Rampungkan Migrasi Core Banking, BSI (BRIS) Klaim Dorong Efisiensi Operasional hingga 80%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) mengklaim transformasi sistem teknologi informasi (IT), termasuk migrasi core banking dari platform R10 ke R24 berhasil meningkatkan efisiensi operasional hingga sekitar 80%.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan, transformasi teknologi merupakan kebutuhan strategis seiring meningkatnya digitalisasi industri keuangan dan semakin besarnya skala bisnis BSI yang kini telah masuk jajaran lima bank terbesar di Indonesia.
“Ekspektasi nasabah adalah layanan, sistem harus sama dengan bank besar. Untuk itu, kami berupaya menyediakan layanan setara sesuai ekspektasi nasabah,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga
Sambut Baik Penempatan Dana SAL, BSI (BRIS) Siap Perkuat Pembiayaan Produktif dan UMKM
Menurut Anggoro, migrasi core banking yang rampung pada pertengahan Mei 2026 menjadi salah satu proyek transformasi teknologi terbesar yang pernah dijalankan BSI. Proyek itu melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi dan dilaksanakan secara bertahap melalui sejumlah tahapan uji coba (rehearsal).
Seluruh proses migrasi tersebut juga telah melalui pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Danantara guna memastikan implementasi berjalan aman, terkendali, dan sesuai prinsip tata kelola serta manajemen risiko.
Anggoro menyebut, transformasi tersebut tak hanya memangkas waktu proses operasional, tapi juga mempercepat proses close of business (COB) serta meningkatkan kapasitas sistem untuk mendukung pengembangan produk dan ekspansi layanan digital.
Saat ini, tingkat ketersediaan (availability) seluruh kanal layanan BSI telah mencapai 99,99%, sehingga transaksi melalui kanal digital maupun jaringan kantor cabang dapat berlangsung lebih lancar.
“Ruang untuk menumbuhkan nasabah, inovasi untuk fitur baru di BYOND sangat luas karena kapasitas terpakai masih di bawah 10%. Nasabah akan merasakan manfaat dari kekuatan dan kecepatan IT BSI yang baru,” kata Anggoro.
Baca Juga
Transformasi IT tersebut juga menjadi bagian dari strategi BSI untuk mencapai target sebagai salah satu dari lima bank syariah terbesar di dunia serta merih 40 juta nasabah pada 2030.
Dalam setahun terakhir, BSI juga memperluas model bisnis melalui dual licence sebagai bank syariah dan bank emas. Menurut Anggoro, kehadiran layanan bank emas menjadi sumber pertumbuhan baru yang memungkinkan perseroan menjangkau segmen nasabah yang sebelumnya belum tergarap.
“Bank emas menjadi engine baru kami menggaet segmen yang selama ini belum dapat kami jangkau,” ucap Anggoro.
Hingga April 2026, jumlah nasabah BSI telah melampaui 24 juta. Peningkatan tersebut didorong oleh diperolehnya izin usaha bank emas pada Februari 2025 dan perubahan status BSI menjadi persero pada awal 2026 yang memperkuat posisi dalam ekosistem strategis BUMN.
Dari sisi layanan digital, kata Anggoro, BSI terus mengembangkan aplikasi BYOND by BSI untuk segmen ritel dan BEWIZE by BSI untuk nasabah institusi dan wholesale. Hingga Mei 2026, aplikasi mobile banking BSI telah digunakan lebih dari 10 juta pengguna dengan nilai transaksi tembus Rp 450 triliun, sementara BEWIZE juga mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan volume transaksi.
Kinerja itu turut tercermin pada kinerja keuangan. Hingga Mei 2026, BSI membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp 3,39 triliun atau tumbuh 16,73% secara year on year (yoy). Total aset mencapai Rp 444 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 372 triliun, serta pembiayaan Rp 335 triliun dengan kualitas aset yang tetap terjaga.
