Hadapi Fragmentasi Global, Ekonom SEACEN Tekankan Independensi Bank Sentral dan Aturan Fiskal yang Ketat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Direktur Makroekonomi dan Kebijakan Manajemen Moneter South-East Asian Central Banks (SEACEN), Donghyun Park, mengingatkan tentang dampak fenomena fragmentasi global yang terjadi sejak 2008. Fenomena ini dinilai terus memengaruhi dinamika perekonomian di tingkat internasional.
"Indikator yang dikembangkan menunjukkan arah perdagangan, arus keuangan, mobilitas, dan politik mengarah ke fragmentasi, bukan integrasi; menuju deglobalisasi, bukan globalisasi," kata Park, saat Biennial Policy Conference 2026, Asia-Pacific Central Bank Conference, dipantau daring, Kamis (27/8/2026).
Park menjelaskan bahwa di tengah fragmentasi global ini, terjadi peningkatan rasio utang publik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Peningkatan utang publik ini dapat berimplikasi buruk terhadap keberlanjutan fiskal dan kebijakan moneter.
Dalam penelitian yang dikembangkan SEACEN, fragmentasi global memang memperparah kondisi ekonomi global. Akan tetapi, aturan fiskal yang ketat dapat mengurangi dampak negatif dari tekanan fragmentasi tersebut.
"Negara-negara yang memiliki aturan fiskal baik mengalami penurunan PDB yang lebih kecil," kata dia.
Baca Juga
Eks Menkeu Sebut Alarm Penuaan Populasi Indonesia Mulai Berdering
Park melihat bahwa dampak aturan fiskal yang dominan ini harus disertai dengan independensi bank sentral yang mumpuni.
"Adanya independensi bank sentral semakin memperkuat dampak mitigasi dari aturan fiskal," ujar dia.
Park mengatakan independensi bank sentral merupakan proksi untuk kebijakan moneter yang sehat. Sementara itu, aturan fiskal yang ketat menjadi pendamping bagi kebijakan fiskal yang sehat.
Berdasarkan analisis empiris SEACEN, Park menjelaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang sehat akan memberikan manfaat bagi perekonomian pada era ketidakpastian global yang semakin tinggi.
