemberi dana atau kreditur untuk mulai menyesuaikan strategi penyaluran pinjamannya.
“Ini adalah saat yang tepat bagi industri untuk bergeser kembali dari konsep inklusi keuangan ke pendalaman keuangan (financial deepening),” ujar Direktur Utama CLIK, Leonardo Lapalorcia, dalam keterangan resminya, Rabu (17/4/2024).
Menurutnya, kreditur harus mampu menaikan besaran pinjaman atau ticket size maupun tenor pinjaman yang menyasar pengeluaran konsumtif yang lebih panjang dan pinjaman produktif pada jangka menengah atau panjang dengan tingkat suku bunga primer.
Dikatakan Leonardo, pemberian pinjaman pada sektor rumah tangga dan produktif tercatat tertahan dibandingkan laju pertumbuhan kredit selama empat tahun terakhir. Di sisi yang bersamaan, terdapat pertumbuhan besar dari sektor pinjol dan paylater.
Baca Juga
“Laju perubahan ini seharusnya berpotensi memberi dampak limahan (spill-over) yang jauh lebih besar untuk mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia, dibandingkan dengan kinerja dari pinjaman jangka pendek bernilai kecil yang sangat populer di pasar selama lima tahun terakhir,” katanya.
Merujuk laporan World Bank, lanjut Leonardo, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terus menghadapi hambatan dalam mengakses kredit. Kesenjangan pembiayaan untuk UMKM di negara-negara berkembang diperkirakan mencapai US$ 5 triliun, melampaui pembiayaan UMKM saat ini sebesar 1,3 kali lipat.
”Sehingga sangat penting bagi bank untuk cermat menilai calon peminjam mereka dengan kecepatan dan akurasi yang sama seperti pemberi pinjol serta dapat menawarkan suku bunga yang lebih rendah dan biaya pendanaan lebih murah,” jelasnya.
Oleh karena itu, bank perlu kembali fokus pada pencairan kredit langsung, namun dengan metode penilaian yang lebih canggih guna mengurangi risiko kredit.
“Langkah selanjutnya adalah membuat kredit yang lebih mudah diakses dengan memanfaatkan likuiditas berlimpah di bank, serta mengaplikasikan praktik terbaik pemberian pinjaman yang mutakhir,” ucap Leonardo.

