AllianzReport2026: Pasar Asuransi Indonesia Tumbuh Dua Digit di Tengah Fragmentasi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Allianz Research resmi merilis laporan terbaru bertajuk Global Insurance Report 2026 yang menyoroti dinamika industri asuransi di tengah situasi dunia yang semakin terfragmentasi. Laporan komprehensif ini menunjukkan bahwa meskipun lanskap politik dan ekonomi global mengalami pergeseran, industri asuransi tetap menunjukkan resiliensi yang tinggi.
Secara global, kumpulan premi diperkirakan mampu tumbuh sebesar 7,1% pada tahun 2025 dengan tambahan nilai premi mencapai 456 miliar euro, sehingga total nilai pasar menyentuh angka 6,9 triliun euro. Kinerja mengesankan ini berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan tahunan majemuk selama sepuluh tahun terakhir yang berada di angka 5,6%, sekaligus membuktikan pendorong utama industri ini masih sangat solid.
Sektor asuransi jiwa memimpin sebagai segmen terbesar dengan perolehan nilai premi mencapai 2.861 miliar euro, disusul oleh asuransi umum sebesar 2.320 miliar euro, dan asuransi kesehatan senilai 1.688 miliar euro. Fenomena menarik terlihat pada pasar asuransi kerugian global yang mulai menuju normalisasi dengan pertumbuhan melandai ke angka 3,8 % akibat matangnya siklus harga dan stabilnya inflasi klaim. Wilayah Amerika Utara masih mendominasi pangsa pasar asuransi kerugian global sebesar 52%, meskipun pertumbuhannya melambat menjadi 2,2%. Sementara itu, kawasan Eropa Barat menunjukkan ketangguhan dengan pertumbuhan sebesar 5,3 %, mengungguli wilayah Asia di luar China dan Jepang yang tumbuh moderat sebesar 4,0%.
Pada segmen asuransi jiwa, pertumbuhan global tercatat sebesar 6,9% dengan wilayah Asia secara luas kembali menjadi motor penggerak utama. Pertumbuhan asuransi jiwa di Asia didorong oleh faktor demografi seperti penuaan populasi, tingginya tingkat tabungan masyarakat, serta sistem pensiun publik yang belum sepenuhnya komprehensif, di mana China memimpin lewat pertumbuhan sebesar 11,4 %. Di sisi lain, asuransi kesehatan menjelma sebagai segmen dengan pertumbuhan struktural yang paling menonjol melalui lonjakan sebesar 12,3 % global pada tahun 2025. Penuaan populasi, kenaikan biaya medis, serta tekanan pada sistem kesehatan publik menjadi pemicu utama yang mendorong permintaan proteksi swasta, khususnya di Amerika Serikat yang kini menguasai lebih dari 70 % total premi kesehatan global.
Tantangan terbesar industri saat ini berakar dari meningkatnya fragmentasi geopolitik yang membuat lanskap risiko global menjadi jauh lebih kompleks serta menantang model bisnis lintas negara. Terkait kondisi ini, Chief Economist dan Chief Investment Officer Allianz, Ludovic Subran menyatakan bahwa fragmentasi geopolitik membalik banyak asumsi yang selama beberapa dekade telah membentuk perekonomian global. Menurutnya, seiring perdagangan, arus modal, dan regulasi yang semakin terfragmentasi, ketahanan kini menggantikan efisiensi sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan. Pergeseran tersebut membuat lingkungan operasional menjadi semakin kompleks dan mahal, sehingga upaya untuk mendorong keterjangkauan menjadi semakin mendesak karena yang dipertaruhkan adalah peran strategis asuransi sebagai pendorong investasi, inovasi, dan kepercayaan ekonomi.
Baca Juga
Kiprah Global Reasuransi Indonesia di Tengah Perang Iran vs AS-Israel
Di tengah situasi global tersebut, pasar asuransi Indonesia mengukir prestasi gemilang dengan mencatat pertumbuhan sebesar 11% dan membukukan total pendapatan premi mencapai 15,8 miliar euro atau setara dengan Rp325,1 triliun (1 euro = Rp20.575).
Pertumbuhan dua digit ini mencerminkan semakin relevannya kesadaran masyarakat serta pelaku usaha dalam memperkuat ketahanan finansial mereka untuk menghadapi risiko masa depan. Menanggapi capaian positif ini, Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Alexander Grenz menjelaskan bahwa pertumbuhan industri asuransi Indonesia yang terus berlanjut mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan perlindungan, baik untuk jiwa, kesehatan, maupun aset. Beliau menambahkan bahwa dengan tingkat penetrasi asuransi yang masih relatif rendah, Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan untuk memperluas akses proteksi bagi lebih banyak masyarakat. Alexander Grenz juga menekankan pentingnya menjaga premi asuransi kesehatan agar tetap berkelanjutan dan terjangkau demi memastikan akses jangka panjang terhadap perlindungan yang berkualitas melalui pendekatan ONE Allianz.
Melihat prospek satu dekade ke depan, Allianz Research memproyeksikan pasar asuransi global akan terus bertumbuh sebesar 5,3% per tahun, sedikit berada di atas pertumbuhan ekonomi global. Indonesia diprediksi akan mencatatkan pertumbuhan tahunan total yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 8,2%, mengingat tingkat penetrasi asuransi nasional saat ini masih berada di angka 1,3 % terhadap produk domestik bruto. Secara spesifik, pertumbuhan asuransi kerugian di Indonesia diperkirakan mencapai 7,3 %, asuransi jiwa sebesar 7,9 %, dan asuransi kesehatan akan menjadi segmen paling dinamis dengan proyeksi pertumbuhan tahunan mencapai 12,9%.
Secara absolut, total premi global dalam sepuluh tahun ke depan diproyeksikan meningkat sebesar 5.260 miliar euro dengan kontribusi terbesar berasal dari asuransi jiwa yang menyumbang 1.991 miliar euro. Lebih dari separuh tambahan premi asuransi jiwa tersebut akan dihasilkan di kawasan Asia yang lebih luas dengan nilai mencapai 1.004 miliar euro, mengungguli gabungan wilayah Amerika Utara dan Eropa Barat. Pergeseran peta industri ke arah timur ini semakin diperkuat oleh India dan China yang diperkirakan akan menambah hampir 4 % pangsa pasar global hingga tahun 2036. Sebaliknya, Amerika Utara diproyeksikan stabil mempertahankan sekitar 46 % pangsa pasar global, sementara Eropa Barat diperkirakan akan terus mengalami penurunan bobot relatifnya dalam satu dekade mendatang.
