Rupiah Bergerak Melemah Didorong Sikap 'Wait and See' Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,02% menjadi Rp 17.797 per dolar AS pada pukul 09.39 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Pelemahan juga terpantau pada sejumlah mata uang Asia dan Eropa. Yuan China melemah 0,11%, ringgit Malaysia melemah 0,27%, peso Filipina juga terpantai melemah 0,15%, dolar Singapura melemah 0,06%, dan baht Thailand melemah 0,12%.
Di Benua Biru, pelemahan euro dan poundstreling Britania Raya masing-masing sebesar 0,01%.
Baca Juga
Konflik Selat Hormuz Mereda BI Optimistis Rupiah Makin Menguat
Meski demikian, terdapat sejumlah mata uang yang masih menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang dan won Korea Selatan masing-masing menguat 0,15%. Rupee India menguat 0,20%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat adanya kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4,75 basis poin menjadi 4,49%.
Di pasar modal, bursa saham AS bangkit setelah aksi jual pada sesi sebelumnya, meskipun proyeksi Federal Reserve menjadi lebih hawkish.
"Investor terus mencermati kemungkinan adanya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini, sementara kenaikan imbal hasil Treasury mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat dalam jangka waktu yang lebih lama," kata Andry.
Baca Juga
Selain Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah, Ini Alasan BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Sentimen risiko juga didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah diberlakukannya perjanjian sementara antara AS dan Iran, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Pasar terus memantau pembukaan kembali selat tersebut secara bertahap serta keberlanjutan perjanjian tersebut.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% dari sebelumnya 5,50%. Kenaikan suku bunga ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah sikap hawkish Federal Reserve yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini, penguatan Indeks Dolar AS (DXY), serta risiko geopolitik yang masih berlanjut. Keputusan tersebut secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sementara itu, di pasar modal, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan penilaian terbaru. Tinjauan terbaru MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek Information Flow karena adanya kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan visibilitas pasar. Tinjauan tersebut menegaskan meningkatnya perhatian investor terhadap transparansi kepemilikan dan integritas pasar menjelang Annual Market Classification Review MSCI pada 23 Juni 2026.
